Celoteh saya mengenai Celoteh

Celoteh. Mimpi. Doa.

Celoteh. ya, saya gemar bercerita kepada siapa saja. sahabat boleeeh, teman biasa tidak masalaaaah, saudara deket pastiiiinya, orang tua pacar juga kadang-kadang. Bahkan seringkali ke orang yang baru saya kenal lima menit sebelumnya. saya berceloteh mengenai mimpi. terkadang sambil tersenyum, tertawa. terkadang sambil membual. bukan sembarang bualan. karena bualan ini bersatu padu dengan mimpi. dengan angan. dengan asa dan keyakinan untuk bisa menginjakkan kaki di Eropa.

Celoteh ini tidak akan dimulai jika tidak pernah mengingat bualan atau lebiih tepatnya candaan ibu saya ke orang tua teman saya bahwa beliau akan menyekelohkan saya di Jerman (lihat posting berjudul bagaimana saya sampai disini?).

Celoteh dan bualan yang saya ucapkan juga bukan tanpa alasan. saya tidak ingin hidup biasa. saya membual kepada teman saya bukan karena saya ingin sombong . Atau dicap keren karena dengan belajar bahasa Jerman saya bisa mengatakan

“ya saya akan ambil master di Jerman”. ini salah satu contoh dari celoteh saya. Padahal saya tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak.

Saya hanya bersiap diri. Dengan celoteh dan bualan tersebut, otak saya terpacu, hati saya tergerak untuk membuktikannya. Tidak ingin hanya menjadi sekedar angan dan doa. Saya ingin mewjudukannya. Impian saya. Impian orang tua saya agar anaknya lebih darinya.

Seorang teman yang sudah kuliah di luar negeri mengatakan saya tidak realistis. Terlalu bermimpi. Dia mengatakan bahwa hidup itu keras dan manusia harus realistis. Tidak ada yang namanya cinderella story.

Kalau saya boleh membantah, saya akan menjawabnya dengan: Ya bener, hidup itu realistis. tapi bukan berarti jadi pesimis. realistis itu berarti bagaimana menjadikan mimpi Anda menjadi real. Nyata. inilah realistis versi saya. Celoteh saya mengenai mimpi saya telah membius otak saya untuk terus berbuat. Melakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi saya tersebut. Untuk menjadikan saya tidak menjadi sekedar pembual. Untuk menjadikan diri saya tidak sebagai pembohong. Celoteh saya membuat tangan saya bergerak menulis impian itu semua dan menempelkannya di sudut-sudut kamar saya. Temen-temen kampus pun pernah melihatnya.

Celoteh saya juga yang membuat saya sering membuka situs-situs mengenai travelling dan studi di Eropa. Saya tahu ini sulit. Tapi rasanya lebih sulit bagi hati saya untuk mengatakan tidak mungkin. Pertanda saya sudah melampar handuk. Menyerah. Lebih sulit bagi saya untuk mengubur impian saya sejak kecil.

Celoteh memang ajaib. Ditambah dengan sedikit saja optimisme, celoteh impian Anda kepada dua “t” saja, yaitu teman dan Tuhan, akan menjadi mantra ajaib untuk berbuat. melakukan sesuatu. Yang terkadang sejalan dengan mimpi yang kita inginkan, namun seringkali juga seakan tidak sesuai dengan impian yang Anda raih. Berkesan tidak nyambung.

Tapi memang selalu ada jalan menuju suatu tempat. Terkadang lurus tanpa hambatan dan tujuannya sudah keliatan. Seringkali penuh kelokan yang memiliki kejutan-kejutan kecil dan besar di sudutnya. Seringkali bahkan harus memutar jauh ke belakang. Saat Anda memutar atau ke arah lain, mungkin kita heran dan merasa kita salah arah atau tiada hubungannya sama rencana kita.

Tapi Tuhan dan alamnya juga punya rencana. Mungkin Dia ingin kita mengambil “jalan” lain. Terkesan tidak ada hubungannya, tetapi berakhir di muara yang sama. Muara mimpi yang selalu kita inginkan.

Ya, celoteh saya membawa saya berbuat. Melakukan sesuatu. Menemukan dan melalui ke banyak jalan. Jalan yang terkadang nyambung, tidak nyambung, terkesan ga ada hubungannya sama sekali. Tetapi, ya inilah jalan yang telah saya raih. Jalan yang akhirnya membawa saya ke sini. Ke Eropa. Ke tempat saya berdiri saat ini.

Sekarang saya bisa berceloteh kepada teman-teman saya mengenai romantisnya menyusuri jalan panjang bernama Nowy Swiat, kota tua di Warsawa. Indahnya pemandangan kota tua dan istana Wawel di krakow, ditengah lampu-lampu yang menghias suangai vistula. Tragisnya suasana di Auschwitz, sekaan Anda bisa merasakan penderitaan orang-orang di kamp konsentrasi, entah teori Holocaust benar adanya atau tidak. Klimaks di hati saya tercipta saat momen-momen meninggalkan jejak budaya Indonesia beberapa sekolah di Polandia.

Saya pun bisa berceloteh kepada ibu saya bagaimana rasanya menghadiri festival bersejarah Mauerfall 2009 yang memperingati 20 tahun runtuhnya Berlin. Melihat semaraknya festival kecil-kecilan di Mainz dan gedung0-gedung pencakar langit di dekat sungai Rhein yang ,menyusuri kota Frankfurt. Belum lagi ditambah Koelner Dome yang luar biasa.

Saya juga bisa melangkahkan kaki saya guna mengaggumi kanal-kanal di Amsterdam dan Red Districtnya yang menjajakan wanita di kaca-kaca seperti meenjajakan ikan segar di akuarium. Pengalaman fantastis.

Sekarang pun saya bisa berceloteh bagaimana rasanya melihat kotanya para filsuf: Paris. Konstruksi besi yang berdiri di hadapan saya saat ini bukanlah sebuah sutet listrik raksasa. Ya dialah Eiffel, yang kalau malam menjelma menjadi sangat cantik dengan lampu-lampu yang menghiasanya. Bagaikan make up yang menjadikan wanita semakin sempurna. Dan Eiffel hanyalah titik dari banyak yang harus Anda lihat kalau datang ke Paris. Banyak yang jauh lebih indah.

Celoteh saya kepada mereka pun akan semakin membusa mengenai kota mode Milan. Stadion San Sironya, yang selalu saya impikan untuk datangi. Piazza Duomonya yang tidak kalah dengan Notre Dame di Paris, dan sajian Italia asli yang tidak hanya enak, tetapi niiiiiiikmat.

Ya, siapa sangka celoteh ringan kepada orang terdekat, menjelma menjadi langkah-langkah menuju mimpi saya dan celoteh saya mengenai impian yang telah diraih. Jadi, Jangan remehkan orang yang bercerita mimpinya kepada kita. Sikap kita, bisa jadi menentukan nasibnya. Seperti sikap mereka yang membantu saya untuk terus melangkah….

Advertisements

Single Post Navigation

3 thoughts on “Celoteh saya mengenai Celoteh

  1. hmm..
    nice posting.. 🙂

    jd inget sebuah sore di Nowy Swiat,, dalam hati aku berceloteh betapa indahnya sore itu.. ditemani secangkir coklat hangat dan ‘keluarga’ baru yg sangat ramah+baik..

    terima kasih untuk perjumpaan beberapa hari ini..
    hope to see u success someday in another journey.. 😀

  2. Karinatasha on said:

    So proud of you. This story give me spirit to get all my dream. Takecare on your way home :))

  3. klo lg waktu kosong,blog lo masih suka iseng gw baca-baca lagi dit.
    msh ga bosen bacanya. buruan deh bukunya selesai.. ditunggu. btw, klo sempet, tulis satu blog lagi dong, bebas apa aja, pengalaman lo pulang dr poland n tiba di indo juga seru tuh kynya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: