Unity in Diversity: My Ultimate Day!

24 September 2009. Saya bercermin di sebuah toilet. Toilet untuk pria tentunya. Saya rapihkan batik lengan panjang berwarna gradasi cokelat dengan bordiran wayang di dada sebelah kanan yang sudah saya kenakan. Batik spesial yang dibuat khusus oleh desainer muda yang satu kantor dengan saya. Tidak gratis, tapi saya mendapatkan diskon khusus darinya. Diskon yang tidak diketahui oleh teman-teman kerja lain yang juga memesan batik padanya. Sssssst,,rahasia yaa,,jangan bilang siapa-siapa!

Sekarang, Saya tinggal mengancingkan ujung lengan kanannya saja. Dan, saya sempurna. Hari ini penting, karena kami, para peserta exchange, diundang untuk tampil dalam acara bertitel Unity in Diversity. Sebuah gelaran spesial yang diadakan oleh Zespol Szkol Ponadgymnazjalnych Radzyniu Podlasikim, salah satu sekolah publik ternama di Radzyn Podlaski, Polandia.

Perbedaan seringkali membuat masing-masing dari kita heran. Saya begitu heran sekaligus kagum dengan wanita bermata hijau. Cantik. Mana ada di Indonesia. Hmmm, ada sih tapi hijau palsu dari soft lens. Sementara, teman-teman saya di sini melongo dan takjub saat pertama kali melihat saya dengan lincahnya makan pakai jemari saya. Ya, di Eropa mana ada, tapi di Indonesia sudah dibiasakan sejak dulu kala. Siapa coba orang Indonesia yang tidak pernah makan dengan jemarinya langsung?

Kita memang terlahir di tempat berbeda, negara berbeda, tradisi berbeda, cara hidup yang berbeda, atau apapun yang seakan memisahkan manusia satu dengan yang lainnya. Tetapi, satu hal yang penting: kita hidup di Bumi yang sama, meski di belahan dunia yang berbeda. Itulah yang menjadikan manusia harus saling menghargai dan sadar bahwa perbedaan itu yang membuat dunia itu menarik dan kaya.

Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh acara ini. Sekolah menengah ini mengundang kami para Exchange Participant, yaitu Fernanda (Brazil), Saya (Indonesia), Nino (Georgia), Chuncen (China), Gork dan Basak (Turki). Tidak ketinggalan, Ewellina (Polandia) yang merupakan penanggung jawab kami pun turut hadir.

Setelah dibuka dengan dua bahasa, Polandia dan Inggris oleh Kepala Sekolah, acara dimeriahkan oleh kelompok tari atau dansa anak-anak Polandia. Mereka memainkan dua koreografi dansa khas Polandia. Satu kata yang bisa saya katakan mengenai penampilan mereka: Luar Biasa. Ya, mereka berhasil menularkan keceriannya kepada para pengunjung acara ini. Semua ikut bertepuk tangan seirama dengan musik yang mengiringi tarian mereka. Walaupun salah satu dari mereka terkadang lupa dengan gerakan tari yang harus dilakukan, tetapi keberaniannya patut diacungi jempol.

Sekarang saatnya kami bernyanyi bersama. Ya, setelah kami dibuat ceria oleh anak-anak tersebut, sekarang atmosfer bertambah hangat dengan penampilan dari kelompok paduan suara sekolah ini. Mengenakan baju tradisional Polandia, mereka menyanyikan beberapa lagu rakyat Polandia. Pengunjung yang memang kebanyakan warga asli kota ini turut hanyut dalam nyanyian-nyanyian tersebut. Sementara, walaupun tidak mengerti sama sekali, kami terutama saya ikut mengeluarkan suara. Untungnya ada bagian dari beberapa lagu tersebut yang hanya humming tanpa lirik. Nah, disitu kami juga beraksi.

haaaa aaah, hooooooo” Kami berteriak. Hasilnya: semua orang menoleh ke arah kami..Kami tidak peduli. Terlanjur asyik nih…..

Ada kejadian lucu ketika paduan suara tersebut tampil. Karena memang dipersiapkan dadakan, seringkali mereka lupa lirik dan akhirnya hanya humming bersama. Disitulah kami dengan senang hati berteriak dan bernyanyi bersama mereka, hehe.

Kemudian, Chunchen (Cina) dan Fernanda (Brazil), melakukan presentasi mengenai negaranya masing-masing. Fyi, sudah seminggu mereka memang bertugas di sekolah ini. Chuncen mengajarkan pengunjung cara menggunakan sumpit, sementara Fernanda mengajarkan tarian samba. Kali ini, dia diiringi musik yang dimainkan langsung oleh Kepala Sekolah. Semuanya goyaaaang, kata Fernanda. Hmmm, goyangannya mampu mengajak para pengunjung terutama para pria yang duduk di barisan depan untuk maju dan mencoba samba dengan Fernanda.  Entah kenapa saya teringat dengan goyangan para penyanyi dangdut yang juga mampu menghipnotis para penontonnya. Tidak ketinggalan, Nino (Georgia) pun menunjukkan tariannya.

Sekarang giliran saya. Inilah alasan saya mengenakan batik dengan rapih-jali. Karena saya akan merepresentasikan Indonesia dalam sebuah acara formal. Saya perlahan maju. Ahhh, semua mata memandang saya. Entah apa yang dipikirkan mereka. Mungkin sebagian dari mereka bertanya-tanya mengenai baju yang dipakai. Sebagian lagi berpikir apa yang akan saya tampilkan. Atau mungkin sebagian besar berkata dalam pikirannya, nah anak ini niih yang tadi ikutan nyanyi teriak-teriak dengan suara fals… Saya tidak ambil pusing dan terus melangkah. Ah, mungkin ini yang dirasakan para selebritis dunia…STOP! Khayalan Selesai..

Setelah berdiri di depan panggung, saya menyapa dengan sap;aan bahasa Polandia. Strategi ini sellau berhasil meluluhkan dinginnya hati orang-orang Polandia. Apalagi ketika saya mengatakan Woda Mineralna, Nie Gazowana (baca-Voda mineralna, Nye Gasovana). Yang artinya, Air Mineral, Tanpa Soda/Gas. Suasana sudah mencair. Saatnya mengeluarkan senjata pamungkas. Saya mengambil box isi angklung dan mengeluarkannya satu persatu. Mereka kembali terdiam. Wajah semua pengunjung tampak heran dengan instrumen khas Jawa Barat ini. Mungkin mereka bertanya-tanya, apakah ini alat musik, Kalau alat musik,lalu bagaimana cara memainkannnya. Atau jangan-jangan ini salah satu senjata pemusah massal khas Indonesia..hehe.

Okay, saya tidak akan membiarkan mereka bingung dan berpikir macam-macam mengenai angklung ini. Setelah saya memperkenalkan alat musik bambu ini kepada mereka, saya meminta 8 orang sukarelawan untuk maju ke depan dan bermain bersama saya.

“8 Volunteers, Please? “, teriak saya.

Hssssssssssssssss..semilir angin baru saja terdengar menampar pipi saya. Suasana hening. Mereka terdiam dan tidak ada yang mau maju. Sulit nih… Akhirnya, saya memanggil Fernanda, Claudio, Gork, Basak, Nino dan Chuncen, Ewellina. Ya, ini sekaligus akan menjadi penampilan kami untuk pertama kali memainkan orkestra angklung bersama. Tapi, tunggu! Kami butuh satu orang lagi. Akhirnya ada satu orang guru yang berani maju dan ikut bersama kami. Formasi sudah lengkap. Let’s Play!

Saya membariskan mereka sesuai dengan tangga nada dasar. Setelah mengajarkan mereka cara menggoyangkan Angklung, saya mulai menunjuk satu-persatu berurutan mulai dari nada Do-Re-Mi-Fa-So-La-Si-Do. Suara-suara dari bambu yang indah dan damai mengalun memenuhi ruangan. Semua fotografer yang hadir langsung mengabadikan momen ini. Baru saja nada Do kecil selesai, tepukan meriah yang panjang dan tanpa henti memenuhi semua ruangan. Padahal, ini hanya latihan cara memainkannya saja. Kami bahkan belum memainkan sebuah lagu satu pun! Kami pun membungkuk layaknya tim orkestra yang handal.

Selanjutnya kami memainkan lagu Julio Igglesias, Fallling in Love with You. Lagu ini memang menjadi andalan saya.  Selain mudah untuk dilmainkan secara dadakan, lagu ini juga dikenal tua dan muda. Abadi. Begitu nada terakhir dari lagu ini dimainkan, bukan hanya tepukan panjang lagi memenuhi ruangan. Tetapi, teriakan More,,More,,More..More..!dikumadangkan dengan kompak oleh semua pengunjung.

Saat itu, saya hanya menunduk hormat kepada mereka. Perasaan haru dan bangga karena telah berhasil mengenalkan budaya Indonesia menggembung di dada saya. Tidak pernah menyangka, permainan angklung yang sederhana ini mampu membuat mereka terkagum.

Oke, saya memenuhi permintaan mereka. Saya akan memainkan lagu lain, tetapi saya ingin pemain angklung yang baru.

“8 New Players, Please??”, tantang saya.

Kalau pada kesempatan pertama mereka malu-malu, sekarang semuanya berebutan untuk maju. Semuanya tunjuk tangan. Bahkan langsung inisiatif maju ke depan, termasuk sang kepala sekolah. Alhasil, bukan 8 orang yang datang, tetapi 12 orang. Dengan terpaksa saya harus memilih 8 orang di antara mereka.

Kami memainkan You Raise Me Up dari Josh Groban. Sempat salah dua nada, tetapi sambutan tidak kalah meriahnya. Nah, sekarang saya malah diusir dari panggung dan turun pangkat menjadi pemain. Salah satu dari mereka, yang merupakan kepala Cultur Center di sini mengambil alih posisi saya menjadi konduktor. Kami pun memainkan salah satu lagu Polandia yang singkat. Semua penonton tertawa. Terakhir, dengan dikomandoi beliau, kami mengalunkan lagu Are You Sleeping..Are You Sleeping..Brother Jhoooon…

Suara indah dari angklung memenuhi ruangan. Tepukan meriah seakan tidak berakhir. Orkestra malam ini akan menjadi kenangan tak terlupakan. Untuk mereka, dan juga bagi saya. Pujian pun berdatangan. Saya merasa bangga menjadi seorang Indonesia dan mengenalkan budaya bangsa pada mereka.

Terakhir, kami makan bersama dengan menu khas Polandia, salah satunya seperti Pierogi,yang merupakan pangsit dengan isi macam-macam. Selain itu, ada nasi goreng oriental buatan Chuncen, dan kue tradisional Brazil buatan fernanda.

Dan …klung..klung..klung..klung..klung…Sang Kepala sekolah pun tidak mau lepas dari angklung yang dipegangnya. Jangan dibawa pulang ya pak!

 

Advertisements

Single Post Navigation

3 thoughts on “Unity in Diversity: My Ultimate Day!

  1. designer muda itu aku ya dit….seneng akhirnya lo bilang gw masih muda….
    ketauan deh gw ngasih discount sama lu…tapi terbayar dgn photo2 ini, ada yang mau mesen gak dit hehehhehe
    kalo ada bilang , wanti2 jadinya satu tahunan hehehehehhehe

  2. Ih.. gw BANGGA banget ama otong yang satu ini.. ebat euy.. lanjutkan!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: