Archive for the category “Jalan-Jalan”

CERITA SETELAH 8 BULAN!

Hari ini saya mendapatkan sebuah mention dari salah seorang follower yang mengatakan bahwa dia terharu sekaligus jadi semangat saat baca postingan tentang ayah saya. Ada dua hal yang saya rasakan. Pertama, saya senang karena tulisan saya bisa ‘menembus’ hati orang lain. Kedua, saya malu! Ya, karena tulisan tersebut adalah salah satu postingan terakhir yang saya tulis. Dan itu sudah hampir 8 bulan yang lalu! 8 BULAN!

Jadi, ngapain aja selama 8 bulan hidup di London?

Yang jelas sih saya kuliah. Setelah hampir 4 tahun bekerja di perusahaan marketing, saya kembali menjadi anak kuliahan. Ini ternyata tantangan yang cukup berat. Alasannya, karena saya mengambil jurusan M.A Marketing Communications, yang masih sangat berhubungan dengan pengalaman kerja dan kuliah S1 dulu. Kadang dengan ilmu dan pengalaman sebelumnya, saya suka tergoda buat merasa ‘sok tahu’. Padahal jelas sok tahu dan merasa pintar adalah awal dari kebodohan, karena akan berujung pada kemalasan buat belajar.

Jadi, saya berusaha untuk menempatkan diri saya kembali di titik ‘nol besar’, di mana saya bisa kembali memenuhinya dengan berbagai ilmu dan informasi yang saya dapat selama kuliah di sini, baik dari dosen maupun buku serta jurnal. Plus, ini juga waktu yang tepat untuk menguji apakah pengalaman dan pelajaran yang saya dapat dahulu masih relevan di masa sekarang.

Alhamdulilah, nilai akademik saya di sini cukup memuaskan. Beasiswa saya pun tetap dipertahankan.

Ya, tapi selama 8 bulan itu nggak selalu serius juga sih. Ada juga beberapa hal absurd misalnya: Salah seorang flatmate saya, entah pemuja setan atau suka berhalusinasi, yang jelas tiap tengah malam dan subuh dia suka seperti kerasukan, persis seperti yang kerasukan setan di film-film bertema Exorcist!

Suaranya bisa tiba-tiba berubah serak kaya nenek-nenek dan kemudian bisa menangis kaya anak kecil yang ketakutan. Gilanya, kamarnya dia persis di kamar saya. Tiap malem itu ngedenger suara aneh-aneh dari kamarnya selama 2 bulan! Dari awalnya takut, sampai akhirnya jadi berani karena kesel sendiri.

Pernah saking kesalnya karena dia ‘kambuh’ jam 3 subuh, saya akhirnya buka kamarnya yang memang sedikit terbuka. Dan dia sedang tergeletak di lantai sambil nangis-nangis seperti orang ketakutan. Nggak lama kemudian, dia pun kami usir. Mudah-mudahan dia tidak dendam dan menyantet atau mem-vodoo kami, hehe.

Okay, sementara segini dulu ya ceritanya. Biar saya lebih semangat update cerita di sini, salah satu teman saya, si Yena, membuatkan desain header buat saya. Katanya, biar saya malu kalau kelupaan ngisi blog ini :D.

Ini saya upload beberapa foto biar bikin sirik sekaligus bikin semangat buat teman-teman yang mau sekolah atau traveling keluar negeri, terutama ke London atau UK.

Foto-foto di atas saya ambil dari beberapa sudut kota London. Terkadang, saat suntuk kuliah pelarian saya emang jalan keliling kota atau sekedar duduk-duduk di taman. Foto terakhir di atas itu diambil dari atas kota Liverpool.

COME ON ENGLAND! (Photo taken by Michele Chang)

Sesekali, kalau ada sisa uang di tabungan, ya saya langsung alokasikan buat nonton bola :D. Ini salah satunya saat saya nonton pertandingan persahabatan antara Inggris dan Belanda.

siap perang! 😀

Hang-Out! (photo taken by Ira Syarif)

Fellow Indonesian! (photo taken by Kemal Falatehan)

Yang paling disyukuri, di sini saya bertemu teman-teman baru. Sesama Indonesia dan Sesama manusia walau dari negara lainnya. Ya, siapa tau aja saya juga menemukan si jodoh saya di sini :D.

Main ke studio Harry Potter!

Di ruang makannya Hogwart!

Coldplay Live at Emirates, London 2012

Coldplay Live at Emirates, London 2012

London itu surga juga buat pecinta seni dan hiburan. Kalau lagi kosong saya sengaja pergi ke museum-museum atau ke eksebisi-eksebisi seni. Kalau bisa cari yang gratis :D. Nah, walaupun banyak menawarkan hiburan, London adalah salah satu kota yang bisa bikin kesepian, terutama saat keuangan lagi seret. Paradoks. Hiburan luar biasa banyak, tapi ga bisa ngapa-ngapain juga. Mahal banget hidup di London :D. Nah, kalau yang dia tas saya ambil saat mampir ke rumahnya Harry Potter dan liat langsung konser kerennya Coldplay! Mudah-mudahan ke depannya masih ada rejeki buat ‘menghibur diri’ di London. Doakan segalanya lancar teman-teman!

Unity in Diversity: In Action!

Kegiatan ini pun diliput oleh beberapa media lokal setempat. Berikut salah satu liputan yang dibuat oleh media internet sekolah (dalam bahasa Polandia).

Wieczór Kultur – “Unity In Diversity”

Dzisiejszego popołudnia w Zespole Szkół Ponadgimnazjalnych w Radzyniu Podlaskim odbył się Wieczór Kultur pod hasłem “Unity In Diversity” – wieczór podczas którego nasi goście – Fernanda z Brazylii i Chunchen z Chin oraz przybyli na uroczystość studenci z Turcji, Gruzji, Indonezji i Włoch mogli zaprezentować swoje kraje poprzez najbardziej znane obyczaje, tańce czy potrawy. Pokaz ten poprzedziła prezentacja naszego regionu – od historii, architektury, poprzez sławne postacie aż do potraw regionalnych. Wiele z potraw, które zaprezentowano na slajdach można było również spróbować podczas poczęstunku przygotowanego specjalnie na tę okazję. Podczas Wieczoru Kultur można było również obejrzeć dziecięcą grupę taneczną z Woli Osowińskiej oraz posłuchać pieśni ludowych w wykonaniu uczniów ZSP. (Być może byliśmy świadkami zawiązania się nowego zespołu ludowego?)

Fernanda z Brazylii wdzięcznie wykonała ludowy taniec – sambę przy akompaniamancie Dyrektora Szkoły Zdzisława Janusa, zaś Chunchen (Kate) z Chin opowiedziała nam o herbacie. Erditya Nur Arfah z Indonezji zachwycił wszystkich zebranych koncertem na “8 osób”, zaś Nina Pontsulaia z Gruzji tańcem narodowym. Gromkie brawa i owacje towarzyszyły wszystkim, którzy zaprezentowali się przed młodzieżą, nauczycielami, dyrekcją oraz Starostą Radzyńskim Jerzym Kułakiem. Podczas spotkania obecna była również p. Ewelina Jurasz (AIESEC) – opiekun projektu “Enter Your Future”.

sumber.http://promenadazsp.pl/

 

 

 

 

 

Unity in Diversity: My Ultimate Day!

24 September 2009. Saya bercermin di sebuah toilet. Toilet untuk pria tentunya. Saya rapihkan batik lengan panjang berwarna gradasi cokelat dengan bordiran wayang di dada sebelah kanan yang sudah saya kenakan. Batik spesial yang dibuat khusus oleh desainer muda yang satu kantor dengan saya. Tidak gratis, tapi saya mendapatkan diskon khusus darinya. Diskon yang tidak diketahui oleh teman-teman kerja lain yang juga memesan batik padanya. Sssssst,,rahasia yaa,,jangan bilang siapa-siapa!

Sekarang, Saya tinggal mengancingkan ujung lengan kanannya saja. Dan, saya sempurna. Hari ini penting, karena kami, para peserta exchange, diundang untuk tampil dalam acara bertitel Unity in Diversity. Sebuah gelaran spesial yang diadakan oleh Zespol Szkol Ponadgymnazjalnych Radzyniu Podlasikim, salah satu sekolah publik ternama di Radzyn Podlaski, Polandia.

Perbedaan seringkali membuat masing-masing dari kita heran. Saya begitu heran sekaligus kagum dengan wanita bermata hijau. Cantik. Mana ada di Indonesia. Hmmm, ada sih tapi hijau palsu dari soft lens. Sementara, teman-teman saya di sini melongo dan takjub saat pertama kali melihat saya dengan lincahnya makan pakai jemari saya. Ya, di Eropa mana ada, tapi di Indonesia sudah dibiasakan sejak dulu kala. Siapa coba orang Indonesia yang tidak pernah makan dengan jemarinya langsung?

Kita memang terlahir di tempat berbeda, negara berbeda, tradisi berbeda, cara hidup yang berbeda, atau apapun yang seakan memisahkan manusia satu dengan yang lainnya. Tetapi, satu hal yang penting: kita hidup di Bumi yang sama, meski di belahan dunia yang berbeda. Itulah yang menjadikan manusia harus saling menghargai dan sadar bahwa perbedaan itu yang membuat dunia itu menarik dan kaya.

Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh acara ini. Sekolah menengah ini mengundang kami para Exchange Participant, yaitu Fernanda (Brazil), Saya (Indonesia), Nino (Georgia), Chuncen (China), Gork dan Basak (Turki). Tidak ketinggalan, Ewellina (Polandia) yang merupakan penanggung jawab kami pun turut hadir.

Setelah dibuka dengan dua bahasa, Polandia dan Inggris oleh Kepala Sekolah, acara dimeriahkan oleh kelompok tari atau dansa anak-anak Polandia. Mereka memainkan dua koreografi dansa khas Polandia. Satu kata yang bisa saya katakan mengenai penampilan mereka: Luar Biasa. Ya, mereka berhasil menularkan keceriannya kepada para pengunjung acara ini. Semua ikut bertepuk tangan seirama dengan musik yang mengiringi tarian mereka. Walaupun salah satu dari mereka terkadang lupa dengan gerakan tari yang harus dilakukan, tetapi keberaniannya patut diacungi jempol.

Sekarang saatnya kami bernyanyi bersama. Ya, setelah kami dibuat ceria oleh anak-anak tersebut, sekarang atmosfer bertambah hangat dengan penampilan dari kelompok paduan suara sekolah ini. Mengenakan baju tradisional Polandia, mereka menyanyikan beberapa lagu rakyat Polandia. Pengunjung yang memang kebanyakan warga asli kota ini turut hanyut dalam nyanyian-nyanyian tersebut. Sementara, walaupun tidak mengerti sama sekali, kami terutama saya ikut mengeluarkan suara. Untungnya ada bagian dari beberapa lagu tersebut yang hanya humming tanpa lirik. Nah, disitu kami juga beraksi.

haaaa aaah, hooooooo” Kami berteriak. Hasilnya: semua orang menoleh ke arah kami..Kami tidak peduli. Terlanjur asyik nih…..

Ada kejadian lucu ketika paduan suara tersebut tampil. Karena memang dipersiapkan dadakan, seringkali mereka lupa lirik dan akhirnya hanya humming bersama. Disitulah kami dengan senang hati berteriak dan bernyanyi bersama mereka, hehe.

Kemudian, Chunchen (Cina) dan Fernanda (Brazil), melakukan presentasi mengenai negaranya masing-masing. Fyi, sudah seminggu mereka memang bertugas di sekolah ini. Chuncen mengajarkan pengunjung cara menggunakan sumpit, sementara Fernanda mengajarkan tarian samba. Kali ini, dia diiringi musik yang dimainkan langsung oleh Kepala Sekolah. Semuanya goyaaaang, kata Fernanda. Hmmm, goyangannya mampu mengajak para pengunjung terutama para pria yang duduk di barisan depan untuk maju dan mencoba samba dengan Fernanda.  Entah kenapa saya teringat dengan goyangan para penyanyi dangdut yang juga mampu menghipnotis para penontonnya. Tidak ketinggalan, Nino (Georgia) pun menunjukkan tariannya.

Sekarang giliran saya. Inilah alasan saya mengenakan batik dengan rapih-jali. Karena saya akan merepresentasikan Indonesia dalam sebuah acara formal. Saya perlahan maju. Ahhh, semua mata memandang saya. Entah apa yang dipikirkan mereka. Mungkin sebagian dari mereka bertanya-tanya mengenai baju yang dipakai. Sebagian lagi berpikir apa yang akan saya tampilkan. Atau mungkin sebagian besar berkata dalam pikirannya, nah anak ini niih yang tadi ikutan nyanyi teriak-teriak dengan suara fals… Saya tidak ambil pusing dan terus melangkah. Ah, mungkin ini yang dirasakan para selebritis dunia…STOP! Khayalan Selesai..

Setelah berdiri di depan panggung, saya menyapa dengan sap;aan bahasa Polandia. Strategi ini sellau berhasil meluluhkan dinginnya hati orang-orang Polandia. Apalagi ketika saya mengatakan Woda Mineralna, Nie Gazowana (baca-Voda mineralna, Nye Gasovana). Yang artinya, Air Mineral, Tanpa Soda/Gas. Suasana sudah mencair. Saatnya mengeluarkan senjata pamungkas. Saya mengambil box isi angklung dan mengeluarkannya satu persatu. Mereka kembali terdiam. Wajah semua pengunjung tampak heran dengan instrumen khas Jawa Barat ini. Mungkin mereka bertanya-tanya, apakah ini alat musik, Kalau alat musik,lalu bagaimana cara memainkannnya. Atau jangan-jangan ini salah satu senjata pemusah massal khas Indonesia..hehe.

Okay, saya tidak akan membiarkan mereka bingung dan berpikir macam-macam mengenai angklung ini. Setelah saya memperkenalkan alat musik bambu ini kepada mereka, saya meminta 8 orang sukarelawan untuk maju ke depan dan bermain bersama saya.

“8 Volunteers, Please? “, teriak saya.

Hssssssssssssssss..semilir angin baru saja terdengar menampar pipi saya. Suasana hening. Mereka terdiam dan tidak ada yang mau maju. Sulit nih… Akhirnya, saya memanggil Fernanda, Claudio, Gork, Basak, Nino dan Chuncen, Ewellina. Ya, ini sekaligus akan menjadi penampilan kami untuk pertama kali memainkan orkestra angklung bersama. Tapi, tunggu! Kami butuh satu orang lagi. Akhirnya ada satu orang guru yang berani maju dan ikut bersama kami. Formasi sudah lengkap. Let’s Play!

Saya membariskan mereka sesuai dengan tangga nada dasar. Setelah mengajarkan mereka cara menggoyangkan Angklung, saya mulai menunjuk satu-persatu berurutan mulai dari nada Do-Re-Mi-Fa-So-La-Si-Do. Suara-suara dari bambu yang indah dan damai mengalun memenuhi ruangan. Semua fotografer yang hadir langsung mengabadikan momen ini. Baru saja nada Do kecil selesai, tepukan meriah yang panjang dan tanpa henti memenuhi semua ruangan. Padahal, ini hanya latihan cara memainkannya saja. Kami bahkan belum memainkan sebuah lagu satu pun! Kami pun membungkuk layaknya tim orkestra yang handal.

Selanjutnya kami memainkan lagu Julio Igglesias, Fallling in Love with You. Lagu ini memang menjadi andalan saya.  Selain mudah untuk dilmainkan secara dadakan, lagu ini juga dikenal tua dan muda. Abadi. Begitu nada terakhir dari lagu ini dimainkan, bukan hanya tepukan panjang lagi memenuhi ruangan. Tetapi, teriakan More,,More,,More..More..!dikumadangkan dengan kompak oleh semua pengunjung.

Saat itu, saya hanya menunduk hormat kepada mereka. Perasaan haru dan bangga karena telah berhasil mengenalkan budaya Indonesia menggembung di dada saya. Tidak pernah menyangka, permainan angklung yang sederhana ini mampu membuat mereka terkagum.

Oke, saya memenuhi permintaan mereka. Saya akan memainkan lagu lain, tetapi saya ingin pemain angklung yang baru.

“8 New Players, Please??”, tantang saya.

Kalau pada kesempatan pertama mereka malu-malu, sekarang semuanya berebutan untuk maju. Semuanya tunjuk tangan. Bahkan langsung inisiatif maju ke depan, termasuk sang kepala sekolah. Alhasil, bukan 8 orang yang datang, tetapi 12 orang. Dengan terpaksa saya harus memilih 8 orang di antara mereka.

Kami memainkan You Raise Me Up dari Josh Groban. Sempat salah dua nada, tetapi sambutan tidak kalah meriahnya. Nah, sekarang saya malah diusir dari panggung dan turun pangkat menjadi pemain. Salah satu dari mereka, yang merupakan kepala Cultur Center di sini mengambil alih posisi saya menjadi konduktor. Kami pun memainkan salah satu lagu Polandia yang singkat. Semua penonton tertawa. Terakhir, dengan dikomandoi beliau, kami mengalunkan lagu Are You Sleeping..Are You Sleeping..Brother Jhoooon…

Suara indah dari angklung memenuhi ruangan. Tepukan meriah seakan tidak berakhir. Orkestra malam ini akan menjadi kenangan tak terlupakan. Untuk mereka, dan juga bagi saya. Pujian pun berdatangan. Saya merasa bangga menjadi seorang Indonesia dan mengenalkan budaya bangsa pada mereka.

Terakhir, kami makan bersama dengan menu khas Polandia, salah satunya seperti Pierogi,yang merupakan pangsit dengan isi macam-macam. Selain itu, ada nasi goreng oriental buatan Chuncen, dan kue tradisional Brazil buatan fernanda.

Dan …klung..klung..klung..klung..klung…Sang Kepala sekolah pun tidak mau lepas dari angklung yang dipegangnya. Jangan dibawa pulang ya pak!

 

Salju Pertama Polandia

14 Oktober 2009, 07.30 A.M. Terbangun karena rasa dingin teramat sangat. Dua selimut tebal, sweater, kaos, kaos dalem, plus lapisan lemak di tubuh saya seakan tidak sanggup lagi menahan udara yang menusuk. Gulang-guling. Menukik-menikuk. Telentang-tengkurep. Meringkuk-ringkuk. Ga ngaruh. Saya menyerah dan memutuskan untuk bangun. Kemudian melihat jendela. Dan akhirnya saya menemukan alasan mengapa hari ini begitu dingin. Salju. Ya, Salju pertama telah turun di Polandia.

salju pertama

salju pertama

Damn. Pantas saja ruang tamu tempat saya selalu menumpang tidur di rumah Ibu Any & Pak Haris apabila datang ke Warsawa terasa sangat dingin. Jauh Lebih dingin dari biasanya. Salju ternyata telah datang. Tidak diperkirakan. Daun-daun belum sepenuhnya jatuh. Sebagian gugur, sebagian masih menguning, dan sebagian masih berwarna hijau segar. Ya, salju datang tanpa diundang. Sedikit kecepatan dari jadwal seharusnya. Ini baru awal musim gugur, tapi entah mengapa salju telah turun.

Ada beberapa hal yang wajib saya lakukan dan tidak lakukan kalau melihat putihnya salju dan merasakan dinginnya udara seperti ini:

  1. Tidak Mandi. Tidak akan..
  2. Langsung sarapan, kebetulan nasi goreng buatan Mba Idoh sudah siap!
  3. Buat teh panas..dengan gula sedikit.
  4. Megang cangkir berisi teh panasnya..
  5. Melihat ke luar dan merenung.

Ya, merenung. Sama seperti melihat aliran air di sungai, ketika melihat musim berganti pun saya selalu teringat dengan “jatah” waktu saya. Apakah sudah cukup dewasa? Untuk segera menjadi pemimpin yang bisa dipercaya atau untuk menikah, hehe. Sebagian teman-teman saya sudah beranak-pinak sementara saya masih plintat-plintut doyan kentut. Bahkan, atasan saya juga meminta saya belajar menjadi lebih dewasa selama petualangan saya di sini. Dia bilang bahwa pembelajaran diri itu yang terpenting!

Saya masih merenung, apakah yang sudah saya lakukan untuk membantu orang lain. Almarhum ayah saya selalu bilang dengan bijak: Bergunalah buat orang lain, jangan banyak meminta. Putihnya salju mengingatkan saya akan momen menyedihkan saat pertemuan terakhir kami di Bandara. Ketika itu dia mau berobat di Cina karena kanker. Dan meninggal di sana. Beliau cium pipi saya, kanan dan kiri, kemudian jidat saya, dan memeluk saya. Beliau menangis. Ya, mungkin belia tahu, ini akan menjadi pertemuan terakhir. Beliau sadar kalau dia akan dijemput oleh DIA yang Maha Kuasa.

Tapi itulah yang menjadi titik awal saya berani bermimpi. Mimpi apapun. Dari mimpi meraih sukses, bisa travelling, menikahi wanita idola, bikin buku, sampai kuliah lagi di luar negeri suatu saat nanti dan menjadi fondasi kuat untuk kehidupan orang lain.

Kesuksesan yang cara meraihnya dan hasilnya merupakan versi “sukses” saya sendiri. Bukan “sukses” versi almarhum bapak saya. Atau bahkan Ibu saya. Jalan sukses yang paling saya yakini benar, karena saya tidak mau menyalahkan orang tua saya kalau ternyata jalan yang beliau pilih ternyata salah. Tapi, saya juga tidak buta. Kalau memang saran beliau, saudara, teman, sahabat dan siapapun ternyata memang saya pikir baik untuk saya jalani, maka akan saya lakukan.

Maaf jika tulisan ini terlalu pribadi. Tapi, suasana ini menegur saya yang terkadang lupa untuk tetap teguh menjalani apa yang saya yakini di masa depan nanti.

Sekarang saatnya saya keluar dari renungan saya dan mencoba rasanya:

AYOOO MEMAKAN DAN MENJILAT SALJU!

Petualang Dadakan: Menyihir Kambing!

Dari yang tidak serius, serius, tidak serius, serius.

Pelajaran di SD Serniki telah usai. Satu hari saja. Bahkan, hanya 3 jam kurang dikit. Tapi, tiga jam itu telah menggoreskan kenangan seumur hidup. Takkan terlupakan. Buat anak-anak itu. Juga, buat saya. Tapi, hari ini belum usai. Masih ada bonus lebih untuk menambah hari ini.

Ya, hari ini memang nasib kami sungguh baik. Entah doa apa yang diucapkan oleh ibu saya di Indonesia. Rasanya, keberuntungan tidak mau hilang jua. Hari ini, kami diundang untuk datang ke sebuah Ranch yang terletak di Serniki. Kalau biasanya pengunjung harus bayar, kami akan mendapatkan tarif istimewa: GRATIS.

Kami pun tiba. Kedatangan kami disambut dengan hamparan hijau yang luas. Aroma khas padang rumput dan tanah peternakan terhirup di hidung. Menyegarkan! Membangikitkan jiwa petualang saya yang perlahan tergerus entah kemana. Menghapus kelabu dalam otak saya. Sejauh mata memandang, saya melihat warna-warni agung karya Tuhan. Birunya langit. Silaunya mentari. Hijaunya rumput dan dedaunan. Cokelat tanah. Ahhhhh..Sungguh romantis..

Tidak mau ketinggalan warna merah dari bunga raspberry yang telah ranum. Ranum? Jangan jadi berpikir negatif yaaa, karena kata tersebut! hehe..

Tiba-tiba, di tengah indahnya warna-warni tersebut, muncul Hitam Besar di hadapan saya. Tepat di mata saya. Sempat kaget, karena si warna hitam besar yang ternyata berasal dari dari kaos tersebut diiringi dengan suara berat, serak, dan keras. Ya, dialah bapak Leszek, pemilik Ranch ini. Beliau menyambut sendiri kedatangan kami berempat (Saya, Gosia, Fernanda, Nino).

Tampilannya seperti kombinasi para penunggang motor Harley Davidson yang kerap saya lihat di layar TV. Tubuh besar. Kaos Hitam. Celana Jeans. Tidak ketinggalan topi koboi yang menutupi sebagian rambut peraknya. Plus suara besarnya menjadikan bapak yang satu ini berkesan menakutkan dan tampaknya siap mematahkan leher siapa saja dengan tangan besarnya itu. Tapi, oke saya percaya dengan pria ini. Dia pasti hanya tampilannya saja yang sangar. Mungkin, hatinya juga seromantis lagu Rinto. Halaah, Jadul yaa? Oke, mungkin hatinya selembut hembusan suara vokalis D’Massive! Hehe..Beliau pun langsung membawa kami berkeliling.

Kesan menyeramkan itu tidak bertahan lama. Meluap. Hilang tanpa bekas. Penyebabnya: Ada sesuatu yang lebih menyeramkan dibanding si Bapak Leszek, yaitu burung unta. Ya, inilah pertama kalinya dalam sejarah hidup saya yang hampir 24 tahun, melihat binatang yang satu ini. Ayam raksasa dengan leher panjang. Mereka berlarian menghampiri roti-roti yang tersaji di atas tangan Bapak Leszek dan Gosia. Tampaknya menu yang satu ini menjadi favorit para burung unta.

Suasana sedikit rusuh. Mereka berebutan. Haaah, saya tidak suka dengan binatang ini. Leher panjangnya membuat saya begidik. Bukan apa-apa. Saya sebenernya penyuka leher dan kepala ayam. Bagi saya, bagian tersebut salah satu yang ternikmat. Tapi, melihat leher plus kepala binatang yang satu ini dan membayangkannya tersaji dalam meja makan, rasanya sedikit mengerikan. Oke enoughhh.. sebelum kita mengeluarkan koor suara “Hueeeeek” dan kemudian muntah berjamaah karena imajinasi tidak keruan ini.

**********************

Kandang ayam-ayam leher panjang tersebut ternyata hanyalah gerbang dari peternakan besar ini. Selanjutnya, kami mulai memasuki area peternakan utama. Dari kejauhan saya bisa melihat berbagai binatang ternak. Tidak hanya itu, terdapat juga beberapa delman, kereta seperti di taman mini, mobilo-mobil buggy mini, ontang-anting seperti di dufan dengan kualitas sama dengan taman hiburan dadakan di kecamatan, serta mobil pemadam kebakaran asli lengkap dengan selangnya. .

PEMADAM KEBAKAARAN? DI PETERNAKAN? Buat apaaan di peternakan benda-benda itu? Jangan-Jangan beliau nyiram rumputnya dengan mobil pemadam kebakaran? Wiiiih atau dia membajak ladangnya dengan Delman Eropa Abad 18. Fantastis!

Ide maut yang bisa jadi penemuan terbesar di bidang pertanian & peternakan abad ini. Mungkin bisa mengurangi dampak pemanasan global akibat polusi mesin-mesin pertanian. Pantas diganjar nobel atau penghargaan lingkungan dunia nih. Ahhh, saya langsung bertanya saja ke beliau.

Saya : “Pak, Pak Leszek..Ini Konsep pertanian seperti apa dengan mobilkebakaran dan delman? Mantab nih idenya”….Saya pun masih nyerocos memberi pujian…  

Leszek : Melongoo..1 detik..2 detik..3 detiiik Tetap melongo..Kemduain “Hahahahahaa”..

Ya, singkat cerita ternyata jawabannya ternyata tidak ada hubungannya benda tersebut dengan teknologi tani atau ternak. Saya memang terlalu suka berkhayal. Areal ini ternyata tempat bermain anak-anak. Dia memiliki misi mulia. Dengan menambah berbagai fasilitas-fasilitas permainan sederhana, namun cukup menyenangkan ini, Beliau ingin anak-anak yang datang menjadi fun dan akhirnya bisa mencintai kehidupan bertani dan berternak. Ya, mungkin beliau tidak jadi dapat nobel atau apapun berkaitan dengan bidang pertanian & peternakan. Tapi beliau dapat award khusus dari hati saya, hehe. Kami pun langsung berpose dan bermain di areal ini. Fyi, dia dulunya seorang pemadam kebakaran juga ternyata lho…

 **********************

Kami pun segera memanfaatkan areal permainan ini. Seakan memasuki mesin waktu, kami menjelma menjadi anak-anak kembali. Manaiki kereta api mini sambil bernyanyi dan berteriak ketakutan ketika diputar-putar dengan ontang-anting khas dufan dengan kualitas kecamatan ini. Pinggang saya encok rasanya tertekan besi-besi ontang-anting ini. Ya, tapi memang kami yang tidak tahu diri, karena fasilitas ini sebetulnya buat anak-anak, hehee. Pusiiiiing…akibat perputaran 360 derajat dengan kecepatan lumayan cepat. Cukup cepat.

Setelah puas berpose di areal permainan ini, kami pun segera ke area utama peternakan ini, yaitu salah satu istal atau kandang para binatang. Kami pun bersiap bertamu ke rumah para ternak ini.

Saya : Assalamualaikuuuuum dan selamat siang para ternak. Dzien Dobry! (Sapaan formal dalam bahasa Polandia)

Kambing : Mbeeeeeek…

Kuda : Meringkiiiiiiiiikkkk..

Sapi : Mooooooh..

Ayam & Kalkun : Menyambut dengan menggoyangkan leher-lehernya..

Kelinci : Berlompatan tanpa suara.

Ya, dalam satu areal kandang besar aini mereka hidup bersama. Kuda, baik kuda normal dan kuda poni, ayam kampung sampe ayam kalkun, kelinci, sapi-sapi biasa sampai yang berambut gondrong baik yang asli Polandia maupun impor dari Irlandia, domba dan kambing hidup rukun bersama. Damai. Seperti dalam dongeng-dongeng binatang anak kecil. Indahnya kalau manusia bisa hidup seperti ini. Rukun dan damai dalam membagi tanah dari bumi yang sama.

Khalayan tentang Bumi yang damai pun buyar seiring dengan rasa sakit yang menerpa pantat saya. Lumayan sakit rasanya. Ketika saya nengok ke belakang, ternyata sudah ada kambing bertanduk. Sial, ternyata dia yang menusuk pantat saya! Dia seakan menyeringai. Entah ini ledekan atau tanda bahwa dia suka dan menganggap saya wanita pujannya. SIAL! Beraninya main belakang pula…hehe.

Jangan-jangan ini musim kawinnya dia. Tapi, tidak! tatapannya lebih ke sebuah tantangan duel, dibandingkan gejala ternak saat musim kawin. Ya, entah dapat ilmu dari mana saya merasa memahami bahasa binatangnya. Oke, saya terima tantangannya! Saya pun membaca mantra saya dan menakutinya. Seakan tersihir, kambing ini pun pergi. Wiiiih ada gunanya juga jampi-jampi saya. Atau jangan-jangan kambing ini berpikir “Ada juga manusia aneh..ah udalah tinggalin aja dibanding gue jadi kambing aneh juga”..

Sementara Gosia sibuk memberikan makan ayam-ayam bermuka aneh dan kambing-kambing, Fernanda dan Nino asik belajar mengendarai kuda. Kuda Poni. Nino, dengan dress hitamnya itu mengendarai kuda dengan gagah. Hmmm, aga salah kostum sih untuk datang ke peternakan dan mengendarai kuda. Tapi, it’s okelaaaah…Sedangkan Fernanda dengan takut-takut mencoba menaikinya. Ya, wanita Brazil ini ternyata takut binatang. hehehe..

Lucu..Bermain dengan kambing dan binatang lainnya pun menjadi sesuatu yang luar biasa. Sangat menyenangkan. Hmmmm, tapi lebih menyenangkan kalau ternak itu diolah menjadi sate kambing, ayam bakar, gulai daging sapi, atau apapapun,,yummmyyyy. LAPAARRRRRR….

 **********************

Energi kami sekan habis bermain dengan binatang-binatang itu. Semua ternak tampak sudah kenyang dengan makanan yang kami beri. Mereka juga tampak puas karena sudah mendapatkan sentuhan dari wanita-wanita asli Polandia, Georgia, dan Brazil plus pemuda Indonesia. Kami telah berhasil mengimbangi keliaran mereka. Terakhir, kami memberikan makan kepada babi-babi. Hmmm, kalau yang ini kan haram. Jadi, saya ga bayangin dalam bentuk makanan juga sih…

Sekarang kami butuh sesuatu yang tenang dan rileks. Tidak liar dan menguras energi.

“ MENYUSURI SUNGAI dengan perahu saja”, Tegas bapak Leszek Wow, ide bagus. Kami pun langsung setuju. Kami semua segera menuju seungai. Bapak Leszek menyiapkan perahunya. Perahu yang dia buat sendiri. Walaupun terkesan sederhana, tapi rasanya cukup aman. Kabar baiknya, perahu ini pun memanfaatkan mesin. Jadi, kita tidak perlu mendayungnya.

 1…2…3…Brrrmmmmm. Mesin motor dalam perahu telah dinyalakan. Setelah berjuang mengeluarkan dasar perahu dari lumpur, kami pun segera mengarungi sungai ini. Aroma air bercampur dengan daun-daun kering terhirup. Sungguh segar.

Semilir angin berhembus, sementara beberapa pucuk daun gugur dari pepohonan. Sebentar lagi musim gugur akan datang. Musim akan segera berganti. Pertanda arus waktu terus berjalan. Aliran sungai semakin membuat saya berpikir akan aliran waktu yang akan terus maju. terus berubah. Pertanyaan-pertanyaan tentang hidup terlintas. Akan jadi apakah saya? Akan seperti apakah nanti istri saya? Akan mirip siapakah anak saya? Akan masuk surgakah saya? Hufff..waktu selalu bergerak ke depan.

Sejarah saya yang lalu menunjukkan bahwa saya seringkali menyiakannya. Aliran sungai, gugurnya daun, dan angin ini seakan menampar saya dan berkata “Lakukan yang terbaik, Jangan Pernah Menyerah!” YA seperti yang D’massive katakan dalam lagunya Jangan Menyerah, heheehe.

Setelah tersadar mengenai “sang aliran waktu” tersebut, kami pun segera pamit. Sudah cuku petulangan kali ini. Telah banyak kisah dan cerita. Mulai dari burung onta, kambing, permainan yang mengembalikan sisi kanak-kanak kami, sampai menjadi nakhoda di sungai. Terakhir sebelum pamit, kami mencuri Raspberry langsung dari pohonnya, dengan seizin Bapak Leszek. Tapi, kalau minta izin bukan mencuri dong yaaa??

Kisah Cepot dan Szczur (Tikus-Poland)

Kepolosan dan Kecerian Anak-Anak Memang selalu Ajaib.

Anak kecil? Pendapat saya mengenai anak kecil selalu aneh. Kadang suka, tetapi seringkali tidak. Sesekali dibuat tertawa oleh mereka, tetapi banyak waktu dibuat pusing dengan teriakan dan kerewelannya. Ya, tidak bisa dikatakan tidak suka sih. Tapi, tidak bisa dibilang suka juga. Kesimpulannya mungkin: saya hanya hampir tidak suka, sekaligus hampir suka dengan anak kecil. Bingung? Ya, saya juga heran dengan tulisan saya! Maafkan..

Menghadapi anak kecil terkadang seperti perang. Komunikasi dengan mereka tidak cukup dengan sekedar kata-kata. Diperlukan sebuah strategi khusus. Siasat cemerlang yang mampu menyentuh hati, sekaligus menciptakan momen ajaib bagi mereka. Ya, situasi inilah yang sedang saya pikirkan saat ini di mobil Gosia (si Pimpinan Proyek) bersama Fernanda (Brasil) dan Nino (Georgia). Kami sedang dalam perjalanan menuju Sekolah dasar Serniki, sebuah sekolah di desa kecil dekat Lublin. Disana, saya akan menghadapi anak-anak Polandia yang menurut informasi hampir 100 % tidak mengerti bahasa Inggris. Bahasa Indonesia? Apalagi, MUSTAHIIIIIL!

Sepanjang perjalanan, mata saya dipuaskan oleh padang rumput hijau. Entah mengapa, warna hijau selalu mengingatkan saya akan rumah. Ya, rumah kita, Indonesia. Bukan berlagak nasionalis, tetapi saat ini rasa kangen terhadap rumah dan sambel terasi sudah tidak terbendung lagi!

TOOOOOOOOOOT! SIAL! Suara klakson membuyarkanan lamunan akan super-duper-pedasnya sambal terasi dan ikan asin pujaan saya. Sekarang, mata saya tertuju pada boneka yang tergantung di salah satu sudut kaca mobil Gosia. Sebuah boneka tikus bertampang culas tergantung di sana. Saya pun mendapatkan ide cemerlang. Ya, saya akan memanfaatkan tikus alias Szcurc ini (baca-Shhzurk-red)

Sambutan Meriah

Kami pun tiba. Mereka menyiapkan satu ruangan khusus sebagai ruangan workshop kami. Di sana sudah menunggu puluhan anak berumur 6-10 tahun. Oke, pertunjukan sebentar lagi dimulai! Kami sudah tidak sabar untuk menghadapi mereka. Kaliaaaaan sudah siap, anaak-anaaaaak!

Pintu dibuka. Fernanda, saya, dan Nino masuk ke ruangan kelas. 1..2..Tiiii..belum sampai angka 3 saya sebut dalam hati, ruangan sudah dipenuhi dengan tepukan tangan anak-anak. Suasana menjadi riuh. Ya, ada sekitar 40 anak kecil di ruangan ini. Sambutan meriah! Tapi, kejutan tidak berhenti sampai di sini. Tiga orang anak maju ke hadapan kami, dan memberikan 3 bunga dan 3 balon untuk saya, Fernanda, dan Nino.

Saya merasa hati saya menggelembung. Rasa haru dan bangga memenuhi isi hati. Sungguh emosional. Tepukan dan riuh sambutan mereka tampak tulus. Ya, kami bisa melihatnya dari wajah polos mereka. Saya terbang, merasa menjadi idola dadakan, hehee. Ya, mungkin inilah yang di rasakan oleh Enno Lerian atau Joshua dulu saat lagunya menjadi hits tangga lagu anak-anak, hehe.

It’s Showtime!

Nino dari Georgia mendapat giliran yang pertama. Awalnya sedikit membosankan dan terkesan galak. Mungkin situasi perang di negaranyabaru-baru ini, menjadikannya wanita yang sedikit seperti tentara, hehe. Tetapi, kami terpukau dengan caranya menari. Ya, dia seakan menjelma menjadi sosok yang berbeda tatkala tubuhnya bergerak mengikuti irama musik tradisional negaranya. Tarian khas Georgia bagi saya seperti kombinasi gerakan yang anggun, sekaligus mistis. Aneh, tapi unik!

Sekarang, giliran Fernanda muncul. Dia memperkenalkan dirinya dengan bahasa Inggris berakses latinya. Wanita ini memang luar biasa. Ekspresinya mampu mengajak para anak kecil untuk ikut tertawa, walaupun saya yakin anak-anak ini tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali. Fernanda berhasil membuat momen ajaib. Anak-anak terdiam seakan terhipnotis. Terkadang mulut mereka ternganga. Kemudian, mereka tertawa dan juga bertepuk tangan menyambut senyum wanita ini. Mereka tidak mengerti apa yang Fernanda ucapkan. Tapi, anak-anak ini memperhatikan dengan kesungguhan dan ketulusan. Ya, tatapan mata anak-anak tersebut mencerminkan kedua hal tersebut. AJAIB! Terakhir, anak-anak diajak goyang samba bersama.

Cepot dan Szczur (Tikus-Poland)

Gilaran saya tiba. Oke, saatnya menjalankan ide dadakan yang muncul akibat klakson dan akhirnya membuat boneka tikus milik Gosia terselip di kantong belakang jeans saya.  Mudah-mudahan ini dapat membuat mereka tertawa sekaligus mengenalkan budaya Indonesia, dan bahasa Inggris kepada mereka.

Pertunjukan dimulai! Inilah kisah persahabatan antara Indonesia-Polandia. Kisah dua sahabat yang lama tidak jumpa karena terpisah ribuan kilometer. Kisah pertemanan yang saya imajinasikan antara mahkluk berwajah merah dari Jawa Barat alias si wayang golek CEPOT dan boneka Tikus, yang saya beri nama dadakan STURKY. Ya, saya akan melakukan dialog dengan anak-anak ini melalui boneka-boneka ini!

Alkisah, cepot terbang ke Polandia selama 30 jam. Kemudian, ia bertemu dengan si Sturky, sahabat lamanya. Karena cepot dan sturky ini makhluk gaul yang global, mereka pun mahir berbahas Inggris ceritanya.

Cepot    : Cesch (Hai-dalam bahasa Polandia)! How Are You my Friend Sturky?

Sturky   :Cesch! Im Good! How About You? You still have your red face?Hahahaa..

Cepot    : Yes, of course my face still red, cause Im The Real Cepot form Sunda Land, Indonesia! Im Great!  Hey Sturky, I See many handome and beautiful Children here! Are they Polsih Children! Please introduce me to them!

Sturky   : Yes, they are my friend and waiting for you. I will Introduce you to all of them…

Cepot pun terbang di atas bahu Sturky menghampiri anak-anak satu persatu dan mengajak mereka berkenalan dengan bahasa Inggris campur Polandia. Suasana menjadi riuh, terutama saat cepot terbang dengan Sturky dan mencoba menghampiri salah satu kelompok anak. Mereka tampak takut-takut dan mencoba bersembunyi dari Cepot. Tapi, Cepot kan sakti, walaupun sedikit bodoh. Dengan bantuan Sturky, dia berhasil membujuk setiap anak-anak yang dihampiri untuk memperkenalkan diri mereka. Hehe.

Anak-anak ini sungguh luar biasa! Kata-kata bahasa Inggris yang di wakili cepot dan sturky mungkin tidak semuanya mereka mengerti, atau bahkan sama sekali tidak mereka ketahui. Tapi, momen ini sungguh AJAIB. Ada yang lebih berarti dari sekedar kata-kata. Mereka pun bisa menikmatinya. Dan ini bukan hanya sekedar untuk menghormati keberadaan saya. Mereka masih terlalu polos untuk melakukan skenario JAGA SIKAP. Tatapan mata mereka mengatakan “Kami Senang”. Dan tatapan mata saya pun menjawab “ Terima kasih atas ketulusannya yaa adik-adik”

Jangan remehkan anak kecil dalam memahami sebuah pesan yang di sampaikan. Dalam salah satu scene dalam film Meet The Focker, mengatakan bahwa anak kecil seperti layaknya sebuah spons yang mampu menyerap air. Mereka dapat memahami apa saja. Dan masa ini menjadi awal pembentukan karakter mereka nantinya.  

Inilah yang membuat saya merasa bahagia! Karena, kami merasa telah dan akan menjadi bagian yang selalu tersimpan dalam memori mereka dan mungkin bisa memengaruhi kehidupan mereka di masa depan. Semoga mereka terus ingat bahwa seorang Indonesia dengan boneka berwajah merahnya pernah berkata dengan suara bodohnya, “keep studying to reach your dream”!

Kejutan Angka 3: Orkestra Angklung Terbentuk!

Ada kejutan menyenangkan hari ini.

Sobieski Szkola, Hari ke-3, sesi ke-3. Mulai detik ini saya akan menghadapi makhluk-makhluk berbeda di sekolah ini: Anak SMA. hmmmm, Anaaaak SMA! Perlu strategi baru nih, soalnya atmosfernya pasti beda dengan kelas-kelas sebelumnya yang diisi bocah-bocah ingusan di Gimnasium atau SMP di sini.

Berbicara soal anak SMA, entah mengapa saya selalu tersenyum. Teringat saat masih kuliah dulu, saya selalu sengaja pulang melewati beberapa SMA di kota Bandung untuk melihat “bunga” yang masih muda. Tanpa sadar, kebiasaan tersebut pun menjadi hobi yang selalu dilakukan hampir tiap hari. 5 hari dalam seminggu!

Teman-teman kampus saya pun  punya julukan istimewa untuk saya: “Erdit si Pedofil”! Selain itu, tiap ada anak SMA melintas, pasti mereka lansung teriak memanggil saya. Intinya, kalau mau tahu tipe wanita erdit saat itu, gampaaaaang! Syarat nomer 1: Harus masih SMA.

Saat itu, saya hanya menganggap anak SMA adalah sesuatu yang lebih segar. FRESH. Mereka masih menjadi sosok yang sok dewasa. Mereka penuh ide-ide. Sulit ditebak. Belum terlalu dibekab oleh teori-teori kehidupan. Kesimpulannya: Hidup itu SENANG! Saya senang bergaul dengan mereka. Membuat saya merasa lebih muda. Heey, jangan anggap saya pedofil, karena waktu itu juga saya masih 17-21 tahun. Masih cukup muda untuk bergaul dan menjadi “kakak” mereka. hehe..

Nah, inilah yang saya rasakan sekarang. Senang karena akan menghadapi murid SMA di Polandia, yang tentunya lebih enak untuk diajak diskusi soal kultur, sosial, budaya antar negara. Tapi, saya juga merasa sedikit tegang dan tidak percaya diri. Karena saya tahu anak SMA usilnya luar biasa setengah mati. Ya, bagaimanapun, saya juga dulu pernah menjadi muda….

Satu-persatu mereka masuk kelas. Tatapannya tampak dingin. Cuek dan terlihat tidak antusias. Beberapa murid datang dengan membawa roti dan sebagainya. mmmm,pertanda mereka lebih tertarik untuk makan dibanding menaksikan aksi saya di hadapan mereka. Tapi murid wanitanya tetap cantik siiih, hehe.

Kelas sudah penuh. Paling penuh, selama saya melakukan workshop disini. Entah ini kabar baik atau tidak, tapi yang jelas rasanya makin mual juga melihat puluhan murid menyesaki ruangan kelas ini. Sial, saya pun semakin mual! Keringat dingin…Takut workshop kali ini akan gagal.

Oke, presentasi dimulai!  Saya menjelaskan secara sekilas mengenai Indonesia. Satu murid pria mengangkat tangan ingin bertanya. “ Apakah orang Indonesia masih suka makan orang?”. Mereka pun semua langsung terbahak-bahak!

Sial! saya langsung dihajar pertanyaan usiiil ! Oke saya akan menjawabnyaaa! Dengan mimik aneh seaakan mau mau makan orang (entah gimana itu caranya membuat mimik tersebut)  “mmmm, orang Indonesia lebih suka makan Kurzcak (ayam) dibanding makan kamu”…! Berhasiiiiil. Mereka pun tertawa. Humor saya berhasil menghangatkan suasana,  karena saya berhasil mengucapkan ayam dalam bahasa Polandia dengan benar.

Pertanyaan usil yang membuahkan keajaiban! Tatapan mereka tidak lagi sebeku sebelumnya. Selanjutnya, panggung pun saya kuasai. Presentasi saya lakukan dengan lancar. Salah satu sukarelawan praktik memainkan wayang golek dengan bahasa Inggris dan Polandia di hadapan teman-temannya. Suasana pun langsung heboooh. Apalagi ketika salah satu murid, Hans, mengubah suaranya ketika memainkan sosok cepot. Piotrek, salah satu murid pria, bahkan ingin membeli salah satu dari wayang ini.

Orkestra Angklung Tambahan

Mulai hari ini, saya juga bisa menggunakan angklung milik saya sendiri yang sempat dikhawatirkan tidak sampai ke Polandia. Dengan kualitas yang baik, alunan bambu yang dimainkan 8 orang murid-murid ini pun terdengar sempurna. Sangat merdu. Bukan hanya para murid yang terpsona dengan suaranya. Bahkan, saya pun merasa langsung bersyukur angklung ini ditemukan.

“kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing”…bel berbunyi. Padahal kami baru memainkan satu lagu. Dengan berat hati, saya pun berniat mengucapkan terimakasih dan menyudahi workshop ini. Tapi, kejutan! Mereka tidak membiarkan saya langsung pulang. Mereka masih mau main angklung. Masih mau menghabiskan waktu bersama saya, si pemuda sok keren dari Indonesia. Sebagian murid juga masih asyik sendiri di pojok kelas memainkan tiga tokoh wayang golek yang saya bawa.

Orkestra angklung Sobieski dimulai. Kami memainkan dua lagu. Dengan percaya dirinya. saya juga mengajak mereka untuk memainkan orkestra dadakan yang saya ciptakan. Sebelumnya, mohon maaf kepada ahli dan pemain angkung, kalau saya justru mengacaukan teknik atau irama bermain angklung yang benar.

Mmmm, nama lagu ini: Symphony Do Mi Sol Erditya. Nada di awalnya berhasil membuat mereka kagum. Apalagi, ketika suara dari angklung yang dipukul-pukul di bagian ujungnya menggema di ruangan. Saya pun jadi merasa bangga sama diri sendiri bisa menciptakan musik dadakan dengan angklung. Ya, karena saya juga seorang pemula! Tapi, karena namanya dadakan, beberapa nada selanjutnya terasa tidak harmonis. Walaupun saya tahu ada nada yang salah,  muka saya tetap menunjukkan kepedean 100 %, hehe!

Kemudian, mereka memainkan lagu-lagu Polandia. Lagu-lagu anak yang simpel. Salah satu dari mereka, Mikaw, mengambil alih tongkat komando. Dia menjadi konduktornya, dan saya pun diusir hanya menjadi pemain di bawah arahannya.

Selanjutnya, lebih parah! Saya pun hanya menjadi penonton, dan mereka asik sendiri berlatih beberapa lagu Polandia yang simpel dengan angklung saya, hehe. Saya senang! Hari ketiga di Sobieski Szkola, Sesi Ke-3, Tepat Jam 3. Sobieski Angklung Symphony dadakan telah terbentuk!

 

 
 

 

From Fernanda to Erditya

23 September 2009. sebuah surat masuk ke account yahoo saya. Sebuah surat dari Fernanda Mota, sahabat asal Brazil sekaligus partner saya selama mengadakan workshop di Sobieski Szkola selama seminggu. Heran juga, ngapain nih anak tiba-tiba kirim email. Minggu ini, si wanita jago samba melakukan workshop di salah satu sekolah kota Radzyn Podlaski, sementara saya tetap di kota Lublin. Setelah membacanya, saya mengambil kesimpulan bahwa  ini adalah salah satu hadiah terbaik saya di hari jadi yang ke-24 ini.

Hello erdit my good friend.

at the end of this week i must tell u that i really liked to work with u

I learned too much with u and discovered on u a man with such big heart, intelligent and open.

I hope that we can meet somewhere again!

Its very good to know that we  could impact positively all those pupils…

it was very nice to meet   u… and i wish everything of good and happiness in your life.

U deserve it!!!! Keep walking on this way, that u will be very happy and realized.

 

Fernanda Mota – Brazil

 

Fernanda Mota, Brazil

Fernanda Mota, Brazil

Bagaimana Saya Sampai di Sini?

Kombinasi mimpi, doa, usaha, dan keberuntungan.

Begitu banyak pertanyaan yang menanyakan bagaimana saya bisa sampai Polandia dan berencana ke negara Eropa lainnya? Bagaimana biayanya, apakah gratis, dapat sponsor, menang undian, menemukan emas di jalan atau dapat warisan mendadak? Tadinya, ini akan saya simpan sampai saya kembali ke Indonesia, karena saya tidak mau kehilangan momen selama di sini hanya untuk cerita detil pembiayaan saya saja. Tapi, okelah saya akan tulis ringkasannya terlebih dahulu dibanding diberondong pertanyaan yang sama terus. Saya akan menulis detailnya nanti. Kira-kira seperti ini poin-poin pentingnya:

1. Berawal dari mimpi. Alkisah, saya mendapatkan kesempatan untuk ikut pertukaran pelajar SD ke Singapura bersama sahabat saya. Orang tua saya tentunya tidak menginginkan anak kecil si bungusnya ini pergi jauh. Apalagi jaman dahulu mungkin belum ada handphone dan internet. Waktu itu ortu sahabat saya itu sampai menelpon ibu saya dan membujuknya. Tapi ibu saya menolaknya dan menjawab sambil bercanda “Ah, Erdit mah nanti aja kuliahnya ke Jerman, sekalian jauuh..”. Saya tahu kalau ibu saya hanya becanda saja. Tapi saya anggap itu serius sampai saat ini. Dan entah mengapa saya terngiang selalu dan menjadi menjadi impian pergi ke Eropa ketika sudah dewasa.

2. Saya ikut program dari AIESEC. Mengapa? Saya tahu, sebagian besar program Exchange dari AIESEC biasanya akan men-cover biaya basic living cost (tergantung proyek dan negaranya sih). jadi, saya tinggal memikirkan biaya akomodasi saja (Hah SAJA??Jutsru itu yang paling mahal kaaaan…hehe).

3. Saya memilih program exchange yang berkaitan dengan budaya. Mengapa? Satu, karena saya tertarik. Dua, isunya lagi naik daun. Tiga, lebih mudah cari sponsornya. Empat, saya merasa kalau kantor saya bahkan akan kasih saya izin untuk pengalaman ini.

4. Saya hidup sudah 23 tahun. Selama itu, saya memiliki teman, sahabat, kolega, dan saudara yang mengetahui keseluruhan diri saya fisik dan mental. Dari bos saya saat magang dulu, teman kerja, kawan kuliah, sampai kolega  ayah atau ibu saya. Ini berguna untuk mencari sponsor dan donatur. Nepotisme? Bagi saya ini namanya Networking!

5. Jaga terus hubungan baik kepada diapa saja, karena kita tidak pernah tahu siaapa yang akan menolong kita di masa mendatang.

6. Saya membagi sponsor menjadi dua: SPONSOR RESMI dan DONATUR PRIBADI.

7. Lakukan presentasi dengan penuh antusias.

8. Nah, sponsor resmi biasanya ditujukkan ke perusahaan-perusahaan atau instansi dengan menawarkan berbagai benefit untuk perusahaan tersebut. TIPS: Cari teman wartawan dan minta dia untuk bantu liput kegiatan kita nanti. Ini bisa jadi nilai benefit  yang bisa ditawarkan ke perusahan atau instansi. Percayalah, perusahaan atau instansi biasanya keranjingan untuk diliput media.

9. Nah, kalau sponsor resmi mentok, saatnya gunakan approach berbeda yaitu dengan menawarkan orang tersebut menjadi DONATUR PRIBADI. Biasanya saya akan bilang “ Yaaaah bu/pak, kalau emang perusahaaan ga bisa, bapak/ibu mau tidak secara pribadi bantu menjadi donatur pribadi?…” TIPS: Katakan dengan penuh semangat dan optimis tujuan Anda. Banyak orang yang akan membantu Anda. Bahkan akan memberikan kontak koleganya yang lain kepada Anda. Tidak hanya itu, mereka pun mungkin dengan sukarela menjadi tim pencari dana Anda dengan menghubungi kolega di kantornya, dan sebagainya. Tidak percaya? Kalau saya sih sudah membuktikannya.

10. Donatur pribadi ini sifatnya sukarela. Mau berapapun mereka ngasih harus kita terima. Saya pernah mendapatkan hanya 25 ribu satu orang. Tapi, coba bayakngkan kalau yang ngasih 25 ribu ada dua puluh orang, hasilnya sudah 500 ribu bukan? Lumayan kan buat nambah-nambah beli suvenir dari Eropa nanti.

11. Ada juga donatur pribadi yang ngasih sampai 1-2 juta. Pokoknyaa, kumpulin sebanyak-banyaknya. Saya memang sudah seperti pengemis. Terkadang tidak tahu malu, hehe. Dari mulai receh sampai ratusan ribu saya kumpulkan. By the way, sang pengemis ini sudah sampai EROPA sekarang, hehehee.

12. Jangan terlalu mata duitan juga. Banyak hal yang bisa membantu program Anda selain duit. Saya juga mendapatkan sponsor untuk suvenir berupa baju, merchandise, dan sebagainya. Bahkan, salah satu sahabat saya Adis, dengan sukarela memberikan suvenir dari jogja untuk saya bawa (nanti saya akan tulis secara khusus mengenai si Adis).

Beginilah Rincian Sponsorship yang Saya Dapatkan:

  • Sponsor Resmi (Pemkot Bekasi)                                                                         : 15.000.000
  • Donatur pribadi (kolega, saudara, teman, koleganya kolega, dsb)      : 9.665.800  (beneran ini ada yang ngasih 50.800 waktu itu)
  • Dana pribadi (u/proposal & administrasi)                                                      : 2000.000
  • Disbudpar                           : Materi promosi, presentasi, komunikasi, dsb.
  • Rep.Insula                           : 20 baju @80.000 + Stiker
  • Adis                                       : Suvenir dari Jogja (pembatas buku, pensil, pulpen, dsb)  senilai 200-300 ribu
  • RWPublishing                    : 4 buku-buku fotografi mengenai Indonesia
  • Kawan-kawan Kantor     : Winter Coat
  • selama ini hanya mimpi...

    selama ini hanya mimpi...

Ya, ini cerita saya, pengalaman saya. Tidak! Tidak  perlu menjadi kaya terlebih dahulu untuk travelling ke Eropa sekaligus membawa budaya Indonesia. Mungkin tanggapan Anda bisa positif, menjadi optimis, atau bahkan tetap skeptis dan tidak percaya. Saya tidak akan ambil pusing. Intinya, saya hanya ingin menginspirasi orang kalau kita semua bisa meraih mimpi apapun itu.

Saya tidak memaksa Anda untuk membuat cerita yang persis sama seperti saya. Tetapi, saya ingin Anda iri dengan keberuntungan dan pengalaman saya ini, sehingga akhirnya berani ambil keputusan untuk membuat cerita kalian sendiri.  Maukah?

Akhirnya Datang Juga

…Selasa sore, 15 September 2009. Mata saya berbinar. Mendadak saya langsung melakukan tarian dengan gerakan ga karuan. Sambil teriak-teriak senang seperti orang gila. Beberapa orang memandang saya. Saya balas tatapan mereka dengan senyuman. Saya ajak mereka bersalaman dan berpelukan. Biarlah mereka menganggap saya aneh. Tidak peduli. Yang penting, saya senaaaang.

Ya, Akhirnya paket kardus cokelat berukuran sedang dengan wrapping acak-acakan itu datang juga. Setelah 10 hari tanpa kabar, dia berhasil ditemukan. Sekarang benda ini sudah ada di tangan saya. Gara-gara yang satu ini saya harus merepotkan orang-orang di KBRI Warsawa untuk membantu mencarinya. Setelah berhasil ditemukan, pihak KBRI pun langsung mengirimkannya ke saya di Lublin. Hanya satu box memang, tetapi kehadirannya menjadi sangat penting untuk kegiatan saya disini.

akhirnya datang juga

akhirnya datang juga

Sekarang, jantung saya berdebar menatap box yang terbuat dari kardus cokelat ini. Ingin segera membukanya dan mengetahui bagaimana kualitasnya. Saya sobek plastik pembungkusnya perlahan. Saya tidak mau benda di dalam box ini jadi rusak karena guncangan. Akhirnya oh akhirnya. Seluruh kardus telah tebuka.

Kemudian saya buka busa-busa yang membalut benda di dalamnya tersebut. Busa tersebut digunakan untuk melindunginya dari guncangan selama di pesawat. Sekarang saya bisa melihat, menyentuh, dan memegang benda tersebut. Saya angkat dan saya belai. Saya perhatikan benda tersebut dengan seksama. Satu-persatu saya perhatikan dengan sangat detail. Kualitasnya masih sempuna. Tidak ada cacat fisik akibat benturan dan sebagainya.

Sekarang saat yang paling krusial. Wakitu seakan berhenti mendadak. Tegang dibuatnya. Perlahan, saya goyangkan benda tersebut. Mulai dari goyangan pelan, sampai kencang. Senyum pun merekah. Saya merasa dalam suasana klimaks. ya, ANGKLUNG-ANGKLUNG saya berada dalam kondisi sempurna, tanpa cacat. Alunan dari bambu yang tercipta pun begitu merdu dan khas. Suaranya pun menggema memecah keheningan.

Kehadirannya memang sedikit terlambat. Sudah dua hari ini saya menggunakan angklung miliki KBRI yang lebih kecil. Salah satu milik KBRI yang terbaik dari persediaan angklung diatonis yang ada. Tapi, mungkin cuaca yang seringkali berubah ekstrim disini membuat kualitasnya sudah jauh dari harapan. Beberapa bagian juga sudah tampak pecah. Alhamdulillah workshop budaya Indonesia di Sobieski Szkola hari pertama dan kedua tetap lancar, walaupun saya tahu kalau kualitas suara dari alunan bambu pinjaman tersebut masih kurang bagus.

Sekarang saya lebih siap. Dengan angklung yang saya pegang sekarang dan berkualitas prima ini, orkestra dari alunan angklung siap mengalunkan nyanyian khas bambu yang natural dan menggema di sekolah-sekolah tempat workshop budaya Indonesia yang akan saya presentasikan. SEMANGAT!

Post Navigation

%d bloggers like this: