1st On-Air: Panggung Merah Putih di Benua Biru

Untuk pertama kalinya saya on-air di stasiun radio, dalam sebuah acara yang disebut The Sound of Movement. Sebuah acara baru dari Oz Radio Jakarta yang dipandu Abenk SoulVibe. Ini yang menyebabkan saya bolak-balik ke toilet untuk melakukan ‘itu’. Woy, jangen ngeressss! Pipis maksudnya! Sedikit katro memang, apalagi sebagai lulusan Komunikasi Unpad yang harusnya terbiasa dengan urusan seperti ini.

Tapi selama 1 jam, saya merasakan suatu momen yang menyenangkan. Excited! Dari beberapa pertanyaan yang masuk, ada salah satu pertanyaan yang saya ingat terus, yaitu:

‘Bisa share inspirasi dan alasan lo melakukan perjalanan ini dan membuat buku Merah Putih di Benua Biru?’

Saya sudah menjawab saat itu, tapi saya akan berbagi jawaban saya yang lebih detail buat yang belum sempat dengerin. Dan ini Jawabannya:

Saya suka banget nonton Timnas Indonesia di Gelora Bung Karno. Tiap lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh sekitar 80 ribu orang rasanya bergetar! Di atas ‘panggung hijau’ tersebut, 11 pemain timnas berjuang dengan dukungan, nyanyian, tepukan, bahkan cacian. Ya, itu semua adalah bentuk kecintaan kita untuk mereka.

Sayang, saya bukan Bambang Pamungkas. Walaupun rambut saya berponi, tapi saya juga bukan Ahmad Bustomi. Saya juga nggak punya kaki lincah atau wajah ganteng Irfan Bachdim.

Mereka jadi inspirasi masyarakat Indonesia.

Selain para atlet di atas, masih ada para seniman atau pemusik macam Djaduk Ferianto, Trie Utami, Dwiki Dharmawan, atau Alm.Elfa Secioria, yang sering membawa nama Indonesia di kancah Internasional.

Kita juga punya para pelajar jenius yang sudah menjadi juara olimpiade Fisika, Matematika, dan sebagainya. Banyak pula kelompok pelajar yang memenangi kompetisi tari, seni, atau musik di berbagai kompetisi level dunia.

Mereka semua adalah duta Indonesia.

Saya iri.

Saya mau jadi seperti mereka. Walaupun bukan atlet, bukan seniman, bukan penyanyi, tapi saya juga mau membawa nama Indonesia seperti mereka.

Inilah yang akhirnya jadi salah satu alasan saya pergi ke Eropa dan mengajarkan budaya Indonesia di sana, walaupun saya bukan seniman atau budayawan. Selama di sana, saya membuat ‘panggung’ saya sendiri. Panggung yang tentu nggak semegah Gelora Bung Karno.

Tapi saya tetap memiliki semangat positif untuk mengenalkan Indonesia di sana. At least, saya ingin membuktikan bahwa siapapun (orang biasa sekalipun) bisa punya peranan untuk membawa nama Indonesia, walaupun dengan keterbatasan yang banyaknya luar biasa.

Ternyata, para murid di Polandia sangat antusias dengan apa yang saya lakukan. Hal simpel, asal pakai hati, ternyata bisa juga ‘menyentuh’ mereka. Ini yang bikin saya makin mantap buat nulis buku #MerahPutihBB. Apalagi kalau mengingat mata jujur mereka yang begitu amaze-nya main angklung atau senyuman tulus saat bermain drama absurd dengan wayang golek, atau wajah bingung mereka ketika melihat gerakan tari saman atau saat membayangkan mencoba buah durian.

Rasanya sayang kalau cerita ini berakhir di ingatan saya belaka. Selain itu masih ada alasan lain….

Ketika Firman Utina Dkk berlaga di piala AFF, 80 ribu pasang mata, hati, mata dan telinga, bahkan indera perasa pun ikut merasakan setiap momen di lapangan hijau. Belum lagi ratusan ribu penonton lainnya dari layar kaca. Ketika Timnas Indonesia menang, seluruh masyarakat akan merasakan kegembiraan luar biasa. Begitu juga sebaliknya saat kalah.

Saya sadar panggung saya nggak sebesar itu. Di Polandia saya hanya mengajar maksimal 20-30 murid tiap kelas. Walaupun sehari bisa sampai 4-5 kelas, tetap saja sangat jauh jika dibandingkan dengan level atlet Indonesia yang mewakili Indonesia di ajang internasional.

Oleh karena itu, buku ini ibarat ‘alat’ yang memegahkan ‘panggung’ saya. Memperbesar jangkauan ke orang lain, ke pasang mata, kuping, telinga dan hati. Walaupun saya nggak dilihat banyak orang ketika melakukan aktivitas di Polandia, tapi dengan buku ini diharapkan bisa membuat orang lain merasa hadir di sana. Merasakan rasa bangga, gembira, sekaligus terharu yang saya rasakan saat melihat ketulusan mata para murid yang kagum akan Indonesia, walau dengan hal simpel sekalipun.

Dengan buku ini diharapkan, para pembaca terutama anak muda (tanpa perlu saya datang ke tiap sekolah atau universitasnya) bisa merasakan semangat bahwa siapapun bisa menjadi duta bangsa dengan cara yang kita suka dan bisa.

Ya, rasanya aneh kalau membawa nama Indonesia atau menjaga budaya kita yang kaya hanya dibebankan ke para seniman, artis, jenius fisika, atau atlet saja. Itu tugas kita, saya, kamu, kami, semuanya.

Caranya bisa beda, tapi semangat positifnya harus sama. Let’s do it. 🙂

Advertisements

Single Post Navigation

2 thoughts on “1st On-Air: Panggung Merah Putih di Benua Biru

  1. Pingback: Tweets that mention 1st On-Air: Panggung Merah Putih di Benua Biru « Erditya Arfah -- Topsy.com

  2. Hiya, I am really glad I have found this iinormatfon. Nowadays bloggers publish only about gossip and web stuff and this is really frustrating. A good site with exciting content, that’s what I need. Thanks for making this website, and I’ll be visiting again. Do you do newsletters? I Can’t find it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: