Kuis #MerahPutihBB AGAIN!!!

Hi, teman-teman!! Nah, kali ini gue akan ngadain dua kuis #merahputihbb sekaligus. Kalian boleh ikut salah satunya atau dua-duanya sekaligus. Nah, sudah siap?????? Beneran sudah siaaaap! Yak, inilah dua kuisnya:

1.#MPBBReporter

Nah, sebagai #MPBBReporter kalian harus:

1. Menemukan dan melaporkan dimana buku merah putih di benua biru terletak di toko buku. Twitpic fotony, mention ke @erdityaarfah dan @bukune dan berikan laporan kalian (jangan lupa juga hashtag ##MerahPutihBBReporter). Misalkan:

‘LAPOR @erdityaarfah dan @bukune, bukunya sudah ada di rak ini nih di Gramedia GI. Wah pasti kembang kempis idungnya liat foto ini #MPBBReporter’

2.Foto kalian dengan buku #merahputihBB bersama orang tua kalian, sodara, atau teman2 di rumah dengan gaya yang paling Indonesia banget. Ini untuk mastiin kalau kalian emang sudah punya buku gw :p (HAHAHA, ketawa monster!)

Jadi harus ada dua foto yaa!!!

Hadiahnya adalah:

A. Lima Kaos dari Hiduplah Indonesia Raya:

B.Hadiah Hiburan – 30 Pin – The Indonesian Virus! (gambar nyusul)

Tujuan dari kuis ini, karena gw sering banget liat buku gw salah naro mulai dari pariwisata (msh gw bisa tolerir), sosial politik (bareng buku2 Hitler, Stalin, dkk), sampai Ensiklopedi -_- . Seharusnya, buku Merah Putih di Benua Biru ada di barisan rak novel/novel remaja. Nah, gw menghargai banget buat kalian yang mau ikut kuis ini dan bantu gw cek ini semua.

2.#ExploreMerahPutihBB
Gw juga mau ngundang 10 orang dari pembaca merah putih di benua biru, untuk main angklung bareng, makan-makan, sama discuss soal menulis dan apapun!!!

Ini khusus untuk Jabotabek dan Bandung. Untuk kota lain, silahkan kalau mau ikut, tapi akomodasi ke Bandung tidak ditanggung (kecuali kalau kalian ke Jakarta dulu. Nah dari Jakarta ke Bandung ditanggung). Caranya:

Buat review merah putih BB di notes facebook/blog kalian.
– Untuk notes di FB, tag ke teman2 kalian dan FB Saya (Erditya Arfah)
– Kalau mau nulis di blog, kirimkan link blog kalian melalui FB atau twitter ke account saya di (Twitter: @erdityaarfah).

Selain gathering, akan ada 20 pin ’The Indonesian Virus’ untuk kalian!!

Note untuk perjalanan pemenang Jakarta-Bandung akan ditanggung dan tanggal gathering akan segera dikonfirmasi. Kira-kira akhir Mei atau Awal Juni!

Gue tunggu kalian sampai Jumat 13 Mei 2011!!!

Thanks guys!!!

1st On-Air: Panggung Merah Putih di Benua Biru

Untuk pertama kalinya saya on-air di stasiun radio, dalam sebuah acara yang disebut The Sound of Movement. Sebuah acara baru dari Oz Radio Jakarta yang dipandu Abenk SoulVibe. Ini yang menyebabkan saya bolak-balik ke toilet untuk melakukan ‘itu’. Woy, jangen ngeressss! Pipis maksudnya! Sedikit katro memang, apalagi sebagai lulusan Komunikasi Unpad yang harusnya terbiasa dengan urusan seperti ini.

Tapi selama 1 jam, saya merasakan suatu momen yang menyenangkan. Excited! Dari beberapa pertanyaan yang masuk, ada salah satu pertanyaan yang saya ingat terus, yaitu:

‘Bisa share inspirasi dan alasan lo melakukan perjalanan ini dan membuat buku Merah Putih di Benua Biru?’

Saya sudah menjawab saat itu, tapi saya akan berbagi jawaban saya yang lebih detail buat yang belum sempat dengerin. Dan ini Jawabannya:

Saya suka banget nonton Timnas Indonesia di Gelora Bung Karno. Tiap lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh sekitar 80 ribu orang rasanya bergetar! Di atas ‘panggung hijau’ tersebut, 11 pemain timnas berjuang dengan dukungan, nyanyian, tepukan, bahkan cacian. Ya, itu semua adalah bentuk kecintaan kita untuk mereka.

Sayang, saya bukan Bambang Pamungkas. Walaupun rambut saya berponi, tapi saya juga bukan Ahmad Bustomi. Saya juga nggak punya kaki lincah atau wajah ganteng Irfan Bachdim.

Mereka jadi inspirasi masyarakat Indonesia.

Selain para atlet di atas, masih ada para seniman atau pemusik macam Djaduk Ferianto, Trie Utami, Dwiki Dharmawan, atau Alm.Elfa Secioria, yang sering membawa nama Indonesia di kancah Internasional.

Kita juga punya para pelajar jenius yang sudah menjadi juara olimpiade Fisika, Matematika, dan sebagainya. Banyak pula kelompok pelajar yang memenangi kompetisi tari, seni, atau musik di berbagai kompetisi level dunia.

Mereka semua adalah duta Indonesia.

Saya iri.

Saya mau jadi seperti mereka. Walaupun bukan atlet, bukan seniman, bukan penyanyi, tapi saya juga mau membawa nama Indonesia seperti mereka.

Inilah yang akhirnya jadi salah satu alasan saya pergi ke Eropa dan mengajarkan budaya Indonesia di sana, walaupun saya bukan seniman atau budayawan. Selama di sana, saya membuat ‘panggung’ saya sendiri. Panggung yang tentu nggak semegah Gelora Bung Karno.

Tapi saya tetap memiliki semangat positif untuk mengenalkan Indonesia di sana. At least, saya ingin membuktikan bahwa siapapun (orang biasa sekalipun) bisa punya peranan untuk membawa nama Indonesia, walaupun dengan keterbatasan yang banyaknya luar biasa.

Ternyata, para murid di Polandia sangat antusias dengan apa yang saya lakukan. Hal simpel, asal pakai hati, ternyata bisa juga ‘menyentuh’ mereka. Ini yang bikin saya makin mantap buat nulis buku #MerahPutihBB. Apalagi kalau mengingat mata jujur mereka yang begitu amaze-nya main angklung atau senyuman tulus saat bermain drama absurd dengan wayang golek, atau wajah bingung mereka ketika melihat gerakan tari saman atau saat membayangkan mencoba buah durian.

Rasanya sayang kalau cerita ini berakhir di ingatan saya belaka. Selain itu masih ada alasan lain….

Ketika Firman Utina Dkk berlaga di piala AFF, 80 ribu pasang mata, hati, mata dan telinga, bahkan indera perasa pun ikut merasakan setiap momen di lapangan hijau. Belum lagi ratusan ribu penonton lainnya dari layar kaca. Ketika Timnas Indonesia menang, seluruh masyarakat akan merasakan kegembiraan luar biasa. Begitu juga sebaliknya saat kalah.

Saya sadar panggung saya nggak sebesar itu. Di Polandia saya hanya mengajar maksimal 20-30 murid tiap kelas. Walaupun sehari bisa sampai 4-5 kelas, tetap saja sangat jauh jika dibandingkan dengan level atlet Indonesia yang mewakili Indonesia di ajang internasional.

Oleh karena itu, buku ini ibarat ‘alat’ yang memegahkan ‘panggung’ saya. Memperbesar jangkauan ke orang lain, ke pasang mata, kuping, telinga dan hati. Walaupun saya nggak dilihat banyak orang ketika melakukan aktivitas di Polandia, tapi dengan buku ini diharapkan bisa membuat orang lain merasa hadir di sana. Merasakan rasa bangga, gembira, sekaligus terharu yang saya rasakan saat melihat ketulusan mata para murid yang kagum akan Indonesia, walau dengan hal simpel sekalipun.

Dengan buku ini diharapkan, para pembaca terutama anak muda (tanpa perlu saya datang ke tiap sekolah atau universitasnya) bisa merasakan semangat bahwa siapapun bisa menjadi duta bangsa dengan cara yang kita suka dan bisa.

Ya, rasanya aneh kalau membawa nama Indonesia atau menjaga budaya kita yang kaya hanya dibebankan ke para seniman, artis, jenius fisika, atau atlet saja. Itu tugas kita, saya, kamu, kami, semuanya.

Caranya bisa beda, tapi semangat positifnya harus sama. Let’s do it. 🙂

Merah Putih di Benua Biru – Januari 2011 –

Ahaaay! Setelah melalui pertapaan panjang akhirnya novel pertama gue terbit juga! Buku ini bercerita mengenai misi budaya yang gue lakukan selama di Polandia. Gue bukan maestro seni, budaya, musisi, atau apapun. Jadi, banyak kejadian, cerita, dan petualangan yang beda, unik, konyol, dan lucu saat mengenalkan budaya Indonesia ke para siswa di sana.

Ada banyak momen yang bikin gemetar, misal saat ngeliat anak-anak di sana ternyata amaze sama angklung kita. Drama wayang golek yang dilakukan spontan oleh para murid deengan cerita-cerita konyol mulai dari pangeran kodok, Cinderella, sampai perang dunia ke dua. Walaupun masih jauh dari sempurna, gue harap bisa ngebuktiin kalau siapapun (ya kita semua) bisa jadi duta bangsa Indonesia.

Selain itu, masih banyak cerita petualangan bonus yang seru dan konyol di negara Eropa lainnya. Untuk review, bisa juga cek di Good News from Indonesia di: http://bit.ly/eDEqUW

Eniwei, di blog ini juga ada beberapa cerita yang dimasukkan ke buku (tapi tentu yang di blog ini masih ‘mentah’ banget 🙂

Ini juga ada beberapa pendapat dari para Endorser tentang buku Merah Putih di Benua Biru:

‘Saya menikmati novel ini. Dan lebih dari itu, saya bangga ternyata anak-anak Indonesia sangat cinta bangsanya dan berani menunjukkannya kepada bangsa lain. Di novel ini, kita juga bisa lihat kalau anak Indonesia itu ingin menunjukkan kreativitas dan semangat persaudaraan kepada bangsa-bangsa lain. Melalui caranya, Erdit telah membantu tugas saya di bidang kebudayaan. Terima kasih’. Hazairin Pohan (Duta Besar Indonesia untuk Polandia 2004-2009)

‘Usaha Erdit untuk bertualang ke luar negeri justru membuat dia jadi lebih mengenal negerinya sendiri. Tapi bagian terbaik dari buku ini bukan hanya pemahaman tentang Indonesia dan persepsinya di mata dunia, melainkan cara bertutur Erdit yang lucu dan seperti kita sudah kenal lama dengan dia. Sukses untuk bukunya, gue pribadi seneng baca bukunya 🙂 Pandji Pragiwaksono (Presenter TV, Penyiar, Musisi, dan Penulis Nasional.Is.Me)

‘Perjalanan yang menyenangkan. Ada tawa, persahabatan, dan perjuangannya memperkenalkan budaya Indonesia kepada warga negara asing. Buku ini adalah bukti bahwa kata-kata Erdit benar: Siapapun bisa menjadi duta bangsa!’ Alanda Kariza (penggagas Indonesian Youth Conference & Duta Indonesia untuk jaringan Global Changemakers)

Dapatkan di toko buku terdekat mulai pertengahan JANUARI 2011!

Oiya, bakal ada banyak kuis berhadiah buku MERAH PUTIH DI BENUA BIRU dan juga kuis berhadiah kaos dari http://www.hiduplahindonesiaraya.com mulai dari 7 Januari 2011!

Mau ikutan? Update terus di @erdityaarfah dan @bukune guys!

This Story Will Be PUBLISHED!

Saya sudah pulang, tapi petualangan masih belum berakhir. Sekarang petualangan tersebut saya pindahkan ke dalam lembaran-lembaran kertas. Yai, perjalanan dan misi budaya di Polandia dan Eropa ini akan menjadi buku. Jujur, ada sedikit rasa takut. Ketakutan akan ditolak oleh calon pembeli. Bocoran, buku ini akan memiliki angle:


“ GA PERLU KAYA KE EROPA. GA PERLU JADI MAESTRO UNTUK JADI DUTA BANGSA”

Semoga menginspirasi anak muda untuk semakin cinta Indonesia.

Keberuntungan (Kesialan) Adis?

Agustus 2009

Pertemanan itu bagaikan “jembatan” antara kesialan dan keberuntungan. Beruntung punya teman yang super-baik, tapi sial juga punya sahabat yang super-pelit. Tapi, gimanapun dia sahabatmu. Jadi, mau ga mau, harus diterima apa adanya, atau lebih tepatnya seadanya saja. Nah saat ini, saya yang lagi giliran beruntung, sementara si Adis, sahabat saya yang baik, itu lagi kena sialnya.

“Dis, lo dimana?”

“Jogja dit, ada gawean”. Kebetulan dia adalah seorang PR Consultant yang menghandel salah satu perusahaan multinasional besar di Indonesia.

“Wah kebetulan, nitip oleh-oleh kerajinan khas Jogja dong!”, kata saya

“Apaan?”, Nada suaranya memalas.

“Oleh-oleh khas Jogja. Suvenir yang bisa gue bawa ke Eropa dis. Yang murah-murah aja. I Trust You!”

 “Oke, budget berapa dit?”, tanya Adis.

“300 ribu!”

klik.

Seminggu pun berlalu semenjak percakapan singkat tersebut.

“Nih semuanya.”, kata Adis sambil menunjukkan barang-barang yang saya minta. 

Selusin pembatas buku cantik berdesain wayang. Dua lusin pensil kayu bertanda wayang kulit kecil di ujung atasnya. Dua lusin tempat pinsil bermotif batik. Wayang kulit Rama-Shinta. Selusin tempat koin kecil. Barang-barang tersebut sudah berpindah semua ke tangan saya.

Semuanya akan berguna untuk workshop budaya Indonesia yang akan saya lakukan di kelas-kelas sekolah Polandia. Saya bisa menggunakannya untuk melakukan praktik bermain wayang atau bahkan suvenir tersebut bisa saya jadikan kuis untuk mengetahui pengetahuan mereka mengenai Indonesia. Mantab!

Thanks dis! Lo jadi sponsor gue kan. Jadi ga perlu gue ganti. Nama lo bakal tercantum nanti di novel gue. DEMI TERSEBARNYA BUDAYA INDONESIA DI EROPAH!”, jelas saya berapi-api.

 “Ahhh kaaan..lo mah..”gerutunya.

Hmmmm, tapi sedikit aneh ya kawan-kawan. Kalau memang sudah tertebak, kenapa dia beliin juga ya?, hehe. Ah, sudahlah. Dia memang baik. Atau memang dia sial berteman dengan saya. Sudahlah,  “ikhlas kan dis?”

Celoteh saya mengenai Celoteh

Celoteh. Mimpi. Doa.

Celoteh. ya, saya gemar bercerita kepada siapa saja. sahabat boleeeh, teman biasa tidak masalaaaah, saudara deket pastiiiinya, orang tua pacar juga kadang-kadang. Bahkan seringkali ke orang yang baru saya kenal lima menit sebelumnya. saya berceloteh mengenai mimpi. terkadang sambil tersenyum, tertawa. terkadang sambil membual. bukan sembarang bualan. karena bualan ini bersatu padu dengan mimpi. dengan angan. dengan asa dan keyakinan untuk bisa menginjakkan kaki di Eropa.

Celoteh ini tidak akan dimulai jika tidak pernah mengingat bualan atau lebiih tepatnya candaan ibu saya ke orang tua teman saya bahwa beliau akan menyekelohkan saya di Jerman (lihat posting berjudul bagaimana saya sampai disini?).

Celoteh dan bualan yang saya ucapkan juga bukan tanpa alasan. saya tidak ingin hidup biasa. saya membual kepada teman saya bukan karena saya ingin sombong . Atau dicap keren karena dengan belajar bahasa Jerman saya bisa mengatakan

“ya saya akan ambil master di Jerman”. ini salah satu contoh dari celoteh saya. Padahal saya tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak.

Saya hanya bersiap diri. Dengan celoteh dan bualan tersebut, otak saya terpacu, hati saya tergerak untuk membuktikannya. Tidak ingin hanya menjadi sekedar angan dan doa. Saya ingin mewjudukannya. Impian saya. Impian orang tua saya agar anaknya lebih darinya.

Seorang teman yang sudah kuliah di luar negeri mengatakan saya tidak realistis. Terlalu bermimpi. Dia mengatakan bahwa hidup itu keras dan manusia harus realistis. Tidak ada yang namanya cinderella story.

Kalau saya boleh membantah, saya akan menjawabnya dengan: Ya bener, hidup itu realistis. tapi bukan berarti jadi pesimis. realistis itu berarti bagaimana menjadikan mimpi Anda menjadi real. Nyata. inilah realistis versi saya. Celoteh saya mengenai mimpi saya telah membius otak saya untuk terus berbuat. Melakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi saya tersebut. Untuk menjadikan saya tidak menjadi sekedar pembual. Untuk menjadikan diri saya tidak sebagai pembohong. Celoteh saya membuat tangan saya bergerak menulis impian itu semua dan menempelkannya di sudut-sudut kamar saya. Temen-temen kampus pun pernah melihatnya.

Celoteh saya juga yang membuat saya sering membuka situs-situs mengenai travelling dan studi di Eropa. Saya tahu ini sulit. Tapi rasanya lebih sulit bagi hati saya untuk mengatakan tidak mungkin. Pertanda saya sudah melampar handuk. Menyerah. Lebih sulit bagi saya untuk mengubur impian saya sejak kecil.

Celoteh memang ajaib. Ditambah dengan sedikit saja optimisme, celoteh impian Anda kepada dua “t” saja, yaitu teman dan Tuhan, akan menjadi mantra ajaib untuk berbuat. melakukan sesuatu. Yang terkadang sejalan dengan mimpi yang kita inginkan, namun seringkali juga seakan tidak sesuai dengan impian yang Anda raih. Berkesan tidak nyambung.

Tapi memang selalu ada jalan menuju suatu tempat. Terkadang lurus tanpa hambatan dan tujuannya sudah keliatan. Seringkali penuh kelokan yang memiliki kejutan-kejutan kecil dan besar di sudutnya. Seringkali bahkan harus memutar jauh ke belakang. Saat Anda memutar atau ke arah lain, mungkin kita heran dan merasa kita salah arah atau tiada hubungannya sama rencana kita.

Tapi Tuhan dan alamnya juga punya rencana. Mungkin Dia ingin kita mengambil “jalan” lain. Terkesan tidak ada hubungannya, tetapi berakhir di muara yang sama. Muara mimpi yang selalu kita inginkan.

Ya, celoteh saya membawa saya berbuat. Melakukan sesuatu. Menemukan dan melalui ke banyak jalan. Jalan yang terkadang nyambung, tidak nyambung, terkesan ga ada hubungannya sama sekali. Tetapi, ya inilah jalan yang telah saya raih. Jalan yang akhirnya membawa saya ke sini. Ke Eropa. Ke tempat saya berdiri saat ini.

Sekarang saya bisa berceloteh kepada teman-teman saya mengenai romantisnya menyusuri jalan panjang bernama Nowy Swiat, kota tua di Warsawa. Indahnya pemandangan kota tua dan istana Wawel di krakow, ditengah lampu-lampu yang menghias suangai vistula. Tragisnya suasana di Auschwitz, sekaan Anda bisa merasakan penderitaan orang-orang di kamp konsentrasi, entah teori Holocaust benar adanya atau tidak. Klimaks di hati saya tercipta saat momen-momen meninggalkan jejak budaya Indonesia beberapa sekolah di Polandia.

Saya pun bisa berceloteh kepada ibu saya bagaimana rasanya menghadiri festival bersejarah Mauerfall 2009 yang memperingati 20 tahun runtuhnya Berlin. Melihat semaraknya festival kecil-kecilan di Mainz dan gedung0-gedung pencakar langit di dekat sungai Rhein yang ,menyusuri kota Frankfurt. Belum lagi ditambah Koelner Dome yang luar biasa.

Saya juga bisa melangkahkan kaki saya guna mengaggumi kanal-kanal di Amsterdam dan Red Districtnya yang menjajakan wanita di kaca-kaca seperti meenjajakan ikan segar di akuarium. Pengalaman fantastis.

Sekarang pun saya bisa berceloteh bagaimana rasanya melihat kotanya para filsuf: Paris. Konstruksi besi yang berdiri di hadapan saya saat ini bukanlah sebuah sutet listrik raksasa. Ya dialah Eiffel, yang kalau malam menjelma menjadi sangat cantik dengan lampu-lampu yang menghiasanya. Bagaikan make up yang menjadikan wanita semakin sempurna. Dan Eiffel hanyalah titik dari banyak yang harus Anda lihat kalau datang ke Paris. Banyak yang jauh lebih indah.

Celoteh saya kepada mereka pun akan semakin membusa mengenai kota mode Milan. Stadion San Sironya, yang selalu saya impikan untuk datangi. Piazza Duomonya yang tidak kalah dengan Notre Dame di Paris, dan sajian Italia asli yang tidak hanya enak, tetapi niiiiiiikmat.

Ya, siapa sangka celoteh ringan kepada orang terdekat, menjelma menjadi langkah-langkah menuju mimpi saya dan celoteh saya mengenai impian yang telah diraih. Jadi, Jangan remehkan orang yang bercerita mimpinya kepada kita. Sikap kita, bisa jadi menentukan nasibnya. Seperti sikap mereka yang membantu saya untuk terus melangkah….

Unity in Diversity: In Action!

Kegiatan ini pun diliput oleh beberapa media lokal setempat. Berikut salah satu liputan yang dibuat oleh media internet sekolah (dalam bahasa Polandia).

Wieczór Kultur – “Unity In Diversity”

Dzisiejszego popołudnia w Zespole Szkół Ponadgimnazjalnych w Radzyniu Podlaskim odbył się Wieczór Kultur pod hasłem “Unity In Diversity” – wieczór podczas którego nasi goście – Fernanda z Brazylii i Chunchen z Chin oraz przybyli na uroczystość studenci z Turcji, Gruzji, Indonezji i Włoch mogli zaprezentować swoje kraje poprzez najbardziej znane obyczaje, tańce czy potrawy. Pokaz ten poprzedziła prezentacja naszego regionu – od historii, architektury, poprzez sławne postacie aż do potraw regionalnych. Wiele z potraw, które zaprezentowano na slajdach można było również spróbować podczas poczęstunku przygotowanego specjalnie na tę okazję. Podczas Wieczoru Kultur można było również obejrzeć dziecięcą grupę taneczną z Woli Osowińskiej oraz posłuchać pieśni ludowych w wykonaniu uczniów ZSP. (Być może byliśmy świadkami zawiązania się nowego zespołu ludowego?)

Fernanda z Brazylii wdzięcznie wykonała ludowy taniec – sambę przy akompaniamancie Dyrektora Szkoły Zdzisława Janusa, zaś Chunchen (Kate) z Chin opowiedziała nam o herbacie. Erditya Nur Arfah z Indonezji zachwycił wszystkich zebranych koncertem na “8 osób”, zaś Nina Pontsulaia z Gruzji tańcem narodowym. Gromkie brawa i owacje towarzyszyły wszystkim, którzy zaprezentowali się przed młodzieżą, nauczycielami, dyrekcją oraz Starostą Radzyńskim Jerzym Kułakiem. Podczas spotkania obecna była również p. Ewelina Jurasz (AIESEC) – opiekun projektu “Enter Your Future”.

sumber.http://promenadazsp.pl/

 

 

 

 

 

Unity in Diversity: My Ultimate Day!

24 September 2009. Saya bercermin di sebuah toilet. Toilet untuk pria tentunya. Saya rapihkan batik lengan panjang berwarna gradasi cokelat dengan bordiran wayang di dada sebelah kanan yang sudah saya kenakan. Batik spesial yang dibuat khusus oleh desainer muda yang satu kantor dengan saya. Tidak gratis, tapi saya mendapatkan diskon khusus darinya. Diskon yang tidak diketahui oleh teman-teman kerja lain yang juga memesan batik padanya. Sssssst,,rahasia yaa,,jangan bilang siapa-siapa!

Sekarang, Saya tinggal mengancingkan ujung lengan kanannya saja. Dan, saya sempurna. Hari ini penting, karena kami, para peserta exchange, diundang untuk tampil dalam acara bertitel Unity in Diversity. Sebuah gelaran spesial yang diadakan oleh Zespol Szkol Ponadgymnazjalnych Radzyniu Podlasikim, salah satu sekolah publik ternama di Radzyn Podlaski, Polandia.

Perbedaan seringkali membuat masing-masing dari kita heran. Saya begitu heran sekaligus kagum dengan wanita bermata hijau. Cantik. Mana ada di Indonesia. Hmmm, ada sih tapi hijau palsu dari soft lens. Sementara, teman-teman saya di sini melongo dan takjub saat pertama kali melihat saya dengan lincahnya makan pakai jemari saya. Ya, di Eropa mana ada, tapi di Indonesia sudah dibiasakan sejak dulu kala. Siapa coba orang Indonesia yang tidak pernah makan dengan jemarinya langsung?

Kita memang terlahir di tempat berbeda, negara berbeda, tradisi berbeda, cara hidup yang berbeda, atau apapun yang seakan memisahkan manusia satu dengan yang lainnya. Tetapi, satu hal yang penting: kita hidup di Bumi yang sama, meski di belahan dunia yang berbeda. Itulah yang menjadikan manusia harus saling menghargai dan sadar bahwa perbedaan itu yang membuat dunia itu menarik dan kaya.

Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh acara ini. Sekolah menengah ini mengundang kami para Exchange Participant, yaitu Fernanda (Brazil), Saya (Indonesia), Nino (Georgia), Chuncen (China), Gork dan Basak (Turki). Tidak ketinggalan, Ewellina (Polandia) yang merupakan penanggung jawab kami pun turut hadir.

Setelah dibuka dengan dua bahasa, Polandia dan Inggris oleh Kepala Sekolah, acara dimeriahkan oleh kelompok tari atau dansa anak-anak Polandia. Mereka memainkan dua koreografi dansa khas Polandia. Satu kata yang bisa saya katakan mengenai penampilan mereka: Luar Biasa. Ya, mereka berhasil menularkan keceriannya kepada para pengunjung acara ini. Semua ikut bertepuk tangan seirama dengan musik yang mengiringi tarian mereka. Walaupun salah satu dari mereka terkadang lupa dengan gerakan tari yang harus dilakukan, tetapi keberaniannya patut diacungi jempol.

Sekarang saatnya kami bernyanyi bersama. Ya, setelah kami dibuat ceria oleh anak-anak tersebut, sekarang atmosfer bertambah hangat dengan penampilan dari kelompok paduan suara sekolah ini. Mengenakan baju tradisional Polandia, mereka menyanyikan beberapa lagu rakyat Polandia. Pengunjung yang memang kebanyakan warga asli kota ini turut hanyut dalam nyanyian-nyanyian tersebut. Sementara, walaupun tidak mengerti sama sekali, kami terutama saya ikut mengeluarkan suara. Untungnya ada bagian dari beberapa lagu tersebut yang hanya humming tanpa lirik. Nah, disitu kami juga beraksi.

haaaa aaah, hooooooo” Kami berteriak. Hasilnya: semua orang menoleh ke arah kami..Kami tidak peduli. Terlanjur asyik nih…..

Ada kejadian lucu ketika paduan suara tersebut tampil. Karena memang dipersiapkan dadakan, seringkali mereka lupa lirik dan akhirnya hanya humming bersama. Disitulah kami dengan senang hati berteriak dan bernyanyi bersama mereka, hehe.

Kemudian, Chunchen (Cina) dan Fernanda (Brazil), melakukan presentasi mengenai negaranya masing-masing. Fyi, sudah seminggu mereka memang bertugas di sekolah ini. Chuncen mengajarkan pengunjung cara menggunakan sumpit, sementara Fernanda mengajarkan tarian samba. Kali ini, dia diiringi musik yang dimainkan langsung oleh Kepala Sekolah. Semuanya goyaaaang, kata Fernanda. Hmmm, goyangannya mampu mengajak para pengunjung terutama para pria yang duduk di barisan depan untuk maju dan mencoba samba dengan Fernanda.  Entah kenapa saya teringat dengan goyangan para penyanyi dangdut yang juga mampu menghipnotis para penontonnya. Tidak ketinggalan, Nino (Georgia) pun menunjukkan tariannya.

Sekarang giliran saya. Inilah alasan saya mengenakan batik dengan rapih-jali. Karena saya akan merepresentasikan Indonesia dalam sebuah acara formal. Saya perlahan maju. Ahhh, semua mata memandang saya. Entah apa yang dipikirkan mereka. Mungkin sebagian dari mereka bertanya-tanya mengenai baju yang dipakai. Sebagian lagi berpikir apa yang akan saya tampilkan. Atau mungkin sebagian besar berkata dalam pikirannya, nah anak ini niih yang tadi ikutan nyanyi teriak-teriak dengan suara fals… Saya tidak ambil pusing dan terus melangkah. Ah, mungkin ini yang dirasakan para selebritis dunia…STOP! Khayalan Selesai..

Setelah berdiri di depan panggung, saya menyapa dengan sap;aan bahasa Polandia. Strategi ini sellau berhasil meluluhkan dinginnya hati orang-orang Polandia. Apalagi ketika saya mengatakan Woda Mineralna, Nie Gazowana (baca-Voda mineralna, Nye Gasovana). Yang artinya, Air Mineral, Tanpa Soda/Gas. Suasana sudah mencair. Saatnya mengeluarkan senjata pamungkas. Saya mengambil box isi angklung dan mengeluarkannya satu persatu. Mereka kembali terdiam. Wajah semua pengunjung tampak heran dengan instrumen khas Jawa Barat ini. Mungkin mereka bertanya-tanya, apakah ini alat musik, Kalau alat musik,lalu bagaimana cara memainkannnya. Atau jangan-jangan ini salah satu senjata pemusah massal khas Indonesia..hehe.

Okay, saya tidak akan membiarkan mereka bingung dan berpikir macam-macam mengenai angklung ini. Setelah saya memperkenalkan alat musik bambu ini kepada mereka, saya meminta 8 orang sukarelawan untuk maju ke depan dan bermain bersama saya.

“8 Volunteers, Please? “, teriak saya.

Hssssssssssssssss..semilir angin baru saja terdengar menampar pipi saya. Suasana hening. Mereka terdiam dan tidak ada yang mau maju. Sulit nih… Akhirnya, saya memanggil Fernanda, Claudio, Gork, Basak, Nino dan Chuncen, Ewellina. Ya, ini sekaligus akan menjadi penampilan kami untuk pertama kali memainkan orkestra angklung bersama. Tapi, tunggu! Kami butuh satu orang lagi. Akhirnya ada satu orang guru yang berani maju dan ikut bersama kami. Formasi sudah lengkap. Let’s Play!

Saya membariskan mereka sesuai dengan tangga nada dasar. Setelah mengajarkan mereka cara menggoyangkan Angklung, saya mulai menunjuk satu-persatu berurutan mulai dari nada Do-Re-Mi-Fa-So-La-Si-Do. Suara-suara dari bambu yang indah dan damai mengalun memenuhi ruangan. Semua fotografer yang hadir langsung mengabadikan momen ini. Baru saja nada Do kecil selesai, tepukan meriah yang panjang dan tanpa henti memenuhi semua ruangan. Padahal, ini hanya latihan cara memainkannya saja. Kami bahkan belum memainkan sebuah lagu satu pun! Kami pun membungkuk layaknya tim orkestra yang handal.

Selanjutnya kami memainkan lagu Julio Igglesias, Fallling in Love with You. Lagu ini memang menjadi andalan saya.  Selain mudah untuk dilmainkan secara dadakan, lagu ini juga dikenal tua dan muda. Abadi. Begitu nada terakhir dari lagu ini dimainkan, bukan hanya tepukan panjang lagi memenuhi ruangan. Tetapi, teriakan More,,More,,More..More..!dikumadangkan dengan kompak oleh semua pengunjung.

Saat itu, saya hanya menunduk hormat kepada mereka. Perasaan haru dan bangga karena telah berhasil mengenalkan budaya Indonesia menggembung di dada saya. Tidak pernah menyangka, permainan angklung yang sederhana ini mampu membuat mereka terkagum.

Oke, saya memenuhi permintaan mereka. Saya akan memainkan lagu lain, tetapi saya ingin pemain angklung yang baru.

“8 New Players, Please??”, tantang saya.

Kalau pada kesempatan pertama mereka malu-malu, sekarang semuanya berebutan untuk maju. Semuanya tunjuk tangan. Bahkan langsung inisiatif maju ke depan, termasuk sang kepala sekolah. Alhasil, bukan 8 orang yang datang, tetapi 12 orang. Dengan terpaksa saya harus memilih 8 orang di antara mereka.

Kami memainkan You Raise Me Up dari Josh Groban. Sempat salah dua nada, tetapi sambutan tidak kalah meriahnya. Nah, sekarang saya malah diusir dari panggung dan turun pangkat menjadi pemain. Salah satu dari mereka, yang merupakan kepala Cultur Center di sini mengambil alih posisi saya menjadi konduktor. Kami pun memainkan salah satu lagu Polandia yang singkat. Semua penonton tertawa. Terakhir, dengan dikomandoi beliau, kami mengalunkan lagu Are You Sleeping..Are You Sleeping..Brother Jhoooon…

Suara indah dari angklung memenuhi ruangan. Tepukan meriah seakan tidak berakhir. Orkestra malam ini akan menjadi kenangan tak terlupakan. Untuk mereka, dan juga bagi saya. Pujian pun berdatangan. Saya merasa bangga menjadi seorang Indonesia dan mengenalkan budaya bangsa pada mereka.

Terakhir, kami makan bersama dengan menu khas Polandia, salah satunya seperti Pierogi,yang merupakan pangsit dengan isi macam-macam. Selain itu, ada nasi goreng oriental buatan Chuncen, dan kue tradisional Brazil buatan fernanda.

Dan …klung..klung..klung..klung..klung…Sang Kepala sekolah pun tidak mau lepas dari angklung yang dipegangnya. Jangan dibawa pulang ya pak!

 

Salju Pertama Polandia

14 Oktober 2009, 07.30 A.M. Terbangun karena rasa dingin teramat sangat. Dua selimut tebal, sweater, kaos, kaos dalem, plus lapisan lemak di tubuh saya seakan tidak sanggup lagi menahan udara yang menusuk. Gulang-guling. Menukik-menikuk. Telentang-tengkurep. Meringkuk-ringkuk. Ga ngaruh. Saya menyerah dan memutuskan untuk bangun. Kemudian melihat jendela. Dan akhirnya saya menemukan alasan mengapa hari ini begitu dingin. Salju. Ya, Salju pertama telah turun di Polandia.

salju pertama

salju pertama

Damn. Pantas saja ruang tamu tempat saya selalu menumpang tidur di rumah Ibu Any & Pak Haris apabila datang ke Warsawa terasa sangat dingin. Jauh Lebih dingin dari biasanya. Salju ternyata telah datang. Tidak diperkirakan. Daun-daun belum sepenuhnya jatuh. Sebagian gugur, sebagian masih menguning, dan sebagian masih berwarna hijau segar. Ya, salju datang tanpa diundang. Sedikit kecepatan dari jadwal seharusnya. Ini baru awal musim gugur, tapi entah mengapa salju telah turun.

Ada beberapa hal yang wajib saya lakukan dan tidak lakukan kalau melihat putihnya salju dan merasakan dinginnya udara seperti ini:

  1. Tidak Mandi. Tidak akan..
  2. Langsung sarapan, kebetulan nasi goreng buatan Mba Idoh sudah siap!
  3. Buat teh panas..dengan gula sedikit.
  4. Megang cangkir berisi teh panasnya..
  5. Melihat ke luar dan merenung.

Ya, merenung. Sama seperti melihat aliran air di sungai, ketika melihat musim berganti pun saya selalu teringat dengan “jatah” waktu saya. Apakah sudah cukup dewasa? Untuk segera menjadi pemimpin yang bisa dipercaya atau untuk menikah, hehe. Sebagian teman-teman saya sudah beranak-pinak sementara saya masih plintat-plintut doyan kentut. Bahkan, atasan saya juga meminta saya belajar menjadi lebih dewasa selama petualangan saya di sini. Dia bilang bahwa pembelajaran diri itu yang terpenting!

Saya masih merenung, apakah yang sudah saya lakukan untuk membantu orang lain. Almarhum ayah saya selalu bilang dengan bijak: Bergunalah buat orang lain, jangan banyak meminta. Putihnya salju mengingatkan saya akan momen menyedihkan saat pertemuan terakhir kami di Bandara. Ketika itu dia mau berobat di Cina karena kanker. Dan meninggal di sana. Beliau cium pipi saya, kanan dan kiri, kemudian jidat saya, dan memeluk saya. Beliau menangis. Ya, mungkin belia tahu, ini akan menjadi pertemuan terakhir. Beliau sadar kalau dia akan dijemput oleh DIA yang Maha Kuasa.

Tapi itulah yang menjadi titik awal saya berani bermimpi. Mimpi apapun. Dari mimpi meraih sukses, bisa travelling, menikahi wanita idola, bikin buku, sampai kuliah lagi di luar negeri suatu saat nanti dan menjadi fondasi kuat untuk kehidupan orang lain.

Kesuksesan yang cara meraihnya dan hasilnya merupakan versi “sukses” saya sendiri. Bukan “sukses” versi almarhum bapak saya. Atau bahkan Ibu saya. Jalan sukses yang paling saya yakini benar, karena saya tidak mau menyalahkan orang tua saya kalau ternyata jalan yang beliau pilih ternyata salah. Tapi, saya juga tidak buta. Kalau memang saran beliau, saudara, teman, sahabat dan siapapun ternyata memang saya pikir baik untuk saya jalani, maka akan saya lakukan.

Maaf jika tulisan ini terlalu pribadi. Tapi, suasana ini menegur saya yang terkadang lupa untuk tetap teguh menjalani apa yang saya yakini di masa depan nanti.

Sekarang saatnya saya keluar dari renungan saya dan mencoba rasanya:

AYOOO MEMAKAN DAN MENJILAT SALJU!

Petualang Dadakan: Menyihir Kambing!

Dari yang tidak serius, serius, tidak serius, serius.

Pelajaran di SD Serniki telah usai. Satu hari saja. Bahkan, hanya 3 jam kurang dikit. Tapi, tiga jam itu telah menggoreskan kenangan seumur hidup. Takkan terlupakan. Buat anak-anak itu. Juga, buat saya. Tapi, hari ini belum usai. Masih ada bonus lebih untuk menambah hari ini.

Ya, hari ini memang nasib kami sungguh baik. Entah doa apa yang diucapkan oleh ibu saya di Indonesia. Rasanya, keberuntungan tidak mau hilang jua. Hari ini, kami diundang untuk datang ke sebuah Ranch yang terletak di Serniki. Kalau biasanya pengunjung harus bayar, kami akan mendapatkan tarif istimewa: GRATIS.

Kami pun tiba. Kedatangan kami disambut dengan hamparan hijau yang luas. Aroma khas padang rumput dan tanah peternakan terhirup di hidung. Menyegarkan! Membangikitkan jiwa petualang saya yang perlahan tergerus entah kemana. Menghapus kelabu dalam otak saya. Sejauh mata memandang, saya melihat warna-warni agung karya Tuhan. Birunya langit. Silaunya mentari. Hijaunya rumput dan dedaunan. Cokelat tanah. Ahhhhh..Sungguh romantis..

Tidak mau ketinggalan warna merah dari bunga raspberry yang telah ranum. Ranum? Jangan jadi berpikir negatif yaaa, karena kata tersebut! hehe..

Tiba-tiba, di tengah indahnya warna-warni tersebut, muncul Hitam Besar di hadapan saya. Tepat di mata saya. Sempat kaget, karena si warna hitam besar yang ternyata berasal dari dari kaos tersebut diiringi dengan suara berat, serak, dan keras. Ya, dialah bapak Leszek, pemilik Ranch ini. Beliau menyambut sendiri kedatangan kami berempat (Saya, Gosia, Fernanda, Nino).

Tampilannya seperti kombinasi para penunggang motor Harley Davidson yang kerap saya lihat di layar TV. Tubuh besar. Kaos Hitam. Celana Jeans. Tidak ketinggalan topi koboi yang menutupi sebagian rambut peraknya. Plus suara besarnya menjadikan bapak yang satu ini berkesan menakutkan dan tampaknya siap mematahkan leher siapa saja dengan tangan besarnya itu. Tapi, oke saya percaya dengan pria ini. Dia pasti hanya tampilannya saja yang sangar. Mungkin, hatinya juga seromantis lagu Rinto. Halaah, Jadul yaa? Oke, mungkin hatinya selembut hembusan suara vokalis D’Massive! Hehe..Beliau pun langsung membawa kami berkeliling.

Kesan menyeramkan itu tidak bertahan lama. Meluap. Hilang tanpa bekas. Penyebabnya: Ada sesuatu yang lebih menyeramkan dibanding si Bapak Leszek, yaitu burung unta. Ya, inilah pertama kalinya dalam sejarah hidup saya yang hampir 24 tahun, melihat binatang yang satu ini. Ayam raksasa dengan leher panjang. Mereka berlarian menghampiri roti-roti yang tersaji di atas tangan Bapak Leszek dan Gosia. Tampaknya menu yang satu ini menjadi favorit para burung unta.

Suasana sedikit rusuh. Mereka berebutan. Haaah, saya tidak suka dengan binatang ini. Leher panjangnya membuat saya begidik. Bukan apa-apa. Saya sebenernya penyuka leher dan kepala ayam. Bagi saya, bagian tersebut salah satu yang ternikmat. Tapi, melihat leher plus kepala binatang yang satu ini dan membayangkannya tersaji dalam meja makan, rasanya sedikit mengerikan. Oke enoughhh.. sebelum kita mengeluarkan koor suara “Hueeeeek” dan kemudian muntah berjamaah karena imajinasi tidak keruan ini.

**********************

Kandang ayam-ayam leher panjang tersebut ternyata hanyalah gerbang dari peternakan besar ini. Selanjutnya, kami mulai memasuki area peternakan utama. Dari kejauhan saya bisa melihat berbagai binatang ternak. Tidak hanya itu, terdapat juga beberapa delman, kereta seperti di taman mini, mobilo-mobil buggy mini, ontang-anting seperti di dufan dengan kualitas sama dengan taman hiburan dadakan di kecamatan, serta mobil pemadam kebakaran asli lengkap dengan selangnya. .

PEMADAM KEBAKAARAN? DI PETERNAKAN? Buat apaaan di peternakan benda-benda itu? Jangan-Jangan beliau nyiram rumputnya dengan mobil pemadam kebakaran? Wiiiih atau dia membajak ladangnya dengan Delman Eropa Abad 18. Fantastis!

Ide maut yang bisa jadi penemuan terbesar di bidang pertanian & peternakan abad ini. Mungkin bisa mengurangi dampak pemanasan global akibat polusi mesin-mesin pertanian. Pantas diganjar nobel atau penghargaan lingkungan dunia nih. Ahhh, saya langsung bertanya saja ke beliau.

Saya : “Pak, Pak Leszek..Ini Konsep pertanian seperti apa dengan mobilkebakaran dan delman? Mantab nih idenya”….Saya pun masih nyerocos memberi pujian…  

Leszek : Melongoo..1 detik..2 detik..3 detiiik Tetap melongo..Kemduain “Hahahahahaa”..

Ya, singkat cerita ternyata jawabannya ternyata tidak ada hubungannya benda tersebut dengan teknologi tani atau ternak. Saya memang terlalu suka berkhayal. Areal ini ternyata tempat bermain anak-anak. Dia memiliki misi mulia. Dengan menambah berbagai fasilitas-fasilitas permainan sederhana, namun cukup menyenangkan ini, Beliau ingin anak-anak yang datang menjadi fun dan akhirnya bisa mencintai kehidupan bertani dan berternak. Ya, mungkin beliau tidak jadi dapat nobel atau apapun berkaitan dengan bidang pertanian & peternakan. Tapi beliau dapat award khusus dari hati saya, hehe. Kami pun langsung berpose dan bermain di areal ini. Fyi, dia dulunya seorang pemadam kebakaran juga ternyata lho…

 **********************

Kami pun segera memanfaatkan areal permainan ini. Seakan memasuki mesin waktu, kami menjelma menjadi anak-anak kembali. Manaiki kereta api mini sambil bernyanyi dan berteriak ketakutan ketika diputar-putar dengan ontang-anting khas dufan dengan kualitas kecamatan ini. Pinggang saya encok rasanya tertekan besi-besi ontang-anting ini. Ya, tapi memang kami yang tidak tahu diri, karena fasilitas ini sebetulnya buat anak-anak, hehee. Pusiiiiing…akibat perputaran 360 derajat dengan kecepatan lumayan cepat. Cukup cepat.

Setelah puas berpose di areal permainan ini, kami pun segera ke area utama peternakan ini, yaitu salah satu istal atau kandang para binatang. Kami pun bersiap bertamu ke rumah para ternak ini.

Saya : Assalamualaikuuuuum dan selamat siang para ternak. Dzien Dobry! (Sapaan formal dalam bahasa Polandia)

Kambing : Mbeeeeeek…

Kuda : Meringkiiiiiiiiikkkk..

Sapi : Mooooooh..

Ayam & Kalkun : Menyambut dengan menggoyangkan leher-lehernya..

Kelinci : Berlompatan tanpa suara.

Ya, dalam satu areal kandang besar aini mereka hidup bersama. Kuda, baik kuda normal dan kuda poni, ayam kampung sampe ayam kalkun, kelinci, sapi-sapi biasa sampai yang berambut gondrong baik yang asli Polandia maupun impor dari Irlandia, domba dan kambing hidup rukun bersama. Damai. Seperti dalam dongeng-dongeng binatang anak kecil. Indahnya kalau manusia bisa hidup seperti ini. Rukun dan damai dalam membagi tanah dari bumi yang sama.

Khalayan tentang Bumi yang damai pun buyar seiring dengan rasa sakit yang menerpa pantat saya. Lumayan sakit rasanya. Ketika saya nengok ke belakang, ternyata sudah ada kambing bertanduk. Sial, ternyata dia yang menusuk pantat saya! Dia seakan menyeringai. Entah ini ledekan atau tanda bahwa dia suka dan menganggap saya wanita pujannya. SIAL! Beraninya main belakang pula…hehe.

Jangan-jangan ini musim kawinnya dia. Tapi, tidak! tatapannya lebih ke sebuah tantangan duel, dibandingkan gejala ternak saat musim kawin. Ya, entah dapat ilmu dari mana saya merasa memahami bahasa binatangnya. Oke, saya terima tantangannya! Saya pun membaca mantra saya dan menakutinya. Seakan tersihir, kambing ini pun pergi. Wiiiih ada gunanya juga jampi-jampi saya. Atau jangan-jangan kambing ini berpikir “Ada juga manusia aneh..ah udalah tinggalin aja dibanding gue jadi kambing aneh juga”..

Sementara Gosia sibuk memberikan makan ayam-ayam bermuka aneh dan kambing-kambing, Fernanda dan Nino asik belajar mengendarai kuda. Kuda Poni. Nino, dengan dress hitamnya itu mengendarai kuda dengan gagah. Hmmm, aga salah kostum sih untuk datang ke peternakan dan mengendarai kuda. Tapi, it’s okelaaaah…Sedangkan Fernanda dengan takut-takut mencoba menaikinya. Ya, wanita Brazil ini ternyata takut binatang. hehehe..

Lucu..Bermain dengan kambing dan binatang lainnya pun menjadi sesuatu yang luar biasa. Sangat menyenangkan. Hmmmm, tapi lebih menyenangkan kalau ternak itu diolah menjadi sate kambing, ayam bakar, gulai daging sapi, atau apapapun,,yummmyyyy. LAPAARRRRRR….

 **********************

Energi kami sekan habis bermain dengan binatang-binatang itu. Semua ternak tampak sudah kenyang dengan makanan yang kami beri. Mereka juga tampak puas karena sudah mendapatkan sentuhan dari wanita-wanita asli Polandia, Georgia, dan Brazil plus pemuda Indonesia. Kami telah berhasil mengimbangi keliaran mereka. Terakhir, kami memberikan makan kepada babi-babi. Hmmm, kalau yang ini kan haram. Jadi, saya ga bayangin dalam bentuk makanan juga sih…

Sekarang kami butuh sesuatu yang tenang dan rileks. Tidak liar dan menguras energi.

“ MENYUSURI SUNGAI dengan perahu saja”, Tegas bapak Leszek Wow, ide bagus. Kami pun langsung setuju. Kami semua segera menuju seungai. Bapak Leszek menyiapkan perahunya. Perahu yang dia buat sendiri. Walaupun terkesan sederhana, tapi rasanya cukup aman. Kabar baiknya, perahu ini pun memanfaatkan mesin. Jadi, kita tidak perlu mendayungnya.

 1…2…3…Brrrmmmmm. Mesin motor dalam perahu telah dinyalakan. Setelah berjuang mengeluarkan dasar perahu dari lumpur, kami pun segera mengarungi sungai ini. Aroma air bercampur dengan daun-daun kering terhirup. Sungguh segar.

Semilir angin berhembus, sementara beberapa pucuk daun gugur dari pepohonan. Sebentar lagi musim gugur akan datang. Musim akan segera berganti. Pertanda arus waktu terus berjalan. Aliran sungai semakin membuat saya berpikir akan aliran waktu yang akan terus maju. terus berubah. Pertanyaan-pertanyaan tentang hidup terlintas. Akan jadi apakah saya? Akan seperti apakah nanti istri saya? Akan mirip siapakah anak saya? Akan masuk surgakah saya? Hufff..waktu selalu bergerak ke depan.

Sejarah saya yang lalu menunjukkan bahwa saya seringkali menyiakannya. Aliran sungai, gugurnya daun, dan angin ini seakan menampar saya dan berkata “Lakukan yang terbaik, Jangan Pernah Menyerah!” YA seperti yang D’massive katakan dalam lagunya Jangan Menyerah, heheehe.

Setelah tersadar mengenai “sang aliran waktu” tersebut, kami pun segera pamit. Sudah cuku petulangan kali ini. Telah banyak kisah dan cerita. Mulai dari burung onta, kambing, permainan yang mengembalikan sisi kanak-kanak kami, sampai menjadi nakhoda di sungai. Terakhir sebelum pamit, kami mencuri Raspberry langsung dari pohonnya, dengan seizin Bapak Leszek. Tapi, kalau minta izin bukan mencuri dong yaaa??

Post Navigation

%d bloggers like this: