SI Nakal Jan

Badan boleh paling kecil. Tapi kalau urusan kebengalan di kelas, dialah jagonya.
 
Hari ini menjadi sangat melelahkan. Sesi kedua pada hari kedua di Sobieski Szkola dimeriahkan dengan tari saman dan kecak dadakan (seperti yang juga saya tulis di blog ini). Tapi, ada satu nyamuk yang tidak pernah berhenti berkeliaran dan selalu bikin gatal. Ya, dialah Jan si Nakal.
si nakal jan

si nakal jan

Umurnya 13 tahun. kelas 1 Gimnasium, versi SMP-nya Polandia. Badannya kecil. Amat kecil, dibanding beberapa temannya. Tapi, si kecil inilah yang menjadi pemimpin gerombolan si berat yang selalu bikin gaduh selama workshop budaya kami diadakan. Tubuhnya yang kecil membuatnya selalu lincah bergerak kesana-kemari di ruangan kelas. Jalan-jalan, bahkan lari-lari di dalam kelas. Tidak mau diam. Sialnya, anak ini juga hanya berbahasa Polandia. Teriakan-teriakannya juga selalu menggunakan bahasa ibunya tersebut. Sulit dimengerti maksudnya apa. Beberapa kali konsentrasi buyar dibuatnya. Ibarat nyamuk yang mengganggu, rasanya ingin saya sengat pakai raket listrik khusus serangga. Hehee.

Mendadak pikiran semakin buyar. Sepanjang workshop saya pun memikirkan hal lain. Ngomong-ngomong soal raket nyamuk, saya juga memiliki paman yang mengoleksi benda tersebut. Saya langsung teringat beliau. Di rumahnya, terdapat 4 buah raket yang mengandung sengatan listrik tersebut. Bulan berikutnya, saya jamin kalau mereka pasti sudah menambah koleksi terbarunya.

Entahlah! Apakah memang raket nyamuk dibuat seperti tren fashion yang disesuaikan dengan istilah musim summer, fall, winter, dan autumn. Ataukah memang raket tersebut dibuat dengan kualitas seadanya sehingga membuat konsumen harus terus menggantinya. Atau jangan-jangan di dalamnya mengandung zat kimiawi yang membuat penggunanya adiktif untuk membeli dan membeli. Tidak salah memang. Tidak dosa juga. Tapi, entah mengapa sulit diterima oleh pikiran saya. Dibanding beli raket tersebut, kan mending makan nasi Padang. Ah, kenapa lamunannya jadi ke makanan yaa.

Kriiiiiiiiiing…Kriiiiiiing! Bel tanda istirahat membuyarkan lamunan tidak penting tersebut. Oke saya harus membuat perhitungan dengan Jan. Oke, saya akan mengikatnya di kursi dan menyiksanya dengan raket nyamuk!! Eeeeh, bukaaaan. Saya akan mengajaknya berbicara dan memintanya untuk membantu saya selepas istirahat nanti. Hal yang pertyama yang akan saya minta kepadanya adalah: diamlah nak, jangan ribuuuuut!

Akhirnya kami berbicara. Diskusi layaknya lelaki dewasa. Dia tidak mengerti kata-kata saya. Sial, dia kan belom bisa bahasa Inggris. Akhirnya, muncullah diskusi bilingual Inggris-Polandia yang diselingi dengan gerakan non-verbal serta bahasa Tarzan. Setelah melalui perdebatan yang panjang karena perbedaan prinsip (eh bahasa maksudnya), diplomasi yang saya lancarkan pun berhasil. 

Selepas istirahat, workshop dimulai kembali. Jan, tetap menjadi anak yang berisik. Tidak manis sama sekali lah. Tapi, kali ini kebengalannya dapat membantu saya agar teman-temannya menjadi lebih aktif. Ya, seperti yang sudah saya katakan, dialah gembongnya! Ketika saya meminta para murid untuk maju di depan kelas untuk melakukan tarian, bermain angklung, wayang dsb, Jan-lah yang selalu menjadi sukarelawan paling pertama. Paling tidak, dia memaksa salah satu temannya (anak buahnya di kelas mungkin) untuk maju sebagai sukarelawan! Intinya, pegang saja kepala gembongnya, maka gerombolan bengal lainnya pun pasti langsung menurut. Ya, mudah-mudahan dengan tewasnya Noordin M Top, anak buahnya langsung insyaf juga. Lho ko jadi ngomongin teroris?

Advertisements

Single Post Navigation

4 thoughts on “SI Nakal Jan

  1. Erdit,

    Really. A tear fell down on my cheeks reading your stories. Am so proud of you.
    Gw ngerasa bener2 ada disana sambil baca cerita lo ini. Dan pengalaman2 ini dit,,
    Ga akan bisa digantiin sm apapun,,

    Such an inspiration for me,, to do anything i want to do,,

    Be safe out there dit,, and have fun!!

    Awaiting the rest of your story yaa,,

    Hugs from Jakarta,,

    Adis

  2. erdityaarfah on said:

    hahahaa..aah lo maah sensitiiiif..
    iya diss..kalau sempet kasih tau mba ghea dan ade lo jugaa..
    suruh sebarin cerita ini..
    terus kalau jadi buku, nanti beli yaaa..haha

  3. iya Dies bener.. jadi terharu biru gini gw.. hiks hiks..
    Haha!
    kalo udah jadi buku, kasih gw gratis ya dit!
    hihi

  4. erdityaarfah on said:

    makasih makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: