Archive for the category “Uncategorized”

#1708MerahPutihBB: Untuk Perbatasan dan Pelosok Indonesia

Misi: 1708 Buku Merah Putih di Benua Biru untuk anak-anak di perbatasan dan pelosok Indonesia.

Hi teman-teman, ada yang sudah tahu mengenai Gerakan Sabantara (@sabantaraUI)? Sabantara adalah komunitas yang aktif bergerak di dalam pengembangan kawasan perbatasan NKRI. Mereka juga berjuang menyalurkan buku-buku ke Rumah Baca dan Rumah Kreatif yang ada di 12 titik Pulau-pulau Terdepan dan Perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (info: http://sabantara.web.id/). Selain Sabantara, sebenarnya masih banyak juga program lainnya yang juga aktif di kegiatan ini, misalnya Indonesia Menyala.

Di daerah pelosok dan perbatasan kekurangan berbagai bahan bacaan berkualitas. Bahkan menurut komunitas Sabantara, beberapa orang yang buta huruf (termasuk orang dewasa) memiliki keinginan kuat untuk belajar membaca, tapi sayangnya masih minimnya buku-buku yang masuk kesana.

Inilah yang jadi awal niat saya untuk membantu dengan buku saya Merah Putih di Benua Biru. Buku tentang misi budaya saya di Eropa yang bertujuan untuk membuktikan bahwa siapapun bisa menjadi duta bangsa. Buat yang belum baca ceritanya bisa cek di blog ini atau GNFI: http://bit.ly/eDEqUW

Niat ini semakin kuat setelah mendengar cerita dari Yunita Ekasari, pengajar muda dari program Indonesia Mengajar di Kabupaten Tulang Bawang Barat Lampung, yang juga pembaca buku saya.
***
From: Yunita Ekasari
To: erditya.arfah@yahoo.com

Saya masuk ke kelas empat. Guru kelas mereka berhalangan hadir saat itu. I think this my opportunity to introduce them what is dream? Ketika saya bertanya ke mereka, mimpi kalian apa? Mereka hanya diam. Mungkin mereka kaget, saya tiba-tiba bertanya tentang hal yg tak pernah mereka tahu sebelumnya. Saya mencari cara agar hal ini bukan menjadi sesuatu yang berat bagi mereka.

And yeaaahhh, I was inspired by you, mereka butuh role model agar pesan yang saya inginkan sampaikan tentang mimpi dan cita-cita bisa “nyantol” dan mereka “ngeh” what is dream and future.

I choose u, karena youu’ve made karya nyata tentang how to make ur dream come true dalam bahasa yang sederhana. Selain itu juga, karena unsur mengajar dalam buku kakak yang menurut saya akan membuat mereka excited. Karena, dari obrolan ringan saya dengan mereka, they interested in teaching so much. Apalagi kakak mengajar budaya Indonesia ke anak-anak yang non-Indonesia.

And they also proud of Indonesia much. They love Indonesia very much.

So, how was their opinion?? After I explain about u, mereka langsung bilang: Kak Erdit hebat ya bu, bisa ngajarin anak-anak asing tentang Indonesia.

coooolll statement dari mereka yang sempat bikin saya speechless.

“Saya juga mau ke eropa bu, bawa bendera merah putih”

“Saya juga mau punya mimpi bu” even though mungkin they still ask what is cita-cita.

Saya benar-benar gak bisa gambarin perasaan haru saat itu.

Entahhhh. I was very happy. When I see, they’ve had dream now.

Thank you for inspiring them. You are their hero.
***

Murid SD di Tulang Bawang Barat dan buku #MerahPutihBB


Seriously, mata saya panas baca tulisan di atas. Mereka bilang saya inspirasi mereka. Padahal, para pengajar muda dan murid-muridnya inspirasi saya, karena bisa jadi mereka memiliki kecintaan yang lebih besar dan tulus kepada Indonesia, dibanding kita (saya) yang hidup di kota besar.

Yes, they are my truly hero.

Dan saya ingin melakukan sesuatu untuk mereka. Anak-anak atau anak muda yang berada di pedalaman dan pelosok Indonesia yang saya yakin juga memiliki mimpi besar untuk Indonesia.

Inilah yang jadi alasan mengapa saya ingin mengirim 1708 buku Merah putih di Benua Biru untuk mereka yang di pelosok dan perbatasan Indonesia. Dan kenapa 1708? Ya, karena buat saya ini adalah kode cita-cita bangsa: 17 Agustus. Saya harap buku ini nanti mampu menjadi bacaan yang baik untuk anak-anak di sana sehingga memiliki semangat, lebih optimis mengejar cita-citanya dan makin cinta Indonesia.

Tapi, dengan keterbatasan dana, tidak mungkin saya bisa membeli sebanyak 1708 buku sendirian, walaupun Saya juga sudah nego ke penerbit saya untuk memberikan diskon sehingga harga menjadi 30000/pcs (harga toko buku: 42.500).

TOTAL DANA YANG DIBUTUHKAN: 1708 X 30000: 51.240.000 (*saya masih nego harga lagi untuk jadi 25 ribu sebenarnya kalau berhasil mereaih total pemesanan minimal 1000 pcs)

Saya mengajak teman-teman, baik yang sudah baca atau belum baca buku saya untuk berkontribusi dan melakukan donasi untuk mewujudkan program ini. Bagi teman-teman yang mau memberikan sumbangan bisa kirim dengan subjek/detail transfer ‘1708 Merah Putih’ ke:

1. BCA No. Rek: 066.2327296 atas nama Erditya Nur Arfah
2. MANDIRI: No. Rek: 1670000279561 atas nama Erditya Nur Arfah


Deadline untuk mengirimkan donasi adalah: 20 Juni 2011.

Semua uang yang terkumpul akan digunakan untuk membeli buku Merah Putih di Benua Biru yang akan disalurkan terutama melalui gerakan Sabantara dan gerakan-gerakan sejenis lainnya yang juga terpercaya. Aliran dana yang masuk akan saya laporkan dengan transparan melalui blog saya ini setiap harinya.

Semoga semua kontribusi dan donasi teman-teman menjadi berkah dan dibalas berkali-kali lipat . Apalagi kalau ternyata menjadi berkah buat murid-murid dan orang-orang di sana. Amin.

Oiya, mungkin ada yang bertanya ‘kenapa harus buku Merah Putih di Benua Biru’? Ga harus kok. Kalau ada yang mau bantu dengan buku lain, bisa juga langsung menghubungi Sabantara atau program lainnya seperti Indonesia Menyala (@Penyala) dan lainnya yang kalian percaya.

Jika ada yang mau bertanya silahkan langsung hubungi saya.

Salam,

Erditya Arfah
@erdityaarfah
erditya.arfah@yahoo.com

Keberuntungan (Kesialan) Adis?

Agustus 2009

Pertemanan itu bagaikan “jembatan” antara kesialan dan keberuntungan. Beruntung punya teman yang super-baik, tapi sial juga punya sahabat yang super-pelit. Tapi, gimanapun dia sahabatmu. Jadi, mau ga mau, harus diterima apa adanya, atau lebih tepatnya seadanya saja. Nah saat ini, saya yang lagi giliran beruntung, sementara si Adis, sahabat saya yang baik, itu lagi kena sialnya.

“Dis, lo dimana?”

“Jogja dit, ada gawean”. Kebetulan dia adalah seorang PR Consultant yang menghandel salah satu perusahaan multinasional besar di Indonesia.

“Wah kebetulan, nitip oleh-oleh kerajinan khas Jogja dong!”, kata saya

“Apaan?”, Nada suaranya memalas.

“Oleh-oleh khas Jogja. Suvenir yang bisa gue bawa ke Eropa dis. Yang murah-murah aja. I Trust You!”

 “Oke, budget berapa dit?”, tanya Adis.

“300 ribu!”

klik.

Seminggu pun berlalu semenjak percakapan singkat tersebut.

“Nih semuanya.”, kata Adis sambil menunjukkan barang-barang yang saya minta. 

Selusin pembatas buku cantik berdesain wayang. Dua lusin pensil kayu bertanda wayang kulit kecil di ujung atasnya. Dua lusin tempat pinsil bermotif batik. Wayang kulit Rama-Shinta. Selusin tempat koin kecil. Barang-barang tersebut sudah berpindah semua ke tangan saya.

Semuanya akan berguna untuk workshop budaya Indonesia yang akan saya lakukan di kelas-kelas sekolah Polandia. Saya bisa menggunakannya untuk melakukan praktik bermain wayang atau bahkan suvenir tersebut bisa saya jadikan kuis untuk mengetahui pengetahuan mereka mengenai Indonesia. Mantab!

Thanks dis! Lo jadi sponsor gue kan. Jadi ga perlu gue ganti. Nama lo bakal tercantum nanti di novel gue. DEMI TERSEBARNYA BUDAYA INDONESIA DI EROPAH!”, jelas saya berapi-api.

 “Ahhh kaaan..lo mah..”gerutunya.

Hmmmm, tapi sedikit aneh ya kawan-kawan. Kalau memang sudah tertebak, kenapa dia beliin juga ya?, hehe. Ah, sudahlah. Dia memang baik. Atau memang dia sial berteman dengan saya. Sudahlah,  “ikhlas kan dis?”

Celoteh saya mengenai Celoteh

Celoteh. Mimpi. Doa.

Celoteh. ya, saya gemar bercerita kepada siapa saja. sahabat boleeeh, teman biasa tidak masalaaaah, saudara deket pastiiiinya, orang tua pacar juga kadang-kadang. Bahkan seringkali ke orang yang baru saya kenal lima menit sebelumnya. saya berceloteh mengenai mimpi. terkadang sambil tersenyum, tertawa. terkadang sambil membual. bukan sembarang bualan. karena bualan ini bersatu padu dengan mimpi. dengan angan. dengan asa dan keyakinan untuk bisa menginjakkan kaki di Eropa.

Celoteh ini tidak akan dimulai jika tidak pernah mengingat bualan atau lebiih tepatnya candaan ibu saya ke orang tua teman saya bahwa beliau akan menyekelohkan saya di Jerman (lihat posting berjudul bagaimana saya sampai disini?).

Celoteh dan bualan yang saya ucapkan juga bukan tanpa alasan. saya tidak ingin hidup biasa. saya membual kepada teman saya bukan karena saya ingin sombong . Atau dicap keren karena dengan belajar bahasa Jerman saya bisa mengatakan

“ya saya akan ambil master di Jerman”. ini salah satu contoh dari celoteh saya. Padahal saya tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak.

Saya hanya bersiap diri. Dengan celoteh dan bualan tersebut, otak saya terpacu, hati saya tergerak untuk membuktikannya. Tidak ingin hanya menjadi sekedar angan dan doa. Saya ingin mewjudukannya. Impian saya. Impian orang tua saya agar anaknya lebih darinya.

Seorang teman yang sudah kuliah di luar negeri mengatakan saya tidak realistis. Terlalu bermimpi. Dia mengatakan bahwa hidup itu keras dan manusia harus realistis. Tidak ada yang namanya cinderella story.

Kalau saya boleh membantah, saya akan menjawabnya dengan: Ya bener, hidup itu realistis. tapi bukan berarti jadi pesimis. realistis itu berarti bagaimana menjadikan mimpi Anda menjadi real. Nyata. inilah realistis versi saya. Celoteh saya mengenai mimpi saya telah membius otak saya untuk terus berbuat. Melakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi saya tersebut. Untuk menjadikan saya tidak menjadi sekedar pembual. Untuk menjadikan diri saya tidak sebagai pembohong. Celoteh saya membuat tangan saya bergerak menulis impian itu semua dan menempelkannya di sudut-sudut kamar saya. Temen-temen kampus pun pernah melihatnya.

Celoteh saya juga yang membuat saya sering membuka situs-situs mengenai travelling dan studi di Eropa. Saya tahu ini sulit. Tapi rasanya lebih sulit bagi hati saya untuk mengatakan tidak mungkin. Pertanda saya sudah melampar handuk. Menyerah. Lebih sulit bagi saya untuk mengubur impian saya sejak kecil.

Celoteh memang ajaib. Ditambah dengan sedikit saja optimisme, celoteh impian Anda kepada dua “t” saja, yaitu teman dan Tuhan, akan menjadi mantra ajaib untuk berbuat. melakukan sesuatu. Yang terkadang sejalan dengan mimpi yang kita inginkan, namun seringkali juga seakan tidak sesuai dengan impian yang Anda raih. Berkesan tidak nyambung.

Tapi memang selalu ada jalan menuju suatu tempat. Terkadang lurus tanpa hambatan dan tujuannya sudah keliatan. Seringkali penuh kelokan yang memiliki kejutan-kejutan kecil dan besar di sudutnya. Seringkali bahkan harus memutar jauh ke belakang. Saat Anda memutar atau ke arah lain, mungkin kita heran dan merasa kita salah arah atau tiada hubungannya sama rencana kita.

Tapi Tuhan dan alamnya juga punya rencana. Mungkin Dia ingin kita mengambil “jalan” lain. Terkesan tidak ada hubungannya, tetapi berakhir di muara yang sama. Muara mimpi yang selalu kita inginkan.

Ya, celoteh saya membawa saya berbuat. Melakukan sesuatu. Menemukan dan melalui ke banyak jalan. Jalan yang terkadang nyambung, tidak nyambung, terkesan ga ada hubungannya sama sekali. Tetapi, ya inilah jalan yang telah saya raih. Jalan yang akhirnya membawa saya ke sini. Ke Eropa. Ke tempat saya berdiri saat ini.

Sekarang saya bisa berceloteh kepada teman-teman saya mengenai romantisnya menyusuri jalan panjang bernama Nowy Swiat, kota tua di Warsawa. Indahnya pemandangan kota tua dan istana Wawel di krakow, ditengah lampu-lampu yang menghias suangai vistula. Tragisnya suasana di Auschwitz, sekaan Anda bisa merasakan penderitaan orang-orang di kamp konsentrasi, entah teori Holocaust benar adanya atau tidak. Klimaks di hati saya tercipta saat momen-momen meninggalkan jejak budaya Indonesia beberapa sekolah di Polandia.

Saya pun bisa berceloteh kepada ibu saya bagaimana rasanya menghadiri festival bersejarah Mauerfall 2009 yang memperingati 20 tahun runtuhnya Berlin. Melihat semaraknya festival kecil-kecilan di Mainz dan gedung0-gedung pencakar langit di dekat sungai Rhein yang ,menyusuri kota Frankfurt. Belum lagi ditambah Koelner Dome yang luar biasa.

Saya juga bisa melangkahkan kaki saya guna mengaggumi kanal-kanal di Amsterdam dan Red Districtnya yang menjajakan wanita di kaca-kaca seperti meenjajakan ikan segar di akuarium. Pengalaman fantastis.

Sekarang pun saya bisa berceloteh bagaimana rasanya melihat kotanya para filsuf: Paris. Konstruksi besi yang berdiri di hadapan saya saat ini bukanlah sebuah sutet listrik raksasa. Ya dialah Eiffel, yang kalau malam menjelma menjadi sangat cantik dengan lampu-lampu yang menghiasanya. Bagaikan make up yang menjadikan wanita semakin sempurna. Dan Eiffel hanyalah titik dari banyak yang harus Anda lihat kalau datang ke Paris. Banyak yang jauh lebih indah.

Celoteh saya kepada mereka pun akan semakin membusa mengenai kota mode Milan. Stadion San Sironya, yang selalu saya impikan untuk datangi. Piazza Duomonya yang tidak kalah dengan Notre Dame di Paris, dan sajian Italia asli yang tidak hanya enak, tetapi niiiiiiikmat.

Ya, siapa sangka celoteh ringan kepada orang terdekat, menjelma menjadi langkah-langkah menuju mimpi saya dan celoteh saya mengenai impian yang telah diraih. Jadi, Jangan remehkan orang yang bercerita mimpinya kepada kita. Sikap kita, bisa jadi menentukan nasibnya. Seperti sikap mereka yang membantu saya untuk terus melangkah….

Post Navigation

%d bloggers like this: