Saya, Susu dan Cita-Cita Menjadi Tuhan!

Pasti pernah dengar kan cerita Firaun yang ngaku jadi Tuhan di zaman Nabi Musa? Semua orang pasti akan bilang kalau Firaun itu keterlaluan sampai mengaku menjadi Tuhan. Klimaksnya, dia ditenggelamkan di laut saat mengejar Musa. Kita pun berteriak hore saat dia tenggelam. Sebuah tanda akan kemenangan sang Rasul.

Tapi, bagaimana jika saya bilang, dengan jujur, bahwa saya pernah ingin menjadi Tuhan? Apakah kalian akan mengeluarkan cacian juga kepada saya? Apakah kalian ingin saya juga ditenggelamkan di lautan?

Tapi, saya rasa sih kalian nggak akan marah, karena itu semua terjadi di tahun 1989-1990.

Teruuuuus dit kenapa emang kalau tahun 1989?

Saat itu saya masih TK woy, haha! Dan masih ‘ngempeng’ susu instan dari botol! Masih suci, hahaha!

Gila lo dit! Dari kecil udah kafir!!!

HEH! Kan udah saya bilang kalau itu waktu TK! Mau tahu alasannya kenapa saya yakin saya bisa jadi Tuhan?

Yakin mau tahu? Janji ya, nggak akan mengatakan saya kafir!

Satu kata. Susu.

Ya, semua ini gara-gara susu! Konon, susu akan membuat badan kita tumbuh besar, sehat dan kuat. Tentu saja, saya juga mau jadi anak yang kuat dan hebat.

Jadi saat minum susu, saya akan berteriak kesenangan, “Mau minum susu biar kuat kaya Allah!” atau, “Mau minum susu biar bisa jadi Allah!”. Dan biasanya saya mengatakan itu saat meminta susu pada bibik saya di rumah. Hebatnya, saya mengatakannya dengan ceria.

Ini sebetulnya saya jadi mikir sih, ini dulu saya terlalu polos atau bodoh ya? Haha. Tapi, mungkin saat itu, Allah pun tersenyum dan maklum melihat kepolosan saya! Buktinya, saya nggak pernah ditenggelamkan di laut, hehe.

Sehari kadang terasa lama. Tapi, tahun-tahun berganti berlalu nggak kerasa. Saya yang berumur 4 tahun, telah sampai menjadi ‘saya’ yang berumur 26 tahun. Dan saya seringkali rindu ‘kepolosan’ masa kecil saya yang justru menunjukkan ‘keberanian’.

Dengan kekuatan sebotol susu rasa vanilla, dulu saya percaya bisa menjadi si Maha Kuat. Saya pun nggak perlu takut untuk berusaha terus, dengan keras kepala, minum susu sapi bervitamin setiap hari, untuk mengejar cita-cita menjadi Tuhan. Sebuah cita-cita yang pasti nggak akan pernah berhasil.

Tapi, ketika dewasa, ketika merasa ilmu semakin bertambah, justru ketika itu pula saya seringkali takut mencoba untuk mengejar apa yang saya mau. Saya ulang lagi plus bold: Takut mencoba. Dan saya rasa, bukan saya saja yang mengalami ini.

Setiap teringat masa kecil saya yang polos dia atas, saya selalu akan teringat kalau kita perlu meniru keberanian anak kecil dulu. Cita-cita masa kecil saya untuk jadi Tuhan tentu nggak akan pernah kesampaian. Tapi, bukan berati saya nggak akan bisa menjadi ‘Tuan’ dari diri saya sendiri dalam menentukan langkah ke depan kan?

Saya, Erditya Arfah dewasa, berjanji pada Erditya Arfah di masa kanak-kanak, bahwa walaupun takut, saya tetap akan mencoba berusaha, baik nanti hasilnya gagal atau berhasil. Seperti saat ingin menjadi Tuhan yang sudah pasti nggak akan pernah berhasil, tapi saya nggak pernah berhenti berusaha minum susu 4 kali sehari tanpa mikir gimana hasil akhirnya nanti.

Saat SMP, ayah saya pernah memanggil saya, tiba-tiba. Dia menatap saya dan tersenyum lembut berkata, ‘sekarang papa sudah 56 tahun. Waktu nggak pernah kerasa. Masih kerasa kayaknya kaki ini dipakai jalan kaki untuk jualan di Pasar dan sekolah. Dit, kamu nggak akan nyesal bahkan akan senyum atau tertawa bahagia atass usaha kamu dulu, apapun hasilnya. Percaya deh.’

Dan dia benar.

Tulisan ini akan menjelma menjadi ‘mesin waktu’ saya. Tulisan pengingat bahwa saya harus berani untuk mencoba berusaha, walau ada rasa takut di hati. Takut gagal membuktikan kalau saya hanya manusia. Tapi, takut berusaha atau mencoba, justru seperti saya menghina kelebihan saya sebagai manusia.

Mau ikut ‘mesin waktu’ saya?

Advertisements

Single Post Navigation

4 thoughts on “Saya, Susu dan Cita-Cita Menjadi Tuhan!

  1. Meiasa on said:

    Tentu saja saya MAU 😀

  2. Notes From The Toilet Paper on said:

    Anda benar mas, Semakin kita besar kita akan semakin banyak merasa takut untuk ngejalanin sesuatu yg sebenernya terkadang adalah suatu yg sangat kita suka atau ingini…

    Semakin besar semakin kita terlalu sibuk mencari kemungkinan-kemungkinan ini itu..”mungkin nanti gagal, mungkin nanti gak bisa, mungkin..mungkin dan mungkin”

    Ya..ITU!

    Haha..Emang terkadang kita harus bercermin juga pada anak kecil, atau setidaknya sosok kita di masa keciil..yg selalu pengen tau, berani nanya, berani nyoba apa aja tanpa mikirin takut ini dan itu..

    Haha..

    Sipp lah..

    Makin dewasa harus makin berani :p

  3. I bought your book three ays ago and I must say that I AM IN LOVEEE WITH YOUR BOOK 😀

    yeah, childhood is always amazing, it’s the moment when we feel that we are invincible, strong and brave 🙂

    keep amazing dude

  4. habis baca bukumu, aku langsung berubah pikiran dari “gila, Erdit beruntung bisa jalan2 ke luar negeri” –> menjadi “Erdit berusaha keras utk bisa ke luar negeri” 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: