Petualang Dadakan: Menyihir Kambing!

Dari yang tidak serius, serius, tidak serius, serius.

Pelajaran di SD Serniki telah usai. Satu hari saja. Bahkan, hanya 3 jam kurang dikit. Tapi, tiga jam itu telah menggoreskan kenangan seumur hidup. Takkan terlupakan. Buat anak-anak itu. Juga, buat saya. Tapi, hari ini belum usai. Masih ada bonus lebih untuk menambah hari ini.

Ya, hari ini memang nasib kami sungguh baik. Entah doa apa yang diucapkan oleh ibu saya di Indonesia. Rasanya, keberuntungan tidak mau hilang jua. Hari ini, kami diundang untuk datang ke sebuah Ranch yang terletak di Serniki. Kalau biasanya pengunjung harus bayar, kami akan mendapatkan tarif istimewa: GRATIS.

Kami pun tiba. Kedatangan kami disambut dengan hamparan hijau yang luas. Aroma khas padang rumput dan tanah peternakan terhirup di hidung. Menyegarkan! Membangikitkan jiwa petualang saya yang perlahan tergerus entah kemana. Menghapus kelabu dalam otak saya. Sejauh mata memandang, saya melihat warna-warni agung karya Tuhan. Birunya langit. Silaunya mentari. Hijaunya rumput dan dedaunan. Cokelat tanah. Ahhhhh..Sungguh romantis..

Tidak mau ketinggalan warna merah dari bunga raspberry yang telah ranum. Ranum? Jangan jadi berpikir negatif yaaa, karena kata tersebut! hehe..

Tiba-tiba, di tengah indahnya warna-warni tersebut, muncul Hitam Besar di hadapan saya. Tepat di mata saya. Sempat kaget, karena si warna hitam besar yang ternyata berasal dari dari kaos tersebut diiringi dengan suara berat, serak, dan keras. Ya, dialah bapak Leszek, pemilik Ranch ini. Beliau menyambut sendiri kedatangan kami berempat (Saya, Gosia, Fernanda, Nino).

Tampilannya seperti kombinasi para penunggang motor Harley Davidson yang kerap saya lihat di layar TV. Tubuh besar. Kaos Hitam. Celana Jeans. Tidak ketinggalan topi koboi yang menutupi sebagian rambut peraknya. Plus suara besarnya menjadikan bapak yang satu ini berkesan menakutkan dan tampaknya siap mematahkan leher siapa saja dengan tangan besarnya itu. Tapi, oke saya percaya dengan pria ini. Dia pasti hanya tampilannya saja yang sangar. Mungkin, hatinya juga seromantis lagu Rinto. Halaah, Jadul yaa? Oke, mungkin hatinya selembut hembusan suara vokalis D’Massive! Hehe..Beliau pun langsung membawa kami berkeliling.

Kesan menyeramkan itu tidak bertahan lama. Meluap. Hilang tanpa bekas. Penyebabnya: Ada sesuatu yang lebih menyeramkan dibanding si Bapak Leszek, yaitu burung unta. Ya, inilah pertama kalinya dalam sejarah hidup saya yang hampir 24 tahun, melihat binatang yang satu ini. Ayam raksasa dengan leher panjang. Mereka berlarian menghampiri roti-roti yang tersaji di atas tangan Bapak Leszek dan Gosia. Tampaknya menu yang satu ini menjadi favorit para burung unta.

Suasana sedikit rusuh. Mereka berebutan. Haaah, saya tidak suka dengan binatang ini. Leher panjangnya membuat saya begidik. Bukan apa-apa. Saya sebenernya penyuka leher dan kepala ayam. Bagi saya, bagian tersebut salah satu yang ternikmat. Tapi, melihat leher plus kepala binatang yang satu ini dan membayangkannya tersaji dalam meja makan, rasanya sedikit mengerikan. Oke enoughhh.. sebelum kita mengeluarkan koor suara “Hueeeeek” dan kemudian muntah berjamaah karena imajinasi tidak keruan ini.

**********************

Kandang ayam-ayam leher panjang tersebut ternyata hanyalah gerbang dari peternakan besar ini. Selanjutnya, kami mulai memasuki area peternakan utama. Dari kejauhan saya bisa melihat berbagai binatang ternak. Tidak hanya itu, terdapat juga beberapa delman, kereta seperti di taman mini, mobilo-mobil buggy mini, ontang-anting seperti di dufan dengan kualitas sama dengan taman hiburan dadakan di kecamatan, serta mobil pemadam kebakaran asli lengkap dengan selangnya. .

PEMADAM KEBAKAARAN? DI PETERNAKAN? Buat apaaan di peternakan benda-benda itu? Jangan-Jangan beliau nyiram rumputnya dengan mobil pemadam kebakaran? Wiiiih atau dia membajak ladangnya dengan Delman Eropa Abad 18. Fantastis!

Ide maut yang bisa jadi penemuan terbesar di bidang pertanian & peternakan abad ini. Mungkin bisa mengurangi dampak pemanasan global akibat polusi mesin-mesin pertanian. Pantas diganjar nobel atau penghargaan lingkungan dunia nih. Ahhh, saya langsung bertanya saja ke beliau.

Saya : “Pak, Pak Leszek..Ini Konsep pertanian seperti apa dengan mobilkebakaran dan delman? Mantab nih idenya”….Saya pun masih nyerocos memberi pujian…  

Leszek : Melongoo..1 detik..2 detik..3 detiiik Tetap melongo..Kemduain “Hahahahahaa”..

Ya, singkat cerita ternyata jawabannya ternyata tidak ada hubungannya benda tersebut dengan teknologi tani atau ternak. Saya memang terlalu suka berkhayal. Areal ini ternyata tempat bermain anak-anak. Dia memiliki misi mulia. Dengan menambah berbagai fasilitas-fasilitas permainan sederhana, namun cukup menyenangkan ini, Beliau ingin anak-anak yang datang menjadi fun dan akhirnya bisa mencintai kehidupan bertani dan berternak. Ya, mungkin beliau tidak jadi dapat nobel atau apapun berkaitan dengan bidang pertanian & peternakan. Tapi beliau dapat award khusus dari hati saya, hehe. Kami pun langsung berpose dan bermain di areal ini. Fyi, dia dulunya seorang pemadam kebakaran juga ternyata lho…

 **********************

Kami pun segera memanfaatkan areal permainan ini. Seakan memasuki mesin waktu, kami menjelma menjadi anak-anak kembali. Manaiki kereta api mini sambil bernyanyi dan berteriak ketakutan ketika diputar-putar dengan ontang-anting khas dufan dengan kualitas kecamatan ini. Pinggang saya encok rasanya tertekan besi-besi ontang-anting ini. Ya, tapi memang kami yang tidak tahu diri, karena fasilitas ini sebetulnya buat anak-anak, hehee. Pusiiiiing…akibat perputaran 360 derajat dengan kecepatan lumayan cepat. Cukup cepat.

Setelah puas berpose di areal permainan ini, kami pun segera ke area utama peternakan ini, yaitu salah satu istal atau kandang para binatang. Kami pun bersiap bertamu ke rumah para ternak ini.

Saya : Assalamualaikuuuuum dan selamat siang para ternak. Dzien Dobry! (Sapaan formal dalam bahasa Polandia)

Kambing : Mbeeeeeek…

Kuda : Meringkiiiiiiiiikkkk..

Sapi : Mooooooh..

Ayam & Kalkun : Menyambut dengan menggoyangkan leher-lehernya..

Kelinci : Berlompatan tanpa suara.

Ya, dalam satu areal kandang besar aini mereka hidup bersama. Kuda, baik kuda normal dan kuda poni, ayam kampung sampe ayam kalkun, kelinci, sapi-sapi biasa sampai yang berambut gondrong baik yang asli Polandia maupun impor dari Irlandia, domba dan kambing hidup rukun bersama. Damai. Seperti dalam dongeng-dongeng binatang anak kecil. Indahnya kalau manusia bisa hidup seperti ini. Rukun dan damai dalam membagi tanah dari bumi yang sama.

Khalayan tentang Bumi yang damai pun buyar seiring dengan rasa sakit yang menerpa pantat saya. Lumayan sakit rasanya. Ketika saya nengok ke belakang, ternyata sudah ada kambing bertanduk. Sial, ternyata dia yang menusuk pantat saya! Dia seakan menyeringai. Entah ini ledekan atau tanda bahwa dia suka dan menganggap saya wanita pujannya. SIAL! Beraninya main belakang pula…hehe.

Jangan-jangan ini musim kawinnya dia. Tapi, tidak! tatapannya lebih ke sebuah tantangan duel, dibandingkan gejala ternak saat musim kawin. Ya, entah dapat ilmu dari mana saya merasa memahami bahasa binatangnya. Oke, saya terima tantangannya! Saya pun membaca mantra saya dan menakutinya. Seakan tersihir, kambing ini pun pergi. Wiiiih ada gunanya juga jampi-jampi saya. Atau jangan-jangan kambing ini berpikir “Ada juga manusia aneh..ah udalah tinggalin aja dibanding gue jadi kambing aneh juga”..

Sementara Gosia sibuk memberikan makan ayam-ayam bermuka aneh dan kambing-kambing, Fernanda dan Nino asik belajar mengendarai kuda. Kuda Poni. Nino, dengan dress hitamnya itu mengendarai kuda dengan gagah. Hmmm, aga salah kostum sih untuk datang ke peternakan dan mengendarai kuda. Tapi, it’s okelaaaah…Sedangkan Fernanda dengan takut-takut mencoba menaikinya. Ya, wanita Brazil ini ternyata takut binatang. hehehe..

Lucu..Bermain dengan kambing dan binatang lainnya pun menjadi sesuatu yang luar biasa. Sangat menyenangkan. Hmmmm, tapi lebih menyenangkan kalau ternak itu diolah menjadi sate kambing, ayam bakar, gulai daging sapi, atau apapapun,,yummmyyyy. LAPAARRRRRR….

 **********************

Energi kami sekan habis bermain dengan binatang-binatang itu. Semua ternak tampak sudah kenyang dengan makanan yang kami beri. Mereka juga tampak puas karena sudah mendapatkan sentuhan dari wanita-wanita asli Polandia, Georgia, dan Brazil plus pemuda Indonesia. Kami telah berhasil mengimbangi keliaran mereka. Terakhir, kami memberikan makan kepada babi-babi. Hmmm, kalau yang ini kan haram. Jadi, saya ga bayangin dalam bentuk makanan juga sih…

Sekarang kami butuh sesuatu yang tenang dan rileks. Tidak liar dan menguras energi.

“ MENYUSURI SUNGAI dengan perahu saja”, Tegas bapak Leszek Wow, ide bagus. Kami pun langsung setuju. Kami semua segera menuju seungai. Bapak Leszek menyiapkan perahunya. Perahu yang dia buat sendiri. Walaupun terkesan sederhana, tapi rasanya cukup aman. Kabar baiknya, perahu ini pun memanfaatkan mesin. Jadi, kita tidak perlu mendayungnya.

 1…2…3…Brrrmmmmm. Mesin motor dalam perahu telah dinyalakan. Setelah berjuang mengeluarkan dasar perahu dari lumpur, kami pun segera mengarungi sungai ini. Aroma air bercampur dengan daun-daun kering terhirup. Sungguh segar.

Semilir angin berhembus, sementara beberapa pucuk daun gugur dari pepohonan. Sebentar lagi musim gugur akan datang. Musim akan segera berganti. Pertanda arus waktu terus berjalan. Aliran sungai semakin membuat saya berpikir akan aliran waktu yang akan terus maju. terus berubah. Pertanyaan-pertanyaan tentang hidup terlintas. Akan jadi apakah saya? Akan seperti apakah nanti istri saya? Akan mirip siapakah anak saya? Akan masuk surgakah saya? Hufff..waktu selalu bergerak ke depan.

Sejarah saya yang lalu menunjukkan bahwa saya seringkali menyiakannya. Aliran sungai, gugurnya daun, dan angin ini seakan menampar saya dan berkata “Lakukan yang terbaik, Jangan Pernah Menyerah!” YA seperti yang D’massive katakan dalam lagunya Jangan Menyerah, heheehe.

Setelah tersadar mengenai “sang aliran waktu” tersebut, kami pun segera pamit. Sudah cuku petulangan kali ini. Telah banyak kisah dan cerita. Mulai dari burung onta, kambing, permainan yang mengembalikan sisi kanak-kanak kami, sampai menjadi nakhoda di sungai. Terakhir sebelum pamit, kami mencuri Raspberry langsung dari pohonnya, dengan seizin Bapak Leszek. Tapi, kalau minta izin bukan mencuri dong yaaa??

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: