Kisah Cepot dan Szczur (Tikus-Poland)

Kepolosan dan Kecerian Anak-Anak Memang selalu Ajaib.

Anak kecil? Pendapat saya mengenai anak kecil selalu aneh. Kadang suka, tetapi seringkali tidak. Sesekali dibuat tertawa oleh mereka, tetapi banyak waktu dibuat pusing dengan teriakan dan kerewelannya. Ya, tidak bisa dikatakan tidak suka sih. Tapi, tidak bisa dibilang suka juga. Kesimpulannya mungkin: saya hanya hampir tidak suka, sekaligus hampir suka dengan anak kecil. Bingung? Ya, saya juga heran dengan tulisan saya! Maafkan..

Menghadapi anak kecil terkadang seperti perang. Komunikasi dengan mereka tidak cukup dengan sekedar kata-kata. Diperlukan sebuah strategi khusus. Siasat cemerlang yang mampu menyentuh hati, sekaligus menciptakan momen ajaib bagi mereka. Ya, situasi inilah yang sedang saya pikirkan saat ini di mobil Gosia (si Pimpinan Proyek) bersama Fernanda (Brasil) dan Nino (Georgia). Kami sedang dalam perjalanan menuju Sekolah dasar Serniki, sebuah sekolah di desa kecil dekat Lublin. Disana, saya akan menghadapi anak-anak Polandia yang menurut informasi hampir 100 % tidak mengerti bahasa Inggris. Bahasa Indonesia? Apalagi, MUSTAHIIIIIL!

Sepanjang perjalanan, mata saya dipuaskan oleh padang rumput hijau. Entah mengapa, warna hijau selalu mengingatkan saya akan rumah. Ya, rumah kita, Indonesia. Bukan berlagak nasionalis, tetapi saat ini rasa kangen terhadap rumah dan sambel terasi sudah tidak terbendung lagi!

TOOOOOOOOOOT! SIAL! Suara klakson membuyarkanan lamunan akan super-duper-pedasnya sambal terasi dan ikan asin pujaan saya. Sekarang, mata saya tertuju pada boneka yang tergantung di salah satu sudut kaca mobil Gosia. Sebuah boneka tikus bertampang culas tergantung di sana. Saya pun mendapatkan ide cemerlang. Ya, saya akan memanfaatkan tikus alias Szcurc ini (baca-Shhzurk-red)

Sambutan Meriah

Kami pun tiba. Mereka menyiapkan satu ruangan khusus sebagai ruangan workshop kami. Di sana sudah menunggu puluhan anak berumur 6-10 tahun. Oke, pertunjukan sebentar lagi dimulai! Kami sudah tidak sabar untuk menghadapi mereka. Kaliaaaaan sudah siap, anaak-anaaaaak!

Pintu dibuka. Fernanda, saya, dan Nino masuk ke ruangan kelas. 1..2..Tiiii..belum sampai angka 3 saya sebut dalam hati, ruangan sudah dipenuhi dengan tepukan tangan anak-anak. Suasana menjadi riuh. Ya, ada sekitar 40 anak kecil di ruangan ini. Sambutan meriah! Tapi, kejutan tidak berhenti sampai di sini. Tiga orang anak maju ke hadapan kami, dan memberikan 3 bunga dan 3 balon untuk saya, Fernanda, dan Nino.

Saya merasa hati saya menggelembung. Rasa haru dan bangga memenuhi isi hati. Sungguh emosional. Tepukan dan riuh sambutan mereka tampak tulus. Ya, kami bisa melihatnya dari wajah polos mereka. Saya terbang, merasa menjadi idola dadakan, hehee. Ya, mungkin inilah yang di rasakan oleh Enno Lerian atau Joshua dulu saat lagunya menjadi hits tangga lagu anak-anak, hehe.

It’s Showtime!

Nino dari Georgia mendapat giliran yang pertama. Awalnya sedikit membosankan dan terkesan galak. Mungkin situasi perang di negaranyabaru-baru ini, menjadikannya wanita yang sedikit seperti tentara, hehe. Tetapi, kami terpukau dengan caranya menari. Ya, dia seakan menjelma menjadi sosok yang berbeda tatkala tubuhnya bergerak mengikuti irama musik tradisional negaranya. Tarian khas Georgia bagi saya seperti kombinasi gerakan yang anggun, sekaligus mistis. Aneh, tapi unik!

Sekarang, giliran Fernanda muncul. Dia memperkenalkan dirinya dengan bahasa Inggris berakses latinya. Wanita ini memang luar biasa. Ekspresinya mampu mengajak para anak kecil untuk ikut tertawa, walaupun saya yakin anak-anak ini tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali. Fernanda berhasil membuat momen ajaib. Anak-anak terdiam seakan terhipnotis. Terkadang mulut mereka ternganga. Kemudian, mereka tertawa dan juga bertepuk tangan menyambut senyum wanita ini. Mereka tidak mengerti apa yang Fernanda ucapkan. Tapi, anak-anak ini memperhatikan dengan kesungguhan dan ketulusan. Ya, tatapan mata anak-anak tersebut mencerminkan kedua hal tersebut. AJAIB! Terakhir, anak-anak diajak goyang samba bersama.

Cepot dan Szczur (Tikus-Poland)

Gilaran saya tiba. Oke, saatnya menjalankan ide dadakan yang muncul akibat klakson dan akhirnya membuat boneka tikus milik Gosia terselip di kantong belakang jeans saya.  Mudah-mudahan ini dapat membuat mereka tertawa sekaligus mengenalkan budaya Indonesia, dan bahasa Inggris kepada mereka.

Pertunjukan dimulai! Inilah kisah persahabatan antara Indonesia-Polandia. Kisah dua sahabat yang lama tidak jumpa karena terpisah ribuan kilometer. Kisah pertemanan yang saya imajinasikan antara mahkluk berwajah merah dari Jawa Barat alias si wayang golek CEPOT dan boneka Tikus, yang saya beri nama dadakan STURKY. Ya, saya akan melakukan dialog dengan anak-anak ini melalui boneka-boneka ini!

Alkisah, cepot terbang ke Polandia selama 30 jam. Kemudian, ia bertemu dengan si Sturky, sahabat lamanya. Karena cepot dan sturky ini makhluk gaul yang global, mereka pun mahir berbahas Inggris ceritanya.

Cepot    : Cesch (Hai-dalam bahasa Polandia)! How Are You my Friend Sturky?

Sturky   :Cesch! Im Good! How About You? You still have your red face?Hahahaa..

Cepot    : Yes, of course my face still red, cause Im The Real Cepot form Sunda Land, Indonesia! Im Great!  Hey Sturky, I See many handome and beautiful Children here! Are they Polsih Children! Please introduce me to them!

Sturky   : Yes, they are my friend and waiting for you. I will Introduce you to all of them…

Cepot pun terbang di atas bahu Sturky menghampiri anak-anak satu persatu dan mengajak mereka berkenalan dengan bahasa Inggris campur Polandia. Suasana menjadi riuh, terutama saat cepot terbang dengan Sturky dan mencoba menghampiri salah satu kelompok anak. Mereka tampak takut-takut dan mencoba bersembunyi dari Cepot. Tapi, Cepot kan sakti, walaupun sedikit bodoh. Dengan bantuan Sturky, dia berhasil membujuk setiap anak-anak yang dihampiri untuk memperkenalkan diri mereka. Hehe.

Anak-anak ini sungguh luar biasa! Kata-kata bahasa Inggris yang di wakili cepot dan sturky mungkin tidak semuanya mereka mengerti, atau bahkan sama sekali tidak mereka ketahui. Tapi, momen ini sungguh AJAIB. Ada yang lebih berarti dari sekedar kata-kata. Mereka pun bisa menikmatinya. Dan ini bukan hanya sekedar untuk menghormati keberadaan saya. Mereka masih terlalu polos untuk melakukan skenario JAGA SIKAP. Tatapan mata mereka mengatakan “Kami Senang”. Dan tatapan mata saya pun menjawab “ Terima kasih atas ketulusannya yaa adik-adik”

Jangan remehkan anak kecil dalam memahami sebuah pesan yang di sampaikan. Dalam salah satu scene dalam film Meet The Focker, mengatakan bahwa anak kecil seperti layaknya sebuah spons yang mampu menyerap air. Mereka dapat memahami apa saja. Dan masa ini menjadi awal pembentukan karakter mereka nantinya.  

Inilah yang membuat saya merasa bahagia! Karena, kami merasa telah dan akan menjadi bagian yang selalu tersimpan dalam memori mereka dan mungkin bisa memengaruhi kehidupan mereka di masa depan. Semoga mereka terus ingat bahwa seorang Indonesia dengan boneka berwajah merahnya pernah berkata dengan suara bodohnya, “keep studying to reach your dream”!

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: