AYAH: PAHLAWAN SAYA SEPANJANG MASA

Scene saat saya menulis ini: London, 2 derajat celsius saja. Situasi hati, damai. Situasi perut, sedang perang a.k.a KELAPARAN!

Setiap orang punya pahlawannya masing-masing. Dan itu biasanya akan selalu berubah dan terus bertambah. Kadar kekaguman kita pun naik-turun. Kadang kadar ‘kepahlawanan’ mereka turun atau hilang sama sekali di hati kita. Bisa jadi, karena kita menemukan ‘pahlawan’ lain yang lebih hebat dibanding dia.

Seperti manusia lainnya dan hidup yang terus berjalan, pahlawan saya juga terus berubah dan bertambah. Saat kecil, pahlawan saya adalah Seiya dari Saint Seiya dan Doraemon. Seiya mengajarkan saya bagaimana berjuang demi keadilan dengan jurus ‘Meteor Pegasus’. Sementara, Doraemon mengajarkan saya pentingnya imajinasi melalui ‘baling-baling bambunya’. Kemudian, saat SMP saya mengenal Sherlock Holmes dan Detektif Conan. Setelah kuliah, saya menemukan banyak pahlawan baru yang saya anggap lebih hebat, mulai dari BJ Habibie, Paolo Coelho si penulis buku Sang Alkemis-nya yang ‘menghidupkan’ mimpi, sampai teman kuliah saya, Adam, seorang asli Cilacap yang berjuang keras menemukan kepercayaan dirinya di Bandung, tapi tanpa harus menghilangkan jati dirinya, termasuk logat ‘ngapak’nya yang kental. Suatu saat saya akan menulis tentang dia juga.

Saya mencuri inspirasi dari mereka, tanpa harus menjadi seperti mereka. Karena, walaupun saya mau jadi orang yang inovatif dan visioner, bukan berarti saya harus punya wajah kucing dan tubuh seperti doraemon kan? hehe.

Pahlawan datang dan pergi, tapi ada satu yang selalu di hati, dan tetap menjadi yang terbaik. Entah terbuat dari ‘lem’ jenis apa, tapi kepahlawanannya pun nempel terus di hati saya. Dialah, ayah saya.

Ayah saya, ayah yang biasa saja sebenarnya. Satu-satunya yang jadi luar biasa adalah, kenyataan bahwa dia adalah ayah kandung saya, bukan yang lain. Kita nggak pernah bisa milih, siapa dan bagaimana ayah atau ibu kita. Tuhanlah yang milih. Dan, itu pasti ada maksud yang baik.

Kata ‘Kepahlawanan’ sendiri adalah sebuah kata yang berat. Kata yang di dalamnya pasti mengandung cerita hebat. Cerita kepahlawanan ayah saya yang paling hebat adalah saat dia bahkan jadi ‘martir’ untuk kebaikan hidup saya. Dia rela terkena siksaan perih kanker hati, tubuhnya menguning seperti bukan lagi makhluk bumi, dan akhirnya meninggal. Lalu, apa hubungannya dengan hidup saya? Banyak.

Saat ayah saya meninggal, saya nggak tahu alasan apa yang ada di benak Tuhan, sampai dia tega gitu aja ngambil nyawa ayah saya, di saat umur saya masih labil, bahkan belum mengenal rasanya first kiss gitu. Saat itu, saya dikecewakan Tuhan. Dan serius kawan, pahitnya rasa kecewa itu lebih parah di banding diputuskan oleh kekasih Anda di hari ulang tahun (Ihik! Saya pernah ngalami ini juga, haha).

Waktu berjalan. Kemewahan hidup dengan ayah pun hilang. Bukan hanya soal materi, tapi juga soal momen. Ini berarti saya gak akan bisa main gulat-gulat WWF lagi dengannya, saya nggak bisa curhat tentang first kiss saya nanti, tentang putus cinta, dan dia sudah pasti nggak akan ada di wisuda saya atau bahkan saat saya nanti menikah. Percayalah, momen manis itu lebih penting dari sekedar materi.

Katanya setiap kejadian itu ada selalu alasannya. Tapi, saat ayah saya meninggal saya nggak ngerti alasan Tuhan. Kenapa Dia nggak menggunakan ‘Kemaha-annya’ untuk menyembuhkan ayah saya, tapi malah membuatnya merasakan nafasnya yang terakhir.

Saya merasa Tuhan nggak fair, karena hanya memberi saya kesempatan untuk kenal ayah saya di waktu yang sangat sedikit. Umur saya 15 tahun saat itu. Selama itu pula saya kenal dia. Membuat dia kembali hidup tentu mustahil.

Tapi, apakah kematian seorang akan membuat kita tidak bisa mengenalnya lebih jauh? Ayah saya meninggal di umurnya yang ke-58.

58-15 = 43 Tahun!

Benar, jadi ada 43 tahun dari hidup ayah saya yang nggak pernah saya tahu. Masih misteri. Saya pun ingin mencoba melihat sejarahnya, untuk mengenal dia lebih jauh lagi.

Dan dasar Tuhan. Dia pun campur tangan di urusan ini.

Suatu ketika, saya menemukan sebuah foto di dalam koper kecil yang jeleknya minta ampun. Di gambarnya ada beberapa anak remaja dan anak kecil. DI belakang foto tua dan usang itu, ada tulisan tangan yang jelek banget tapi maknanya dalem abis, yaotu ‘Biarkan kami paling miskin di desa kami, saya bahagia bisa foto bersama adik-adik saya’. Ya, itu adalah foto ayah saya dan adiknya. Dan itu tulisan tangan dia.

Saya tahu ayah saya harus berjuang untuk sekolah, tapi saya nggak pernah nyangka dia dulu sesusah itu. Kenapa? Karena saya mengenal dia, ketika dia sudah cukup secara materi. Saya mengenal dia saat dia sudah menghasilkan banyak uang. Saya megenalnya saat dia sudah dihormati banyak orang.

Saya pun mulai mencoba mencari tahu jalan hidup ayah saya. Dia cukup beruntung bisa sekolah sampai SMA. Di berjualan segala macam sampai petasan, yang tentunya dia akan dirazia kalau itu dilakukan saat ini. Dia juga beruntung diangkat seperti anak sendiri oleh keluarga baik yang bersedia menampungnya tinggal di kota Bandung.

Setelah sempat drop out dari Unpad jurusan Ekonomi karena nggak punya biaya, dia lanjut ke sekolah gratis yaitu APDN, kalau sekarang IPDN, sekolah untuk menghasilkan para PNS. Akhirnya dia bisa menjadi PNS dengan posisi yang sangat penting di masa hidupnya.

Oiya, ada satu cerita yang kalau saya tahu saat dia hidup, tentu saya akan ‘puk-puk’ bahu dia. Bahkan karena miskinnya dulu, dia pernah ditolak bahkan sampai diludah oleh seorang perempuan yang menolak lamarannya (Tentu bukan ibu saya!). Dan sialnya ini bukan adegan sinetron striping macam Putri Yang Ditukar atau apapun itu dengan judul dramatisnya. Ini Nyata. Ah, poor you dad, haha!

Sejak melihat foto usang itu saya seperti berani punya cita-cita. Saat itu, saya hanya ingin membuktikan bahwa tanpa seorang ayah pun, saya baik-baik saja. Saya nggak mau kalah sama ‘cerita hidup’ ayah saya. Ajaibnya, setiap ingat foto tersebut semangat saya biasanya kembali muncul! Buat saya foto itu adalah jimat saya!

Sejak itu, saya mulai berani bercita-cita. Saya juga coba berdoa. Baik ketika rajin sholat setiap hari, ataupun saat lemah iman dengan hanya sholat seminggu sekali pada hari jumat saja. Biasanya di sujud terakhir, saya akan ‘meminta’.

Waktu itu doa saya adalah lulus SPMB untuk masuk Unpad. Pertama, karena dulu ayah saya gagal lulus dari Universitas negeri inii. Kedua, biar biaya kuliah saya bisa murah. Mengapa kuliah murah menjadi penting? Kedua kaka saya kuliah di universitas swasta ternama Jakarta. Biayanya mahal! Dan saya nggak mau uang ibu saya hanya habis untuk biaya kuliah saya nanti.

Pikiran ini tentu mustahil muncul di kepala saya, jika ayah saya dengan segala materi yang dia dapatkan dari pekerjaannya, masih ada. Akhirnya, saya masuk Unpad, dengan biaya kuliah untuk angkatan saya, hanya sekitar 375 ribu/semester, sampai saya lulus! Biaya kuliah saya sampai lulus bahkan lebih murah atau sama dengan biaya kuliah kaka saya per semester. Dari situ pun langkah saya pun mulai berani lagi melangkah lagi ke tempat atau tujuan yang rasanya saat itu nggak masuk akal.

Waktu pun berjalan. Sekarang akhir 2011. Ayah saya meninggal di China, tahun 2001. Dan ‘Titik-titik’ saling terhubung.

Selama kurun waktu 10 tahun setelah ayah saya meninggal, hidup saya berubah. Positif tentunya. Saya melangkah ke tempat yang bahkan nggak pernah dia, ibu, atau kakak saya dapatkan.

Saya mendapatkan kesempatan menjadi delegasi Unpad untuk ikut HNMUN ke Amerika Serikat. Dengan sumringah saya bisa melihat Lincoln Memorial, di Washington DC, tempat bersejarah dimana Martin Luther King berpidato menuntut persamaan haknya dengan judul ‘I Have a Dream’.

Washington DC, 2008.

Ketika satu pintu terbuka, maka ia akan membuka pintu-pintu kesempatan lainnya. Kemudian, saya bisa main angklung dan wayang di Eropa, walaupun saya bukan seniman sungguhan. Saya juga menulis buku ‘Merah Putih di Benua Biru’ yang diterima baik di masyarakat.

Main Angklung di Polandia, 2009

Dan sekarang, saya mendapatkan beasiswa untuk kuliah di London, Inggris.

London, 2012

London, 2012

London 2012

Ya, setiap kejadian ada alasannya. Dulu saya nggak ngerti kenapa ayah saya harus meninggal. Tapi, setelah berbagi ‘titik-titik’ kejadian terhubung, saya mulai mengerti.

Kematian ayah saya ternyata memang diharuskan untuk membuat hidup saya menjadi lebih baik. Dan dengan kematian tersebut, ayah saya justru telah menjadi pahlawan terhebat! Dia bahkan rela menerima takdir kematiannya, mati lebih dahulu tanpa melihat anaknya tumbuh dewasa, tapi demi kehidupan anaknya yang lebih baik.

Ya, ayah saya adalah pahlawan paling hebat yang saya miliki, selain tentu ibu saya yang tetap berjuang dan memilih tidak menikah lagi saat ayah saya tiada.

10 Tahun yang lalu saya marah pada Tuhan, karena seenaknya Dia ‘ambil’ ayah saya. Tapi, 10 tahun kemudian, saat ini, saya bersyukur, Tuhan mengambil ayah saya. Karena ternyata, kematiannya di saat saya masih remaja tersebut, telah jadi salah satu titik balik terpenting dari hidup saya.

Kita nggak perlu mengerti alasan kejadian pahit yang kita alami saat ini. Pastikan kita tetap melangkah, dan bisa jadi kita akan menemukan alasan manis di balik rasa pahit tersebut. Dan dari situ, kita akan bersyukur.

Surat Khusus untuk Ayah Saya.

Saking kagumnya sama ayah saya, saya dedikasikan satu chapter khusus untuk dia di buku pertama saya ‘Merah Putih di Benua Biru’, sebuah buku tentang misi budaya saya di Eropa. Chapter tersebut bisa dilihat di bawah ini.

EPILOG: LETTER TO MY FATHER

Hai pah..what’s up? gimana taman surga? asyik nggak?Pah, aku lagi nginjak tanah yang nggak pernah papah injak nih. Eropa. Untuk urusan ini, aku sudah ngelebihin papah. Seperti yang papah mau dulu.

Bukan cuma soal ke Eropanya, tapi seneng deh ngeliat bocah-bocah di sini ternyata demen segala sesuatu tentang Indonesia, mulai dari sejarah, budaya, main angklung dan wayang golek. Papah inget kan kalau dulu kita suka nonton wayang goleknya Asep Sunandar Sunarya sampai subuh di TV. Terus, abis itu kita pasti adu gulat berlaga jadi Gatot Kaca versus si Buta. Aku Gatot Kaca, papah jadi si Buta. Ya, paling nggak ini kita mainkan sampai era WWF tiba, dan sejak itu aku jadi The Rock, papah jadi Triple-H. Absurd ya?

Eh pah, tiap jalan di sini, tiap masuk kelas, tiap aktivitas, aku seperti ngeliat wajah papah terus. Ngintip terus ya pah dari atas? Apalagi kalau di sini lagi ngedongeng cerita rakyat. Jadi, inget dulu papah suka cerita Lutung Kasarung dan Ciung Wanara. Dua dongeng yang dulu papah terus ulang dan ulang.

Eniwei, aku mulai bersyukur papah “dipanggil” 10 tahun yang lalu. Saat aku masih super manja dan baru kenal namanya cinta monyet. Dulu saya menyalahkan Allah. Tapi, seiring waktu aku sadar kalau itu adalah sebuah “les privat” dari Allah untuk lebih siap menghadapi hidup. Dan nggak semua anak ngerasain ditinggal orang tua saat masih kecil atau masih labil. Aku jadi ngerasa sebagai orang pilihan.

Apalagi setelah saya nemuin foto hitam-putih papa jaman kecil dengan tulisan “Ini saya dan adik-adik saya. Senang, walaupun di kampung kami paling miskin.”

SUMPAH, sejak itu, aku jadi berani punya mimpi besar. Mimpi ngelebihin papah. Mimpi meraih lebih dari apa yang papah dapat. Eh, tapi ini bukan soal uang. Tapi, soal pengelaman hidup. Soal nilai hidup. Seperti yang papa dulu pernah bilang “Kaya itu penting, tapi punya nilai buat orang jauh lebih penting.”

Sejak itu aku juga mau ngebuktiin aku bisa ngeraih apa yang aku mau. Tiap kali gagal, saya tinggal ingat foto papah itu dan akhirnya bisa berkata “i will find my own way.”

Maafin juga pah, aku juga kadang “keras” sama si mamah. Ya, emang aku nggak bisa manis dan pura-pura suka kalau emang aku punya pendapat lain. Mudah-mudahan dia ngerti. Maafin juga aku belom bisa menuhin amanat papa untuk solat 5 waktu. Susah pah.

Oke deh. Sudah dulu ya. Saya mau balik ngajar anak-anak di sini tentang Indonesia lagi. Baik-baik ya pah di sana.

Eniwei, Di sini dingin pah. Apalagi kalau lagi musim dingin. Apalagi kalau nggak pake kolor.

Di sana ada musim dingin nggak pah? Ehm, papah pakai kolor kan?

Miss you. – your son, on Earth-

***
Kelak, saya juga akan menjadi seorang ayah. Semoga, suatu saat nanti, saya juga bisa menjadi pahlawan yang hebat untuk anak saya.

Advertisements

Single Post Navigation

15 thoughts on “AYAH: PAHLAWAN SAYA SEPANJANG MASA

  1. subhanallah.. merinding baca suratnya mas 🙂
    wah.. jadi kepingin juga bisa ke luar negeri.
    sukses terus yah mas ^_^

  2. Pengalaman kita ga jauh beda 😉 Ditinggal ayah saat umur masih muda, tp saya msh lbh beruntung 5 tahun lbh lama bs bersama Ayah dr kamu.. Saya pun sempat bertanya kpd Allah, knp harus saya yg mengalaminya?! Dan perlahan tp pasti, Allah memberi jawabannya, kenapa harus saya.. Allah emang ngga pernah salah memilih hambaNya utk mdapat ujian ini 😉

  3. cerita diatas membuat saya merasa bodoh karena masih belum bisa merelakan kepergian ayah saya. beruntunglah kamu bisa mendapatkan sisi positif dari kepergian papah kamu. :’)

  4. (Mas) Erdit, ini Ikhsan temen kuliahmu, masih inget kan,,, Luar biasa! Terinspirasi banget! Lucu! Salut! Sekali lagi luar biasa!

  5. erditya arfah on said:

    Hi all, thanks udah baca ya 🙂

    @Ikhsan: wiiih apa kabar? msh setia jd guru kan? kereeeen!

  6. Mas Erdit, saya Akbar mahasiswa UNDIP. Baru sekali baca blogmu, tapi LUAR BIASA menginspirasi. Saya jd lebih bersyukur krn masih punya seorang Ayah..Thanks for Inspiring

  7. Mas Erdit, aku terharu bacanya, asli sumpah…., untung tdi pgi aku dah telp Ortu, bahagia bgt bs denger suara mereka. Tulisannya inspiratif bgt, Mas

  8. Meiasa on said:

    Sampai nangis bacanya :’) Salut!! Hebat!!!

  9. jadi teringat almarhumah mama saya 🙂 … goodluck lads !

  10. terharu bacanya 🙂
    Good luck disana ya

  11. mudah2an saya bisa ngikutin jejak mas erdit, “kematian ayah saya ternyata memang diharuskan untuk membuat hidup saya menjadi lebih baik” 😀

  12. euu… jadi inget bapakku yang dulu juga hidup di daerah terpencil yang sekarang bahkan masih terpencil, tapi sekarang bisa masukin saya ke sekolah 😦

  13. Andi Rahman Nugraha on said:

    Terharu sob bacanyaa.. lo bisa ambil hikmah dari kepergian seorang Ayah..
    kalau boleh tau, mas erdit dapat scholarship di westminster yah? boleh share infonya ngga mas untuk persyaratan yg di lalui apa aja? 😀 thanks.

  14. Inspiratif sekali,pengalamn qt sama mas..smg bs nyusul mas k london!! Amiinnnnnn..

  15. Ayak on said:

    Nice story mas, terimakasih sudah mau berbagi. Semoga cerita saya ada kemiripan dg mas setelah ditinggal papa saya sebulan lalu. Semoga saya dan keluarga juga mendapati titik balik sbg pintu lain yg terbuka untuk gantinya usia papa saya yg telah tertutup. Amiin.
    Semoga terus sukses dunia akhirat mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: