Berat!

Dua tahun. Gila, butuh waktu selama itu buat saya untuk akhirnya kembali menulis di sini. Sampai-sampai, saya butuh waktu lebih dari 30 menit untuk membuka blog ini, karena lupa password. Dalam dua tahun ini, banyak banget yang berubah.

Pertama, tentu soal berat berat badan. Sepulang dari London, berat saya 64 kg. Dalam dua tahun ini, berat saya ehm naik menjadi 74 kilo. Semoga kenaikan berat badan ini berbanding lurus dengan kemakmuran. Amin.

Kedua, berat cobaan. September 2013, kira-kira 6 bulan setelah saya pulang ke Indonesia, akhirnya ibu saya ‘bereuni’ dengan ayah saya. Ya, kira-kira setahun lalu, ibu saya memiliki gelar tambahan: Almarhumah. Saat itu, rasanya ada perasaan nyesal, karena belum sepenuhnya membahagiakan beliau. Tapi, begitulah umur. Sedekat apapun hubungan kita dengan seseorang, mengenal sifat-sifatnya, bahkan memiliki hubungan darah sekalipun, kita nggak pernah tahu kapan akhir usia. Bagi yang orang tuanya masih lengkap, atau bahkan salah satunya masih ada, please jangan gengsi untuk peluk, katakan sayang dan terima kasih buat mereka.

Ketiga, beratnya anugrah. Saat melihat jenazah ibu saya untuk pertama kali, saya berdoa agar saya tetap bisa yakin bahwa dibalik tiap cobaan, pasti akan diganti dengan anugerah. Banyak hal yang berubah setelah ibu saya meninggal. Tapi, satu hal yang terparah: rasa sepi. Dulu, biasanya setiap pulang ke rumah, ada orang yang rela menunggu saya sampai larut dan menunjukan raut bahagia bahwa anaknya telah pulang. Nada suaranya akan terdengar ceria di telepon, setiap saya mengabarkan kalau saya akan pulang ke rumah di akhir pekan. Setelah dia nggak ada, semua tiba-tiba ‘blas’ hilang. Sepi.

Tapi, bukan Allah jika tidak menepati janjinya. Dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan. Rejeki mengalir tampa hambatan, bahkan bertambah terus. Dan kira-kira setahun kemudian, akhirnya saya menemukan wanita lain yang siap menyambut saya di rumah. Istri saya. Ya, update terakhir dari saya: alhamdulilah saya telah sukses menikah hehe.

Sementara, sekian dulu. Oiya, saya kaan usahakan tahun ini akan mengeluarkan buku terbaru. AMIN!

Gara-Gara Nyamuk Bernama Anthony!

Kali ini saya memikirkan nasib dan tujuan hidup seekor nyamuk. Binatang yang suka ‘nguing-nguing’ di telinga ini memiliki pekerjaan yang paling berbahaya di bumi. Untuk ‘mencari darah’ yang menjadi sumber hidupnya, sementara makhluk lain bernama manusia-termasuk saya- akan dengan sukarela, ikhlas, dan penuh keganasan untuk memburunya.

Nasib seekor nyamuk ternyata hanya berbeda tipis saja dengan Edward Cullen si Vampir dari Twilight Saga. Mereka jelas sama-sama penghisap darah. Bedanya, yang satu diincar hidup-hidup untuk dipuja wanita sedunia, sementara yang satunya diincar untuk diakhiri nyawanya. Sebuah bukti bahwa perbedaan tipis berarti banyak. Padahal, vampir lebih jahat dibanding nyamuk. Kalau kamu digigit vampir, maka kamu akan berubah jadi vampir. Tapi, kalau kamu digigit nyamuk, kamu tetap akan menjadi seorang manusia.

Ah, kasihan sekali nasibmu, Muk.

Reputasi nyamuk sebagai sumber penyakit, mulai dari sekedar bentol-bentol yang gatal, mengganggu tidur, sampai yang mematikan seperti demam berdarah, juga membuat kita akan tersenyum penuh kemenangan saat berhasil membunuhnya.

Kematian nyamuk juga selalu tragis. Setidaknya ada beberapa modus pembunuhan nyamuk yang terekam di Kepolisian Republik Nyamuk.

Pertama, ditepuk dengan pelan, tapi mematikan. Darah yang keluar pun sedikit, tapi tetap nyawanya hilang.

Kedua, ditepuk penuh amarah dengan ke dua tangan. Membuat nyamuk jadi gepeng, dan darahnya muncrat ke mana-mana.

Ketiga, ditepuk satu tangan ke arah tembok, sehingga jejak kematiannya terekam di tembok rumah kalian.

Keempat, diracun dengan zat kimia, yang juga seringkali diminum manusia yang sudah putus asa akan hidupnya.

Kemudian ada lagi satu alat modus pembunuhan nyamuk yang sangat dibenci mereka. Disetrum dengan raket nyamuk yang akan membuat mereka terpangang kering, berasa, kadang tercium bau hangus. Kematian yang sadis. Tentu ini akan membuat pencipta raket nyamuk sebagai makhluk yang paling dikutuk di dunia nyamuk.

Terakhir, bagi yang sedang belajar bela diri, dan melatih konsentrasi, mungkin bisa membunuh nyamuk dengan cara menggencetnya pakai sumpit atau menusuknya dengan garpu.

Kalau di dunia nyamuk juga memiliki media dan program berita, tentu isinya akan mengalahkan berita kriminalnya di koran, TV, atau radio manusia.

Kamu pernah melakukan hal-hal di atas? Saya pernah. Nggak terhitung jumlahnya. Sadis sekali manusia.

Coba bayangkan, berapa banyak persentase anak nyamuk yang jadi yatim, piatu, atau bahkan yatim piatu, karena orang tuanya terbunuh dalam perjuangan mencari nafkah di malam hari? Saya semakin curiga bahwa di dunia mereka bahkan ada banyak sekali yayasan panti asuhan khusus anak nyamuk yang kehilangan orang tuanya. Di sana, mereka akan dibina untuk menjadi nyamuk yang hebat untuk membalaskan dendamnya kepada manusia.

Terbayang di sebuah ruangan kelas, ratusan bahkan ribuan nyamuk berkumpul dengan marah, terus terjadi hal seperti ini di kelas:

Scene: Di sebuah yayasan panti asuhan di dunia para nyamuk.

Sang Guru Nyamuk: HAI, ANAKKU PARA NYAMUK SEKALIAN!!! APAKAH KALIAN INGIN MEMBALASKAN DENDAM KALIAN! TERIAKAN KEMARAHAN KALIAN!

Sang guru nyamuk berteriak sambil menatap tajam gerombolan anak nyamuk dan mengangkat tongkat kepemimpinannya!

Anak-Anak Nyamuk: WAAAAAAAAARGH!!!!!!

Mereka merapatkan barisan. Teriakan menggema di sana sini, sayap mereka dikepakkan keras-keras. Debu-debu beterbangan. Gemuruhnya persis seperti para prajurit Sparta yang siap bertempur!

***
Anehnya, semakin diburu, semakin banyak juga nyamuk berkeliaran. Mereka nggak pernah punah. Tapi, ini mungkin karena mereka sadar bahwa hidupnya penuh risiko. Maka dari itu, mungkin mereka berusaha keras untuk bertelur sebanyak mungkin, sehingga terlahir generasi penerus yang siap terus menyedot darah kita sampai sekarang.

Sapi, ayam, kambing, atau burung, kita potong, untuk kita makan. Tapi, tidak dengan nyamuk. Kita akhiri hidup mereka, karena menganggap mereka mengganggu. Tapi, apa emang salah mereka kalau mereka harus hidup dari menghisap darah kita, kemudian bikin kita bentol-bentol, dan bahkan terkena penyakit mematikan?

‘Salah Gue? Salah Bapak Gue? Salah Temen-Temen Gue?’ Protes salah satu nyamuk yang terlalu banyak gaul.

Lalu, apakah benar tujuan hidup nyamuk, hanya untuk dibunuh manusia? Atau jangan-jangan saya yang terlalu buta, sampai nggak bisa melihat apa inti dari keberadaannya?

Tulisan nyamuk ini memang sepele. Tapi, seringkali hal sepele, dapat memberikan sesuatu yang ternyata bermanfaat.

Saya pun terdiam. Mikir. Tolong kasih saya lima detik untuk berpikir arti keberadaan nyamuk.

Dit jadi apa artinya?

Bentar-bentar woy, saya masih mikir.

Ok, Ini versi saya tentang apa yang bisa kita lihat dari nyamuk.

Kalau dilihat dari sisi lain, nyamuk justru menjadi ‘pahlawan’ yang rela mati untuk jadi contoh dan manfaat bagi manusia.

Dalam hidup, terutama saat mencoba mengejar mimpi kita, terkadang kita dipenuhi rasa takut. Apakah kita akan berhasil atau tidak. Rasa takut sebenarnya adalah hal yang wajar. Tapi, kalau sampai menguasai diri kita dan akhirnya kita tidak sama sekali mencoba, maka kita mungkin perlu belajar dari nyamuk.

Coba bandingkan dengan cerita perjuangan sobat nyamuk kita di bawah ini.

Scene: Kamar yang gelap gulita.

Seekor nyamuk memasuki sebuah kamar yang sudah dipenuhi perangkap, mulai dari obat nyamuk bakar, sampai obat nyamuk semprot. Plus, di dalam kamar tersebut juga ada sebuah raket nyamuk.

Tapi, apa yang terjadi?

Si Nyamuk, sebut saja bernama Anthony (nyamuknya bule), tetap bersikukuh masuk ke kamar, melalui celah sempit. Alhamdulilah, sebagai nyamuk, Anthony di kasih kelebihan Tuhan yaitu memiliki tubuh kecil yang sanggup masuk ke celah-celah kecil kamar.

Anthony kemudian bertemu teman-temannya. Bersama sahabatnya, Anthony menyerang tubuh seorang manusia, sebut saja Anto. Kuping si Anto dia serang. Refleks, si Anto mengibaskan tangannya. Anthony berkelit! Nyaris saja, hidup Anthony berakhir. Tapi sayang salah satu teman Anthony, sebut saja Marie, terkena tangan tersebut dan langsung wafat di tempat.

Sebuah momen yang penuh duka. Tapi, apakah Anthony berhenti berusaha?

Ternyata tidak.

‘Saya pasti bisa!’ Antonhy meyakinkan dirinya dengan menghirup nafas panjang.

Walaupun baru saja melihat temannya tewas, dan mengetahui risiko dari usahanya, Anthony pun terus menyerang tanpa takut. Dia benar-benar seperti Leonidas, sang raja Sparta, yang gigih menyerang Xerxes dari Persia, walaupun kekuatannya terbatas.

Anthony masuk ke bagian dalam leher Anto. Menghisap darahnya selama 10 detik, sebelum Anto tersadar. Ketika tangan Anto meraba leher, Anthony berkelit dan terbang menusuk betis-betis dan kaki Anto.

Anthony pun kenyang. Misinya berhasil. Untuk sementara. Ya, sayangnya, hanya sementara.

Frustrasi karena tidurnya terganggu, Anto pun terbangun. Dia ambil raket listrik dan menyerang Anthony dan kawan-kawannya membabi buta. Lima detik saja, raket nyamuk Anto mengeluarkan bunyi-bunyi mengerikan. Bau hangus tercium. Tubuh para nyamuk terpanggang.

Hari ini adalah hari ke 250 Anthony mulai berburu darah. Dia memang masih nyamuk muda. Minim pengalaman. Belum genap setahun menjalankan misinya, Anthony sudah terpanggang di atas raket nyamuk.

Inna lillahi wa inna illahi roji’un. Cerita Anthony si nyamuk pun berakhir.
***

Apa yang bisa kita dapat dari cerita Anthony di atas? Buat saya, cerita tersebut mengajarkan saya untuk gigih, berusaha sekeras mungkin, walaupun tahu risikonya sangat berat. Saya yakin, kalaupun Anthony tahu dia akan mati di atas raket nyamuk, dia tetap akan berusaha mencari darah. Karena itulah tujuan hidupnya.

Si nyamuk Anthony sempat gagal menggigit kuping Anto, tapi dia nggak menyerah begitu saja. Dia terus mencoba dan mencari peluang lain. Akhirnya, dia sempat berhasil menghisap darah dari leher Anto.

Kita, termasuk saya, seringkali sudah merasa jadi orang paling gagal, saat nggak berhasil mencapai apa yang kita mau. Padahal, kita baru mencoba satu kali. Seperti Anthony, saya harusnya terus berusaha, mencari peluang lain, mencoba lagi, nggak nyerah gitu saja.

Dalam mencapai apa yang kita mau, caranya bisa saja macam-macam. Singkatnya, untuk mencapai ‘C’, nggak selalu kita harus melewati A dan B saja. Kadang dari ‘A’ kita nyasar ke ‘Z’, terus baru pada akhirnya kita sampai di ‘C’. Yang terpenting adalah terus mencoba dan kreatif mencari solusi untuk mencapai tujuan kita.

Kalau nyamuk saja bisa rela mati untuk mencari makan, kenapa saya harus jadi malas untuk sekedar sekolah atau mencari nafkah. Di sini, nyamuk benar-benar menjadi contoh yang baik dalam berjuang sampai titik darah penghabisan.

Saya merasa malu sama nyamuk.

Lalu apa ada lagi yang bisa kita dapat dari nyamuk?

Nyamuk merupakan binatang yang dianggap ‘mengganggu’. Nyamuk memang bisa memberikan ‘kematian’ melalui berbagai penyakit yang diakibatkan gigitannya, seperti malaria dan demam berdarah.

Tapi, di sisi lain, nyamuk juga memberikan kehidupan. Tanpa nyamuk, nggak akan ada industri obat nyamu , yang bahkan berkompetisi sangat sengit, dan akhirnya menyerap banyak tenaga kerja. Bayangkan, keberadaan satu nyamuk, bisa jadi menghidupi satu keluarga manusia.

Keberadaan nyamuk juga mengingatkan kita akan pentingnya kebersihan. Seringkali kita lupa hal ini. Dan dengan melihat banyaknya nyamuk, terutama aides agyepty, menjadi alarm kita tentang buruknya kebersihan lingkungan.

Nyamuk yang dianggap pengganggu, ternyata keberadaannya bisa membantu hidup manusia. Bisa ada manfaatnya. Pertanyaan berikutnya adalah:

Apa tujuan saya sebagai manusia? Apakah sudah berguna buat manusia lainnya?

Terima kasih, Muk! Kamu telah memberikan pelajaran.

Jangan mau kalah sama nyamuk!

CERITA SETELAH 8 BULAN!

Hari ini saya mendapatkan sebuah mention dari salah seorang follower yang mengatakan bahwa dia terharu sekaligus jadi semangat saat baca postingan tentang ayah saya. Ada dua hal yang saya rasakan. Pertama, saya senang karena tulisan saya bisa ‘menembus’ hati orang lain. Kedua, saya malu! Ya, karena tulisan tersebut adalah salah satu postingan terakhir yang saya tulis. Dan itu sudah hampir 8 bulan yang lalu! 8 BULAN!

Jadi, ngapain aja selama 8 bulan hidup di London?

Yang jelas sih saya kuliah. Setelah hampir 4 tahun bekerja di perusahaan marketing, saya kembali menjadi anak kuliahan. Ini ternyata tantangan yang cukup berat. Alasannya, karena saya mengambil jurusan M.A Marketing Communications, yang masih sangat berhubungan dengan pengalaman kerja dan kuliah S1 dulu. Kadang dengan ilmu dan pengalaman sebelumnya, saya suka tergoda buat merasa ‘sok tahu’. Padahal jelas sok tahu dan merasa pintar adalah awal dari kebodohan, karena akan berujung pada kemalasan buat belajar.

Jadi, saya berusaha untuk menempatkan diri saya kembali di titik ‘nol besar’, di mana saya bisa kembali memenuhinya dengan berbagai ilmu dan informasi yang saya dapat selama kuliah di sini, baik dari dosen maupun buku serta jurnal. Plus, ini juga waktu yang tepat untuk menguji apakah pengalaman dan pelajaran yang saya dapat dahulu masih relevan di masa sekarang.

Alhamdulilah, nilai akademik saya di sini cukup memuaskan. Beasiswa saya pun tetap dipertahankan.

Ya, tapi selama 8 bulan itu nggak selalu serius juga sih. Ada juga beberapa hal absurd misalnya: Salah seorang flatmate saya, entah pemuja setan atau suka berhalusinasi, yang jelas tiap tengah malam dan subuh dia suka seperti kerasukan, persis seperti yang kerasukan setan di film-film bertema Exorcist!

Suaranya bisa tiba-tiba berubah serak kaya nenek-nenek dan kemudian bisa menangis kaya anak kecil yang ketakutan. Gilanya, kamarnya dia persis di kamar saya. Tiap malem itu ngedenger suara aneh-aneh dari kamarnya selama 2 bulan! Dari awalnya takut, sampai akhirnya jadi berani karena kesel sendiri.

Pernah saking kesalnya karena dia ‘kambuh’ jam 3 subuh, saya akhirnya buka kamarnya yang memang sedikit terbuka. Dan dia sedang tergeletak di lantai sambil nangis-nangis seperti orang ketakutan. Nggak lama kemudian, dia pun kami usir. Mudah-mudahan dia tidak dendam dan menyantet atau mem-vodoo kami, hehe.

Okay, sementara segini dulu ya ceritanya. Biar saya lebih semangat update cerita di sini, salah satu teman saya, si Yena, membuatkan desain header buat saya. Katanya, biar saya malu kalau kelupaan ngisi blog ini😀.

Ini saya upload beberapa foto biar bikin sirik sekaligus bikin semangat buat teman-teman yang mau sekolah atau traveling keluar negeri, terutama ke London atau UK.

Foto-foto di atas saya ambil dari beberapa sudut kota London. Terkadang, saat suntuk kuliah pelarian saya emang jalan keliling kota atau sekedar duduk-duduk di taman. Foto terakhir di atas itu diambil dari atas kota Liverpool.

COME ON ENGLAND! (Photo taken by Michele Chang)

Sesekali, kalau ada sisa uang di tabungan, ya saya langsung alokasikan buat nonton bola😀. Ini salah satunya saat saya nonton pertandingan persahabatan antara Inggris dan Belanda.

siap perang!😀

Hang-Out! (photo taken by Ira Syarif)

Fellow Indonesian! (photo taken by Kemal Falatehan)

Yang paling disyukuri, di sini saya bertemu teman-teman baru. Sesama Indonesia dan Sesama manusia walau dari negara lainnya. Ya, siapa tau aja saya juga menemukan si jodoh saya di sini😀.

Main ke studio Harry Potter!

Di ruang makannya Hogwart!

Coldplay Live at Emirates, London 2012

Coldplay Live at Emirates, London 2012

London itu surga juga buat pecinta seni dan hiburan. Kalau lagi kosong saya sengaja pergi ke museum-museum atau ke eksebisi-eksebisi seni. Kalau bisa cari yang gratis😀. Nah, walaupun banyak menawarkan hiburan, London adalah salah satu kota yang bisa bikin kesepian, terutama saat keuangan lagi seret. Paradoks. Hiburan luar biasa banyak, tapi ga bisa ngapa-ngapain juga. Mahal banget hidup di London😀. Nah, kalau yang dia tas saya ambil saat mampir ke rumahnya Harry Potter dan liat langsung konser kerennya Coldplay! Mudah-mudahan ke depannya masih ada rejeki buat ‘menghibur diri’ di London. Doakan segalanya lancar teman-teman!

Saya, Susu dan Cita-Cita Menjadi Tuhan!

Pasti pernah dengar kan cerita Firaun yang ngaku jadi Tuhan di zaman Nabi Musa? Semua orang pasti akan bilang kalau Firaun itu keterlaluan sampai mengaku menjadi Tuhan. Klimaksnya, dia ditenggelamkan di laut saat mengejar Musa. Kita pun berteriak hore saat dia tenggelam. Sebuah tanda akan kemenangan sang Rasul.

Tapi, bagaimana jika saya bilang, dengan jujur, bahwa saya pernah ingin menjadi Tuhan? Apakah kalian akan mengeluarkan cacian juga kepada saya? Apakah kalian ingin saya juga ditenggelamkan di lautan?

Tapi, saya rasa sih kalian nggak akan marah, karena itu semua terjadi di tahun 1989-1990.

Teruuuuus dit kenapa emang kalau tahun 1989?

Saat itu saya masih TK woy, haha! Dan masih ‘ngempeng’ susu instan dari botol! Masih suci, hahaha!

Gila lo dit! Dari kecil udah kafir!!!

HEH! Kan udah saya bilang kalau itu waktu TK! Mau tahu alasannya kenapa saya yakin saya bisa jadi Tuhan?

Yakin mau tahu? Janji ya, nggak akan mengatakan saya kafir!

Satu kata. Susu.

Ya, semua ini gara-gara susu! Konon, susu akan membuat badan kita tumbuh besar, sehat dan kuat. Tentu saja, saya juga mau jadi anak yang kuat dan hebat.

Jadi saat minum susu, saya akan berteriak kesenangan, “Mau minum susu biar kuat kaya Allah!” atau, “Mau minum susu biar bisa jadi Allah!”. Dan biasanya saya mengatakan itu saat meminta susu pada bibik saya di rumah. Hebatnya, saya mengatakannya dengan ceria.

Ini sebetulnya saya jadi mikir sih, ini dulu saya terlalu polos atau bodoh ya? Haha. Tapi, mungkin saat itu, Allah pun tersenyum dan maklum melihat kepolosan saya! Buktinya, saya nggak pernah ditenggelamkan di laut, hehe.

Sehari kadang terasa lama. Tapi, tahun-tahun berganti berlalu nggak kerasa. Saya yang berumur 4 tahun, telah sampai menjadi ‘saya’ yang berumur 26 tahun. Dan saya seringkali rindu ‘kepolosan’ masa kecil saya yang justru menunjukkan ‘keberanian’.

Dengan kekuatan sebotol susu rasa vanilla, dulu saya percaya bisa menjadi si Maha Kuat. Saya pun nggak perlu takut untuk berusaha terus, dengan keras kepala, minum susu sapi bervitamin setiap hari, untuk mengejar cita-cita menjadi Tuhan. Sebuah cita-cita yang pasti nggak akan pernah berhasil.

Tapi, ketika dewasa, ketika merasa ilmu semakin bertambah, justru ketika itu pula saya seringkali takut mencoba untuk mengejar apa yang saya mau. Saya ulang lagi plus bold: Takut mencoba. Dan saya rasa, bukan saya saja yang mengalami ini.

Setiap teringat masa kecil saya yang polos dia atas, saya selalu akan teringat kalau kita perlu meniru keberanian anak kecil dulu. Cita-cita masa kecil saya untuk jadi Tuhan tentu nggak akan pernah kesampaian. Tapi, bukan berati saya nggak akan bisa menjadi ‘Tuan’ dari diri saya sendiri dalam menentukan langkah ke depan kan?

Saya, Erditya Arfah dewasa, berjanji pada Erditya Arfah di masa kanak-kanak, bahwa walaupun takut, saya tetap akan mencoba berusaha, baik nanti hasilnya gagal atau berhasil. Seperti saat ingin menjadi Tuhan yang sudah pasti nggak akan pernah berhasil, tapi saya nggak pernah berhenti berusaha minum susu 4 kali sehari tanpa mikir gimana hasil akhirnya nanti.

Saat SMP, ayah saya pernah memanggil saya, tiba-tiba. Dia menatap saya dan tersenyum lembut berkata, ‘sekarang papa sudah 56 tahun. Waktu nggak pernah kerasa. Masih kerasa kayaknya kaki ini dipakai jalan kaki untuk jualan di Pasar dan sekolah. Dit, kamu nggak akan nyesal bahkan akan senyum atau tertawa bahagia atass usaha kamu dulu, apapun hasilnya. Percaya deh.’

Dan dia benar.

Tulisan ini akan menjelma menjadi ‘mesin waktu’ saya. Tulisan pengingat bahwa saya harus berani untuk mencoba berusaha, walau ada rasa takut di hati. Takut gagal membuktikan kalau saya hanya manusia. Tapi, takut berusaha atau mencoba, justru seperti saya menghina kelebihan saya sebagai manusia.

Mau ikut ‘mesin waktu’ saya?

AYAH: PAHLAWAN SAYA SEPANJANG MASA

Scene saat saya menulis ini: London, 2 derajat celsius saja. Situasi hati, damai. Situasi perut, sedang perang a.k.a KELAPARAN!

Setiap orang punya pahlawannya masing-masing. Dan itu biasanya akan selalu berubah dan terus bertambah. Kadar kekaguman kita pun naik-turun. Kadang kadar ‘kepahlawanan’ mereka turun atau hilang sama sekali di hati kita. Bisa jadi, karena kita menemukan ‘pahlawan’ lain yang lebih hebat dibanding dia.

Seperti manusia lainnya dan hidup yang terus berjalan, pahlawan saya juga terus berubah dan bertambah. Saat kecil, pahlawan saya adalah Seiya dari Saint Seiya dan Doraemon. Seiya mengajarkan saya bagaimana berjuang demi keadilan dengan jurus ‘Meteor Pegasus’. Sementara, Doraemon mengajarkan saya pentingnya imajinasi melalui ‘baling-baling bambunya’. Kemudian, saat SMP saya mengenal Sherlock Holmes dan Detektif Conan. Setelah kuliah, saya menemukan banyak pahlawan baru yang saya anggap lebih hebat, mulai dari BJ Habibie, Paolo Coelho si penulis buku Sang Alkemis-nya yang ‘menghidupkan’ mimpi, sampai teman kuliah saya, Adam, seorang asli Cilacap yang berjuang keras menemukan kepercayaan dirinya di Bandung, tapi tanpa harus menghilangkan jati dirinya, termasuk logat ‘ngapak’nya yang kental. Suatu saat saya akan menulis tentang dia juga.

Saya mencuri inspirasi dari mereka, tanpa harus menjadi seperti mereka. Karena, walaupun saya mau jadi orang yang inovatif dan visioner, bukan berarti saya harus punya wajah kucing dan tubuh seperti doraemon kan? hehe.

Pahlawan datang dan pergi, tapi ada satu yang selalu di hati, dan tetap menjadi yang terbaik. Entah terbuat dari ‘lem’ jenis apa, tapi kepahlawanannya pun nempel terus di hati saya. Dialah, ayah saya.

Ayah saya, ayah yang biasa saja sebenarnya. Satu-satunya yang jadi luar biasa adalah, kenyataan bahwa dia adalah ayah kandung saya, bukan yang lain. Kita nggak pernah bisa milih, siapa dan bagaimana ayah atau ibu kita. Tuhanlah yang milih. Dan, itu pasti ada maksud yang baik.

Kata ‘Kepahlawanan’ sendiri adalah sebuah kata yang berat. Kata yang di dalamnya pasti mengandung cerita hebat. Cerita kepahlawanan ayah saya yang paling hebat adalah saat dia bahkan jadi ‘martir’ untuk kebaikan hidup saya. Dia rela terkena siksaan perih kanker hati, tubuhnya menguning seperti bukan lagi makhluk bumi, dan akhirnya meninggal. Lalu, apa hubungannya dengan hidup saya? Banyak.

Saat ayah saya meninggal, saya nggak tahu alasan apa yang ada di benak Tuhan, sampai dia tega gitu aja ngambil nyawa ayah saya, di saat umur saya masih labil, bahkan belum mengenal rasanya first kiss gitu. Saat itu, saya dikecewakan Tuhan. Dan serius kawan, pahitnya rasa kecewa itu lebih parah di banding diputuskan oleh kekasih Anda di hari ulang tahun (Ihik! Saya pernah ngalami ini juga, haha).

Waktu berjalan. Kemewahan hidup dengan ayah pun hilang. Bukan hanya soal materi, tapi juga soal momen. Ini berarti saya gak akan bisa main gulat-gulat WWF lagi dengannya, saya nggak bisa curhat tentang first kiss saya nanti, tentang putus cinta, dan dia sudah pasti nggak akan ada di wisuda saya atau bahkan saat saya nanti menikah. Percayalah, momen manis itu lebih penting dari sekedar materi.

Katanya setiap kejadian itu ada selalu alasannya. Tapi, saat ayah saya meninggal saya nggak ngerti alasan Tuhan. Kenapa Dia nggak menggunakan ‘Kemaha-annya’ untuk menyembuhkan ayah saya, tapi malah membuatnya merasakan nafasnya yang terakhir.

Saya merasa Tuhan nggak fair, karena hanya memberi saya kesempatan untuk kenal ayah saya di waktu yang sangat sedikit. Umur saya 15 tahun saat itu. Selama itu pula saya kenal dia. Membuat dia kembali hidup tentu mustahil.

Tapi, apakah kematian seorang akan membuat kita tidak bisa mengenalnya lebih jauh? Ayah saya meninggal di umurnya yang ke-58.

58-15 = 43 Tahun!

Benar, jadi ada 43 tahun dari hidup ayah saya yang nggak pernah saya tahu. Masih misteri. Saya pun ingin mencoba melihat sejarahnya, untuk mengenal dia lebih jauh lagi.

Dan dasar Tuhan. Dia pun campur tangan di urusan ini.

Suatu ketika, saya menemukan sebuah foto di dalam koper kecil yang jeleknya minta ampun. Di gambarnya ada beberapa anak remaja dan anak kecil. DI belakang foto tua dan usang itu, ada tulisan tangan yang jelek banget tapi maknanya dalem abis, yaotu ‘Biarkan kami paling miskin di desa kami, saya bahagia bisa foto bersama adik-adik saya’. Ya, itu adalah foto ayah saya dan adiknya. Dan itu tulisan tangan dia.

Saya tahu ayah saya harus berjuang untuk sekolah, tapi saya nggak pernah nyangka dia dulu sesusah itu. Kenapa? Karena saya mengenal dia, ketika dia sudah cukup secara materi. Saya mengenal dia saat dia sudah menghasilkan banyak uang. Saya megenalnya saat dia sudah dihormati banyak orang.

Saya pun mulai mencoba mencari tahu jalan hidup ayah saya. Dia cukup beruntung bisa sekolah sampai SMA. Di berjualan segala macam sampai petasan, yang tentunya dia akan dirazia kalau itu dilakukan saat ini. Dia juga beruntung diangkat seperti anak sendiri oleh keluarga baik yang bersedia menampungnya tinggal di kota Bandung.

Setelah sempat drop out dari Unpad jurusan Ekonomi karena nggak punya biaya, dia lanjut ke sekolah gratis yaitu APDN, kalau sekarang IPDN, sekolah untuk menghasilkan para PNS. Akhirnya dia bisa menjadi PNS dengan posisi yang sangat penting di masa hidupnya.

Oiya, ada satu cerita yang kalau saya tahu saat dia hidup, tentu saya akan ‘puk-puk’ bahu dia. Bahkan karena miskinnya dulu, dia pernah ditolak bahkan sampai diludah oleh seorang perempuan yang menolak lamarannya (Tentu bukan ibu saya!). Dan sialnya ini bukan adegan sinetron striping macam Putri Yang Ditukar atau apapun itu dengan judul dramatisnya. Ini Nyata. Ah, poor you dad, haha!

Sejak melihat foto usang itu saya seperti berani punya cita-cita. Saat itu, saya hanya ingin membuktikan bahwa tanpa seorang ayah pun, saya baik-baik saja. Saya nggak mau kalah sama ‘cerita hidup’ ayah saya. Ajaibnya, setiap ingat foto tersebut semangat saya biasanya kembali muncul! Buat saya foto itu adalah jimat saya!

Sejak itu, saya mulai berani bercita-cita. Saya juga coba berdoa. Baik ketika rajin sholat setiap hari, ataupun saat lemah iman dengan hanya sholat seminggu sekali pada hari jumat saja. Biasanya di sujud terakhir, saya akan ‘meminta’.

Waktu itu doa saya adalah lulus SPMB untuk masuk Unpad. Pertama, karena dulu ayah saya gagal lulus dari Universitas negeri inii. Kedua, biar biaya kuliah saya bisa murah. Mengapa kuliah murah menjadi penting? Kedua kaka saya kuliah di universitas swasta ternama Jakarta. Biayanya mahal! Dan saya nggak mau uang ibu saya hanya habis untuk biaya kuliah saya nanti.

Pikiran ini tentu mustahil muncul di kepala saya, jika ayah saya dengan segala materi yang dia dapatkan dari pekerjaannya, masih ada. Akhirnya, saya masuk Unpad, dengan biaya kuliah untuk angkatan saya, hanya sekitar 375 ribu/semester, sampai saya lulus! Biaya kuliah saya sampai lulus bahkan lebih murah atau sama dengan biaya kuliah kaka saya per semester. Dari situ pun langkah saya pun mulai berani lagi melangkah lagi ke tempat atau tujuan yang rasanya saat itu nggak masuk akal.

Waktu pun berjalan. Sekarang akhir 2011. Ayah saya meninggal di China, tahun 2001. Dan ‘Titik-titik’ saling terhubung.

Selama kurun waktu 10 tahun setelah ayah saya meninggal, hidup saya berubah. Positif tentunya. Saya melangkah ke tempat yang bahkan nggak pernah dia, ibu, atau kakak saya dapatkan.

Saya mendapatkan kesempatan menjadi delegasi Unpad untuk ikut HNMUN ke Amerika Serikat. Dengan sumringah saya bisa melihat Lincoln Memorial, di Washington DC, tempat bersejarah dimana Martin Luther King berpidato menuntut persamaan haknya dengan judul ‘I Have a Dream’.

Washington DC, 2008.

Ketika satu pintu terbuka, maka ia akan membuka pintu-pintu kesempatan lainnya. Kemudian, saya bisa main angklung dan wayang di Eropa, walaupun saya bukan seniman sungguhan. Saya juga menulis buku ‘Merah Putih di Benua Biru’ yang diterima baik di masyarakat.

Main Angklung di Polandia, 2009

Dan sekarang, saya mendapatkan beasiswa untuk kuliah di London, Inggris.

London, 2012

London, 2012

London 2012

Ya, setiap kejadian ada alasannya. Dulu saya nggak ngerti kenapa ayah saya harus meninggal. Tapi, setelah berbagi ‘titik-titik’ kejadian terhubung, saya mulai mengerti.

Kematian ayah saya ternyata memang diharuskan untuk membuat hidup saya menjadi lebih baik. Dan dengan kematian tersebut, ayah saya justru telah menjadi pahlawan terhebat! Dia bahkan rela menerima takdir kematiannya, mati lebih dahulu tanpa melihat anaknya tumbuh dewasa, tapi demi kehidupan anaknya yang lebih baik.

Ya, ayah saya adalah pahlawan paling hebat yang saya miliki, selain tentu ibu saya yang tetap berjuang dan memilih tidak menikah lagi saat ayah saya tiada.

10 Tahun yang lalu saya marah pada Tuhan, karena seenaknya Dia ‘ambil’ ayah saya. Tapi, 10 tahun kemudian, saat ini, saya bersyukur, Tuhan mengambil ayah saya. Karena ternyata, kematiannya di saat saya masih remaja tersebut, telah jadi salah satu titik balik terpenting dari hidup saya.

Kita nggak perlu mengerti alasan kejadian pahit yang kita alami saat ini. Pastikan kita tetap melangkah, dan bisa jadi kita akan menemukan alasan manis di balik rasa pahit tersebut. Dan dari situ, kita akan bersyukur.

Surat Khusus untuk Ayah Saya.

Saking kagumnya sama ayah saya, saya dedikasikan satu chapter khusus untuk dia di buku pertama saya ‘Merah Putih di Benua Biru’, sebuah buku tentang misi budaya saya di Eropa. Chapter tersebut bisa dilihat di bawah ini.

EPILOG: LETTER TO MY FATHER

Hai pah..what’s up? gimana taman surga? asyik nggak?Pah, aku lagi nginjak tanah yang nggak pernah papah injak nih. Eropa. Untuk urusan ini, aku sudah ngelebihin papah. Seperti yang papah mau dulu.

Bukan cuma soal ke Eropanya, tapi seneng deh ngeliat bocah-bocah di sini ternyata demen segala sesuatu tentang Indonesia, mulai dari sejarah, budaya, main angklung dan wayang golek. Papah inget kan kalau dulu kita suka nonton wayang goleknya Asep Sunandar Sunarya sampai subuh di TV. Terus, abis itu kita pasti adu gulat berlaga jadi Gatot Kaca versus si Buta. Aku Gatot Kaca, papah jadi si Buta. Ya, paling nggak ini kita mainkan sampai era WWF tiba, dan sejak itu aku jadi The Rock, papah jadi Triple-H. Absurd ya?

Eh pah, tiap jalan di sini, tiap masuk kelas, tiap aktivitas, aku seperti ngeliat wajah papah terus. Ngintip terus ya pah dari atas? Apalagi kalau di sini lagi ngedongeng cerita rakyat. Jadi, inget dulu papah suka cerita Lutung Kasarung dan Ciung Wanara. Dua dongeng yang dulu papah terus ulang dan ulang.

Eniwei, aku mulai bersyukur papah “dipanggil” 10 tahun yang lalu. Saat aku masih super manja dan baru kenal namanya cinta monyet. Dulu saya menyalahkan Allah. Tapi, seiring waktu aku sadar kalau itu adalah sebuah “les privat” dari Allah untuk lebih siap menghadapi hidup. Dan nggak semua anak ngerasain ditinggal orang tua saat masih kecil atau masih labil. Aku jadi ngerasa sebagai orang pilihan.

Apalagi setelah saya nemuin foto hitam-putih papa jaman kecil dengan tulisan “Ini saya dan adik-adik saya. Senang, walaupun di kampung kami paling miskin.”

SUMPAH, sejak itu, aku jadi berani punya mimpi besar. Mimpi ngelebihin papah. Mimpi meraih lebih dari apa yang papah dapat. Eh, tapi ini bukan soal uang. Tapi, soal pengelaman hidup. Soal nilai hidup. Seperti yang papa dulu pernah bilang “Kaya itu penting, tapi punya nilai buat orang jauh lebih penting.”

Sejak itu aku juga mau ngebuktiin aku bisa ngeraih apa yang aku mau. Tiap kali gagal, saya tinggal ingat foto papah itu dan akhirnya bisa berkata “i will find my own way.”

Maafin juga pah, aku juga kadang “keras” sama si mamah. Ya, emang aku nggak bisa manis dan pura-pura suka kalau emang aku punya pendapat lain. Mudah-mudahan dia ngerti. Maafin juga aku belom bisa menuhin amanat papa untuk solat 5 waktu. Susah pah.

Oke deh. Sudah dulu ya. Saya mau balik ngajar anak-anak di sini tentang Indonesia lagi. Baik-baik ya pah di sana.

Eniwei, Di sini dingin pah. Apalagi kalau lagi musim dingin. Apalagi kalau nggak pake kolor.

Di sana ada musim dingin nggak pah? Ehm, papah pakai kolor kan?

Miss you. – your son, on Earth-

***
Kelak, saya juga akan menjadi seorang ayah. Semoga, suatu saat nanti, saya juga bisa menjadi pahlawan yang hebat untuk anak saya.

BUAT SAYA, TAHUN 2011 ITU ADALAH……

Ramalan tahun 2011! Berdasarkan penelitian singkat saya di berbagai majalah (mulai dari majalah pria pamer perut sixpack, wanita dengan senyum sensual, sampai majalah bobo), berbagai situs internet, sampai infotainment di TV, hidup seorang Libra, tidak akan bagus dan banyak gejolak negatif! Selain itu, kalau dari perhitungan China, shio kerbau juga akan mengalami banyak kesialan, terutama di tengah tahun! Parahnya, saya adalah Libra dan Bershio kerbau! Rasanya seperti menerima ‘paket combo kesialan’, hehe.

Apalagi yang ngomong bukan sembarangan. Mereka adalah orang-orang dengan gelar ‘Ki’, ‘Madame’, ‘Mama’, ‘Miss’, ‘Suhu’. sampai ‘Mbah’. Mulai dari dukun bernama Jawa, kaum gipsi yang nomaden, sampai para suhu di negeri tiongkok sana. Bahkan para cenayang dari Amerika juga tidak ketinggalan memprediksi. Bisa jadi mereka adalah lulusan dari universitas perdukunan terbaik domestik maupun luar negeri!😀

Lalu, bagaimana dengan hidup saya sampai tahun 2011 hampir berakhir? Setujukah Tuhan dengan pendapat para mereka? Inilah ‘GBHE 2011’ atau ‘Garis-Garis Besar Hidup Erdit tahun 2011’ :

1.Buku Pertama saya ‘Merah Putih di Benua Biru’ Rilis di Februari 2011. Gila! Saya sampai lulus kuliah di tahun 2008, nggak pernah kebayang kalau saya bisa menulis sebuah buku dan diterbitkan dan muncul di toko buku di Indonesia dan dipublikasikan luas di beberapa media dan yang paling penting dapat respon yang baik dari pembaca.

2. Satu pintu terbuka, maka akan terbuka pintu-pintu lainnya. Gara-gara nulis buku, saya ketemu banyak temen baru. Mulai dari sesama penulis, mahasiswa dan pelajar, sampai wartawan. Saya bisa sharing berbagai cerita dengan mereka. Dan rasanya saya seperti menemukan kebahagiaan lain, yang nggak saya dapat atau beda dari kerjaan saya sehari-hari. Rasanya ajaib banget saat cerita saya bisa kasih manfaat ke teman-teman yang lebih muda. Kaya ada geli-geli senang di hati gitu lah istilahnya. Bahagianya, bahkan ngalahin jatuh cinta. Bersyukur! Karena seumur hidup, di tahun inilah saya merasa bisa jauh lebih berguna buat orang lain. Cieeeh.

Sharing di salah satu sekolah di Jakarta.

Cerita tentang buku di Jakarta Globe

3. Di tahun 2011, tepatnya bulan Juni, saya memutuskan resign dari kantor saya setelah tiga tahun bekerja. Rencanannya, pada September 2011, saya akan melanjutkan kuliah S2 di Eropa. Pilihannya Inggris atau Belanda. Ya, lanjut kuliah memang sudah jadi tujuan dari dulu. Saya sengaja resign lebih awal untuk mempersiapkan tes IELTS. Tes pertama gagal. Tes kedua, sepertinya juga akan gagal. Tapi kenyataannya, saya berhasil. Tapi, apakah saya jadi berangkat di bulan September? TIDAK!

4.Di tahun ini juga saya mendapatkan pelajaran besar: Setiap keputusan ada risikonya. Dan yang terpenting adalah, melakukan yang terbaik dari keputusan yang kita ambil. Hadapi risikonya, bukan menyesali keputusannya. Penyebabnya adalah ini:

Saya nggak jadi berangkat kuliah bulan September. Karena siapa? Tuhan! Eits, tunggu saya nggak menyalahkan Dia. Saat itu, ada beberapa masalah, yang membuat saya saya ragu untuk berangkat September. Nggak sreg. Rasanya terlalu mepet. Apalagi nenek, yang dekat banget dengan saya, sedang sakit parah!

Saya pun, secara tumben-tumbenan, meminta petunjuk dari Sang Maha Pengatur! Sebetulnya saya malu sih jadi manusia yang ’tiba-tiba religius’. Begitu bingung dan butuh petunjuk, baru deh sholat lebih banyak, baru deh berdoa dengan benar, baru deh ini-itu, dan baru deh-baru deh lainnya. Cuma ya dibanding jadi Musyrik karena minta-minta sama yang ‘lain’, hehe.

Akhirnya, saya dapetin petunjuk kalau saya harus menunda keberangkatan saya menjadi awal tahun 2012 melalui sebuah mimpi! Sumpah, ini keputusan paling berat dan absurd yang saya ambil tahun 2011. Tapi, saya mencoba yakin karena sebelumnya sudah istikharah minta petunjuk.
Keputusan ini punya risiko besar. Pertama, saya harus mulai proses pendaftaran kuliah dari awal lagi. Parahnya, pilihan jurusan dan universitas di bulan Januari lebih sedikit. Kedua, saya sudah resign dari pekerjaan utama saya di bulan Juni, karena yakin akan berangkat kuliah september. Ini berarti, ada kemungkinan saya harus menggunakan tabungan saya sampai akhir tahun 2011, walaupun alhamdulilah, masih ada pemasukan dari royalti buku dan kerjaan freelance.

5. Tahun keajaiban! Ya, berbagai masalah yang terkesan ‘acak’ kemunculannya dan membuat saya harus menunda keberangkatan kuliah, terilhat ‘jelas’ alasannya di bulan November. Tuhan memang hebat banget dalam mengatur segala sesuatu. Masalah itu memang sengaja dibuat agar saya menunda kuliah saya. Karena apa? Karena di akhir tahun ini diumumkan, kalau saya mendapatkan beasiswa dari University of Westminster di London, Inggris.Bayangin kalau saya tetap memaksakan diri pergi bulan September! Saya nggak akan dapat beasiswa ini kan? Hebatnya, kampus saya ini terletak di dekat Baker Street, jalan yang jadi markasnya detektif hebat Sherlock Holmes, yang ceritanya nggak pernah bosan saya baca berulang kali dari jaman SMP dulu. Oiya, saya akan mulai kuliah pada bulan Januari 2012! Rasanya lebih enak dari mimpi. Karena ini nyata!😀

Yeay, Visanya dapat!

London!!! (foto diambil dari http://www.britishmovers.co.nz)

Salah satu gedung kampus saya nanti di London

6. Nenek saya meninggal! Ya, ini adalah kejadian paling berat di Tahun 2011. Kita deket banget, terutama karena dia suka baca juga. Dia suka cerita seperti Sherlock Holmes dan kita suka berdebat panjang karena dia termasuk orang yang 100 persen percaya sebuah teori konspirasi yang mengatakan kalau Hitler meninggal di Garut .

Tapi, di sisi lain saya senang juga. Pertama, dia terbebas dari penyakit Kanker yang nyerang paru-paru sampai pita suaranya. Kedua, dia sempat menyelamati saya ketika tahu kalau saya dapat bea siswa. Ketiga, saya masih di Indonesia, saat dia meninggal, bahkan bisa melihat langsung ‘panggilan terakhir’ Tuhan untuknya. Terakhir, ayah saya jadi dapat tambahan teman di ‘surga’🙂

Ya, itulah 2011! Memang banyak juga yang buat kecewa, tapi tetap nggak ada yang terbekas, karena anugerah tahun ini begitu besar! Ya, ternyata saya mendapatkan ‘beking’ terhebat buat mengalahkan segala ramalan-ramalan itu, yaitu: Tuhan. *muka alim mode on*

Lalu, bagaimana dengan tahun 2012? Yang jelas saya masih menanti kejutan-kejutannya! Dan juga menanti jodoh! Haha, ujungnya curcol. *keplak kepala sendiri*

Oiya, Saya juga berjanji untuk semakin nyempetin waktu berbagi cerita di sini, di sela kesibukan kuliah nanti. Selamat tahun baru teman!🙂

Daftar Donatur #1078 Merah Putih di Benua Biru

Hi, teman-teman. Saya mengucapkan terima kasih atas segala donasi yang masuk ke rekening yang sudah dicantumkan. Saya akan berusaha untuk menjaga amanah ini dan mengawasi buku Merah Putih di Benua Biru agar diterima dengan baik oleh pihak-pihak terkait yang akan membantu penyebaran buku ini ke perbatasan dan pelosok RI.

Ini adalah daftar donatur yang telah masuk. Setiap harinya, akan terus saya update. Ditunggu juga kontribusi dari teman-teman yang lain.

#1708MerahPutihBB: Untuk Perbatasan dan Pelosok Indonesia

Misi: 1708 Buku Merah Putih di Benua Biru untuk anak-anak di perbatasan dan pelosok Indonesia.

Hi teman-teman, ada yang sudah tahu mengenai Gerakan Sabantara (@sabantaraUI)? Sabantara adalah komunitas yang aktif bergerak di dalam pengembangan kawasan perbatasan NKRI. Mereka juga berjuang menyalurkan buku-buku ke Rumah Baca dan Rumah Kreatif yang ada di 12 titik Pulau-pulau Terdepan dan Perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (info: http://sabantara.web.id/). Selain Sabantara, sebenarnya masih banyak juga program lainnya yang juga aktif di kegiatan ini, misalnya Indonesia Menyala.

Di daerah pelosok dan perbatasan kekurangan berbagai bahan bacaan berkualitas. Bahkan menurut komunitas Sabantara, beberapa orang yang buta huruf (termasuk orang dewasa) memiliki keinginan kuat untuk belajar membaca, tapi sayangnya masih minimnya buku-buku yang masuk kesana.

Inilah yang jadi awal niat saya untuk membantu dengan buku saya Merah Putih di Benua Biru. Buku tentang misi budaya saya di Eropa yang bertujuan untuk membuktikan bahwa siapapun bisa menjadi duta bangsa. Buat yang belum baca ceritanya bisa cek di blog ini atau GNFI: http://bit.ly/eDEqUW

Niat ini semakin kuat setelah mendengar cerita dari Yunita Ekasari, pengajar muda dari program Indonesia Mengajar di Kabupaten Tulang Bawang Barat Lampung, yang juga pembaca buku saya.
***
From: Yunita Ekasari
To: erditya.arfah@yahoo.com

Saya masuk ke kelas empat. Guru kelas mereka berhalangan hadir saat itu. I think this my opportunity to introduce them what is dream? Ketika saya bertanya ke mereka, mimpi kalian apa? Mereka hanya diam. Mungkin mereka kaget, saya tiba-tiba bertanya tentang hal yg tak pernah mereka tahu sebelumnya. Saya mencari cara agar hal ini bukan menjadi sesuatu yang berat bagi mereka.

And yeaaahhh, I was inspired by you, mereka butuh role model agar pesan yang saya inginkan sampaikan tentang mimpi dan cita-cita bisa “nyantol” dan mereka “ngeh” what is dream and future.

I choose u, karena youu’ve made karya nyata tentang how to make ur dream come true dalam bahasa yang sederhana. Selain itu juga, karena unsur mengajar dalam buku kakak yang menurut saya akan membuat mereka excited. Karena, dari obrolan ringan saya dengan mereka, they interested in teaching so much. Apalagi kakak mengajar budaya Indonesia ke anak-anak yang non-Indonesia.

And they also proud of Indonesia much. They love Indonesia very much.

So, how was their opinion?? After I explain about u, mereka langsung bilang: Kak Erdit hebat ya bu, bisa ngajarin anak-anak asing tentang Indonesia.

coooolll statement dari mereka yang sempat bikin saya speechless.

“Saya juga mau ke eropa bu, bawa bendera merah putih”

“Saya juga mau punya mimpi bu” even though mungkin they still ask what is cita-cita.

Saya benar-benar gak bisa gambarin perasaan haru saat itu.

Entahhhh. I was very happy. When I see, they’ve had dream now.

Thank you for inspiring them. You are their hero.
***

Murid SD di Tulang Bawang Barat dan buku #MerahPutihBB


Seriously, mata saya panas baca tulisan di atas. Mereka bilang saya inspirasi mereka. Padahal, para pengajar muda dan murid-muridnya inspirasi saya, karena bisa jadi mereka memiliki kecintaan yang lebih besar dan tulus kepada Indonesia, dibanding kita (saya) yang hidup di kota besar.

Yes, they are my truly hero.

Dan saya ingin melakukan sesuatu untuk mereka. Anak-anak atau anak muda yang berada di pedalaman dan pelosok Indonesia yang saya yakin juga memiliki mimpi besar untuk Indonesia.

Inilah yang jadi alasan mengapa saya ingin mengirim 1708 buku Merah putih di Benua Biru untuk mereka yang di pelosok dan perbatasan Indonesia. Dan kenapa 1708? Ya, karena buat saya ini adalah kode cita-cita bangsa: 17 Agustus. Saya harap buku ini nanti mampu menjadi bacaan yang baik untuk anak-anak di sana sehingga memiliki semangat, lebih optimis mengejar cita-citanya dan makin cinta Indonesia.

Tapi, dengan keterbatasan dana, tidak mungkin saya bisa membeli sebanyak 1708 buku sendirian, walaupun Saya juga sudah nego ke penerbit saya untuk memberikan diskon sehingga harga menjadi 30000/pcs (harga toko buku: 42.500).

TOTAL DANA YANG DIBUTUHKAN: 1708 X 30000: 51.240.000 (*saya masih nego harga lagi untuk jadi 25 ribu sebenarnya kalau berhasil mereaih total pemesanan minimal 1000 pcs)

Saya mengajak teman-teman, baik yang sudah baca atau belum baca buku saya untuk berkontribusi dan melakukan donasi untuk mewujudkan program ini. Bagi teman-teman yang mau memberikan sumbangan bisa kirim dengan subjek/detail transfer ‘1708 Merah Putih’ ke:

1. BCA No. Rek: 066.2327296 atas nama Erditya Nur Arfah
2. MANDIRI: No. Rek: 1670000279561 atas nama Erditya Nur Arfah


Deadline untuk mengirimkan donasi adalah: 20 Juni 2011.

Semua uang yang terkumpul akan digunakan untuk membeli buku Merah Putih di Benua Biru yang akan disalurkan terutama melalui gerakan Sabantara dan gerakan-gerakan sejenis lainnya yang juga terpercaya. Aliran dana yang masuk akan saya laporkan dengan transparan melalui blog saya ini setiap harinya.

Semoga semua kontribusi dan donasi teman-teman menjadi berkah dan dibalas berkali-kali lipat . Apalagi kalau ternyata menjadi berkah buat murid-murid dan orang-orang di sana. Amin.

Oiya, mungkin ada yang bertanya ‘kenapa harus buku Merah Putih di Benua Biru’? Ga harus kok. Kalau ada yang mau bantu dengan buku lain, bisa juga langsung menghubungi Sabantara atau program lainnya seperti Indonesia Menyala (@Penyala) dan lainnya yang kalian percaya.

Jika ada yang mau bertanya silahkan langsung hubungi saya.

Salam,

Erditya Arfah
@erdityaarfah
erditya.arfah@yahoo.com

THE HERO!

25 tahun hidup, saya punya berbagai pahlawan, dari yang masih hidup, sudah meninggal, atau tokoh fantasi sekalipun (YEAH, I’AM THAT WEIRD)😀

Alm.Ayah. Dia mengajarkan hidup sederhana. Dia mengajarkan kalau ikan asin lebih enak disbanding steak. DIa mengajarkan wayang golek tetap jadi tontonan yang asyik, walaupun saya dipaksa juga belajar alat musik modern, gitar elektrik.

Conan. Ya, detektif Conan. Dia mengajarkan bahwa menjadi cerdas itu ada gunanya kalau bisa membantu orang lain . Dalam hal ini kasus yang dia bongkar.

Edison.
Dia berikan contoh bahwa sukses itu bukan sekedar bakat dan otak, tapi kemampuan untuk tidak menyerah.

Newton. Kisah hidupnya membuktikan bahwa kejadian simpel pun bisa menjadi inspirasi ilmu besar. Inget kan dia menemukan teori gravitasi saat melihat apel terjatuh dari pohonnya?

Doraemon. Ya, dia mengajari pentingnya mimpi, kreativitas dan inovasi.

Selain mereka masih banyak lagi tokoh-tokoh yang saya kagumi dan bisa dijadikan contoh. Mulai dari Bambang Pamungkas, Ali Alatas, Jusuf Kalla, Bono U2, Nelson Mandela, dan sebagainya.

Tapi, sebanyak apapun hero yang kita kagumi, ada satu hero yang menurut saya paling penting dan seringkali dilupakan atau tidak pernah disadari. Orang itu adalah;

SAYA SENDIRI.

Ya, saya sendiri

Tunggu! Jangan stop membaca tulisan ini atau kalian akan menganggap saya makhluk paling narsis dan menggelikan karena memuja diri sendiri!

Coba renungkan terlebih dahulu maksud saya menulis tulisan

Satu detik.

Dua.

Tiga.

………

Sudah? Ok, ini maksud saya.

Sebagai manusia, wajar kita belajar dari kisah-kisah hidup orang lain. Mempelajari sukses orang lain. Mempelajari kebahagian orang lain. Kita kagum! Tapi, tetap yang menentukan kesuksesan kita adalah:

Diri kita sendiri.

Di sinilah poin yang saya tulis di atas bahwa kita adalah hero bagi kita sendiri.

Bukankah Allah juga bilang “Tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mengubah dengan tangannya sendiri. Tuhan saja sudah ngomong seperti itu, tapi kadang kita terlalu meremehkan diri kita sendiri dengan misalnya: gampang menyerah.

I decided long ago, never to walk in anyone’s shadow
If I fail, if I succeed
At least I’ll live as I believe
No matter what they take from me
They can’t take away my away dignity
Because of the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

Lirik lagu The greatest love of all dari Whitney Houston di atas selalu jadi pengingat jika saya gagal. Kalau gagal sekali, bukan berarti gagal selamanya kan? Sekali gagal, bukan berarti kita nggak akan sukses dan meraih mimpi kita. Yang penting, kita terus belajar dari kesalahan dan terus eksplor diri kita sendiri, dan nggak menjadikan diri sendiri ‘subjek kesalahan’.

Bersyukur dengan kelebihan, kekurangan, keunikan, diri kita sendiri. Let’s love and explore more ourselves.

Don’t pray for easy life. Pray to be a stronger man (JFK)

Mengapa?

Karena kita adalah hero untuk diri kita sendiri dan nantinya siapa tahu akan menjadi hero buat orang lain.😀

****
Btw, minggu depan saya akan nulis dengan tema ‘Belajar dari Komik’ dan ‘Indonesia: Rumah Bersama.; Tunggu yakkk!!

LET’S MAKE OUR OWN STORY!

Semenjak buku ‘Merah Putih di Benua Biru’ terbit, ada banyak tanggapan yang masuk. Gue bersyukur, dalam hidup gue bisa menerbitkan buku dan bisa berbagi melalui pengalaman ini. Dengan berbagi cerita, rasanya gue merasa berguna dan punya andil buat kehidupan orang lain.

Sejak itu, mulai masuk berbagai tanggapan ke gue. Ada berupa pujian yang bikin gue terbang tinggi, kecewa yang bikin gue ‘meluncur’ ke bawah tapi membuat gue sadar untuk terus belajar, sampai ada komplen yang bikin gue heran garuk-garuk kepala.

Nah, kali ini gue mau nulis soal komplen yang bikin gue heran tersebut. Ini salah satu kasusnya:

‘DIT, BULLSHIT LAH TULISAN LO. GW UDAH COBA NGIKUTIN CARA LO, TAPI GAGAL. DAN GW YAKIN BUKAN GW DOANG YANG GAGAL NGIKUTIN CARA LO. LAIN KALI NGASIH TIPS YANG BENER DONG BUAT DAPETIN DUIT ATAU PERGI GRATIS’

Ebuset! Astagfirullah!

Sebagai manusia biasa, normal, dan punya emosi, baca email yang masuk seperti ini kadang bikin emosi, ketawa, sekaligus sedih. Kalau, jiwa antagonis gue sedang dominan mungkin akan gue jawab ‘Hey go get your own life, Boy!’ atau ‘Siapa juga yang nyruh lo ikutin cara gueeeee!’ 😀

Tapi kira-kira ini apa yang ada di pikiran gue:

Alhamdulilah kalau cara gue diikutin ‘plek-plekan’ dan syukur bisa berhasil juga. Senang banget! Tapi, bukan itu tujuan gue menulis buku ini. Tujuan dari buku ini bukan agar para pembaca gue melakukan hal yang sama seperti yang gue lakukan baik dalam mencari donatur/sponsor ataupun soal bagaimana kita menunjukkan rasa cinta kepada Indonesia. Kenapa?

Karena, gue percaya tiap orang punya cara dan sukses versi sendiri.

Tiap orang punya ceritanya sendiri. Dan tiap orang bertanggung jawab sendiri atas cerita yang dia inginkan. Tentu tanpa harus jadi takabur dan melupakan Tuhan.

Misal. Gue terinspirasi banget sama ilmuwan-ilmuwan jenius macam Einstein dan Edison. Mereka hebat. Nah, sekagum-kagumnya gue sama mereka, ga akan mungkin lah gue jadi fisikawan seperti Einstein. Percaya nggak percaya, dari 50 soal ulangan umum fisika, gue pernah dapat nilai 0.25. So, dari 50 soal, Cuma 2 nomer yang bener -_-. Gue akan gagal kalau ngikutin cita-cita dan cara ‘plek-plekan’ seperti mereka.

Tapi ada value universal yang bisa diambil dari kisah mereka:

Kejeniusan mereka bukan hanya karena mereka terlahir jenius, tapi lebih karena kemamuan mereka buat nggak menyerah. Dan Tuhan akan memberikan mereka jalan.

Yak, tiap orang punya versis sukses sendiri. Gue, orang tua kita, lo, Einstein, Newton, Habibie, kita semua.

Ok, misalkan anggap saja kita buat persamaan sukses (versi lo sendiri tentu) = X.

Nah, tentu cara kita mencapai ‘X’ nggak harus sama kan. Misal, gue menempuh cara A, B, C, dan langsung dampai ke X Ada juga yang dari A, bisa langsung loncat mencapai Z. Adajuga yang harus sampai muter-muter sampai ‘Y,Z, balik lagi ke A, sampai akhirnya menemukan faktor X= Suksesnya’.

Cara boleh beda, tapi yang paling paling penting, kita mencari nilai-nilai universalitasnya dalam kesuksesan seseorang mialnya: selalu optimis, kerja keras, rendah hati saat mencapai sukses, selalu berdoa dan pasrah, dan sebagainya.

Gue juga masih mencari jalan menuju apa yang gue inginkan. Yuk, kita sama-sama saling menginspirasi untuk mencapai sukses versi kita sendiri.Let’s make our own story. Cerita yang bagus tentunya, yang bisa jadi pelajaran dan berkah buat orang lain. Amin. 

Post Navigation