New Journey Means New Friends Pt.2

Setelah Nyasar. Menjalin Pertemanan: dengan brosur pariwisata Indonesia.

Bismillah. Saya mulai memasuki gerbong kerata menuju warsawa ini. Mulai deg-degan, karena kamar-kamar kereta tampak penuh dan orang-orangnya tampak galak. Tidak ada nomer kursi dalam karcis saya. Artinya, saya bebas memilih tempat duduk, asalkan masih kosong tentunya. Terus saja saya melangkah. Irama kaki saya berderit di atas kereta yang lumayan sudah renta ini tampaknya. Saya mencoba mengikuti kata hati untuk menunjukkan tempat di mana saya akan duduk. Ya, saya harap perjalanan kali ini lebih baik disbanding sebelumnya dimana saya harus berbagi ruangan dengan kakek perokok yang membuat suasana menjadi pengap.

Akhirnya, saya berhenti. Mata saya meilihat ke dalam satu ruangan. 5 Anak muda ada di situ. 3 Pria, 2 wanita. Salah satu pria tampak menyeramkan dengan rambut botak, namun memeiliki kuncir gimbal dan jenggot yang memenuhi pipinya. Lumayan bikin ketar-ketir juga sebenarnya. Beringas sekali! Tapi yasudahlah, dimana-mana bisa terjadi bahaya, bahkan di Indonesia sekalipun. Pasrah menjadi senjata saya yang terakkhir.

Sepertinya mereka traveler asli Polandia. Saya berpendapat setiap traveler pasti akan bersahabat terhadap sesamanya, meskipun saya dari Negara lain. Ya, seperti hukum alam mungkin. Dan, mereka masih muda. Pasti mereka bisa berbahasa Inggris setidaknya. Saya pun memberanikan bertanya dengan bahasa Inggris mengenai tiket saya dan dimana saya harus duduk. Mereka menjawab “You can sit wherever you want, even here”. Ya, akhirnya saya pun memutuskan untuk duduk di tempat tersebut.

Suasananya kaku. Mereka tertawa-tawa sendiri dengan bahasa Polandia sambil menggenggam bir kaleng. Saya pun akhirnya memberanikan bertanya kepada mereka untuk mengajarkan saya bahasa Polandia. Saya pun bertanya basa-basi “Is ‘Tak’ words means Yes in Poland?” Ya, sebetulnya mereka tidak perlu menjawabnya, karena saya sudah tahu kalau Tak artinya Iya. Setelah membiarkan mereka menjawab, saya menjawab “ It’s Funny because ‘Tak’ Means No in my country”. Mereka pun langsung menunjukan antusiasmenya begitu tahu bahwa berasal dari Indonesia.

Luar biasa, suasana pun langsung cair. Saya diajarkan untuk memperkenalkan diri dalam bahasa mereka. Ya, mereka adalah: Krzysztof (Chris),  Hana, Anya, Michael, dan Lukasz (yang tampangnya seram). Chris adalah yang paling penuh antusias dan paling bersahabat. Saya sempat kaget dengan pertanyaannya yang menanyakan apakah saya bisa silat atau tidak. Saya heran bagaimana dia bisa tahu tentang silat. Yam ternyata dia adalah penggemar martial arts dari Asia. Dia pernah tinggal dan belajar bela diri di Filipina. Bahkan, dia tahu tentang sarung dan hutan tropis.Lukasz, si pria berwajah beringas pun tidak kalah pengetahuannya tentang Asia. Saya pun memeberi dua brosur tentang Indonesia kepada Chris sebagai hadiah. Dia pun tampak senang dan mengatakan bahwa Indonesia adalah Negara tempat yang harus dikunjungi. Harus katanya! Pertemuan yang ajaib. Tapi, ini masih belum berakhir. –bersambung-

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: