Erditya Arfah

Saya, Susu dan Cita-Cita Menjadi Tuhan!

Pasti pernah dengar kan cerita Firaun yang ngaku jadi Tuhan di zaman Nabi Musa? Semua orang pasti akan bilang kalau Firaun itu keterlaluan sampai mengaku menjadi Tuhan. Klimaksnya, dia ditenggelamkan di laut saat mengejar Musa. Kita pun berteriak hore saat dia tenggelam. Sebuah tanda akan kemenangan sang Rasul.

Tapi, bagaimana jika saya bilang, dengan jujur, bahwa saya pernah ingin menjadi Tuhan? Apakah kalian akan mengeluarkan cacian juga kepada saya? Apakah kalian ingin saya juga ditenggelamkan di lautan?

Tapi, saya rasa sih kalian nggak akan marah, karena itu semua terjadi di tahun 1989-1990.

Teruuuuus dit kenapa emang kalau tahun 1989?

Saat itu saya masih TK woy, haha! Dan masih ‘ngempeng’ susu instan dari botol! Masih suci, hahaha!

Gila lo dit! Dari kecil udah kafir!!!

HEH! Kan udah saya bilang kalau itu waktu TK! Mau tahu alasannya kenapa saya yakin saya bisa jadi Tuhan?

Yakin mau tahu? Janji ya, nggak akan mengatakan saya kafir!

Satu kata. Susu.

Ya, semua ini gara-gara susu! Konon, susu akan membuat badan kita tumbuh besar, sehat dan kuat. Tentu saja, saya juga mau jadi anak yang kuat dan hebat.

Jadi saat minum susu, saya akan berteriak kesenangan, “Mau minum susu biar kuat kaya Allah!” atau, “Mau minum susu biar bisa jadi Allah!”. Dan biasanya saya mengatakan itu saat meminta susu pada bibik saya di rumah. Hebatnya, saya mengatakannya dengan ceria.

Ini sebetulnya saya jadi mikir sih, ini dulu saya terlalu polos atau bodoh ya? Haha. Tapi, mungkin saat itu, Allah pun tersenyum dan maklum melihat kepolosan saya! Buktinya, saya nggak pernah ditenggelamkan di laut, hehe.

Sehari kadang terasa lama. Tapi, tahun-tahun berganti berlalu nggak kerasa. Saya yang berumur 4 tahun, telah sampai menjadi ‘saya’ yang berumur 26 tahun. Dan saya seringkali rindu ‘kepolosan’ masa kecil saya yang justru menunjukkan ‘keberanian’.

Dengan kekuatan sebotol susu rasa vanilla, dulu saya percaya bisa menjadi si Maha Kuat. Saya pun nggak perlu takut untuk berusaha terus, dengan keras kepala, minum susu sapi bervitamin setiap hari, untuk mengejar cita-cita menjadi Tuhan. Sebuah cita-cita yang pasti nggak akan pernah berhasil.

Tapi, ketika dewasa, ketika merasa ilmu semakin bertambah, justru ketika itu pula saya seringkali takut mencoba untuk mengejar apa yang saya mau. Saya ulang lagi plus bold: Takut mencoba. Dan saya rasa, bukan saya saja yang mengalami ini.

Setiap teringat masa kecil saya yang polos dia atas, saya selalu akan teringat kalau kita perlu meniru keberanian anak kecil dulu. Cita-cita masa kecil saya untuk jadi Tuhan tentu nggak akan pernah kesampaian. Tapi, bukan berati saya nggak akan bisa menjadi ‘Tuan’ dari diri saya sendiri dalam menentukan langkah ke depan kan?

Saya, Erditya Arfah dewasa, berjanji pada Erditya Arfah di masa kanak-kanak, bahwa walaupun takut, saya tetap akan mencoba berusaha, baik nanti hasilnya gagal atau berhasil. Seperti saat ingin menjadi Tuhan yang sudah pasti nggak akan pernah berhasil, tapi saya nggak pernah berhenti berusaha minum susu 4 kali sehari tanpa mikir gimana hasil akhirnya nanti.

Saat SMP, ayah saya pernah memanggil saya, tiba-tiba. Dia menatap saya dan tersenyum lembut berkata, ‘sekarang papa sudah 56 tahun. Waktu nggak pernah kerasa. Masih kerasa kayaknya kaki ini dipakai jalan kaki untuk jualan di Pasar dan sekolah. Dit, kamu nggak akan nyesal bahkan akan senyum atau tertawa bahagia atass usaha kamu dulu, apapun hasilnya. Percaya deh.’

Dan dia benar.

Tulisan ini akan menjelma menjadi ‘mesin waktu’ saya. Tulisan pengingat bahwa saya harus berani untuk mencoba berusaha, walau ada rasa takut di hati. Takut gagal membuktikan kalau saya hanya manusia. Tapi, takut berusaha atau mencoba, justru seperti saya menghina kelebihan saya sebagai manusia.

Mau ikut ‘mesin waktu’ saya?

AYAH: PAHLAWAN SAYA SEPANJANG MASA

Scene saat saya menulis ini: London, 2 derajat celsius saja. Situasi hati, damai. Situasi perut, sedang perang a.k.a KELAPARAN!

Setiap orang punya pahlawannya masing-masing. Dan itu biasanya akan selalu berubah dan terus bertambah. Kadar kekaguman kita pun naik-turun. Kadang kadar ‘kepahlawanan’ mereka turun atau hilang sama sekali di hati kita. Bisa jadi, karena kita menemukan ‘pahlawan’ lain yang lebih hebat dibanding dia.

Seperti manusia lainnya dan hidup yang terus berjalan, pahlawan saya juga terus berubah dan bertambah. Saat kecil, pahlawan saya adalah Seiya dari Saint Seiya dan Doraemon. Seiya mengajarkan saya bagaimana berjuang demi keadilan dengan jurus ‘Meteor Pegasus’. Sementara, Doraemon mengajarkan saya pentingnya imajinasi melalui ‘baling-baling bambunya’. Kemudian, saat SMP saya mengenal Sherlock Holmes dan Detektif Conan. Setelah kuliah, saya menemukan banyak pahlawan baru yang saya anggap lebih hebat, mulai dari BJ Habibie, Paolo Coelho si penulis buku Sang Alkemis-nya yang ‘menghidupkan’ mimpi, sampai teman kuliah saya, Adam, seorang asli Cilacap yang berjuang keras menemukan kepercayaan dirinya di Bandung, tapi tanpa harus menghilangkan jati dirinya, termasuk logat ‘ngapak’nya yang kental. Suatu saat saya akan menulis tentang dia juga.

Saya mencuri inspirasi dari mereka, tanpa harus menjadi seperti mereka. Karena, walaupun saya mau jadi orang yang inovatif dan visioner, bukan berarti saya harus punya wajah kucing dan tubuh seperti doraemon kan? hehe.

Pahlawan datang dan pergi, tapi ada satu yang selalu di hati, dan tetap menjadi yang terbaik. Entah terbuat dari ‘lem’ jenis apa, tapi kepahlawanannya pun nempel terus di hati saya. Dialah, ayah saya.

Ayah saya, ayah yang biasa saja sebenarnya. Satu-satunya yang jadi luar biasa adalah, kenyataan bahwa dia adalah ayah kandung saya, bukan yang lain. Kita nggak pernah bisa milih, siapa dan bagaimana ayah atau ibu kita. Tuhanlah yang milih. Dan, itu pasti ada maksud yang baik.

Kata ‘Kepahlawanan’ sendiri adalah sebuah kata yang berat. Kata yang di dalamnya pasti mengandung cerita hebat. Cerita kepahlawanan ayah saya yang paling hebat adalah saat dia bahkan jadi ‘martir’ untuk kebaikan hidup saya. Dia rela terkena siksaan perih kanker hati, tubuhnya menguning seperti bukan lagi makhluk bumi, dan akhirnya meninggal. Lalu, apa hubungannya dengan hidup saya? Banyak.

Saat ayah saya meninggal, saya nggak tahu alasan apa yang ada di benak Tuhan, sampai dia tega gitu aja ngambil nyawa ayah saya, di saat umur saya masih labil, bahkan belum mengenal rasanya first kiss gitu. Saat itu, saya dikecewakan Tuhan. Dan serius kawan, pahitnya rasa kecewa itu lebih parah di banding diputuskan oleh kekasih Anda di hari ulang tahun (Ihik! Saya pernah ngalami ini juga, haha).

Waktu berjalan. Kemewahan hidup dengan ayah pun hilang. Bukan hanya soal materi, tapi juga soal momen. Ini berarti saya gak akan bisa main gulat-gulat WWF lagi dengannya, saya nggak bisa curhat tentang first kiss saya nanti, tentang putus cinta, dan dia sudah pasti nggak akan ada di wisuda saya atau bahkan saat saya nanti menikah. Percayalah, momen manis itu lebih penting dari sekedar materi.

Katanya setiap kejadian itu ada selalu alasannya. Tapi, saat ayah saya meninggal saya nggak ngerti alasan Tuhan. Kenapa Dia nggak menggunakan ‘Kemaha-annya’ untuk menyembuhkan ayah saya, tapi malah membuatnya merasakan nafasnya yang terakhir.

Saya merasa Tuhan nggak fair, karena hanya memberi saya kesempatan untuk kenal ayah saya di waktu yang sangat sedikit. Umur saya 15 tahun saat itu. Selama itu pula saya kenal dia. Membuat dia kembali hidup tentu mustahil.

Tapi, apakah kematian seorang akan membuat kita tidak bisa mengenalnya lebih jauh? Ayah saya meninggal di umurnya yang ke-58.

58-15 = 43 Tahun!

Benar, jadi ada 43 tahun dari hidup ayah saya yang nggak pernah saya tahu. Masih misteri. Saya pun ingin mencoba melihat sejarahnya, untuk mengenal dia lebih jauh lagi.

Dan dasar Tuhan. Dia pun campur tangan di urusan ini.

Suatu ketika, saya menemukan sebuah foto di dalam koper kecil yang jeleknya minta ampun. Di gambarnya ada beberapa anak remaja dan anak kecil. DI belakang foto tua dan usang itu, ada tulisan tangan yang jelek banget tapi maknanya dalem abis, yaotu ‘Biarkan kami paling miskin di desa kami, saya bahagia bisa foto bersama adik-adik saya’. Ya, itu adalah foto ayah saya dan adiknya. Dan itu tulisan tangan dia.

Saya tahu ayah saya harus berjuang untuk sekolah, tapi saya nggak pernah nyangka dia dulu sesusah itu. Kenapa? Karena saya mengenal dia, ketika dia sudah cukup secara materi. Saya mengenal dia saat dia sudah menghasilkan banyak uang. Saya megenalnya saat dia sudah dihormati banyak orang.

Saya pun mulai mencoba mencari tahu jalan hidup ayah saya. Dia cukup beruntung bisa sekolah sampai SMA. Di berjualan segala macam sampai petasan, yang tentunya dia akan dirazia kalau itu dilakukan saat ini. Dia juga beruntung diangkat seperti anak sendiri oleh keluarga baik yang bersedia menampungnya tinggal di kota Bandung.

Setelah sempat drop out dari Unpad jurusan Ekonomi karena nggak punya biaya, dia lanjut ke sekolah gratis yaitu APDN, kalau sekarang IPDN, sekolah untuk menghasilkan para PNS. Akhirnya dia bisa menjadi PNS dengan posisi yang sangat penting di masa hidupnya.

Oiya, ada satu cerita yang kalau saya tahu saat dia hidup, tentu saya akan ‘puk-puk’ bahu dia. Bahkan karena miskinnya dulu, dia pernah ditolak bahkan sampai diludah oleh seorang perempuan yang menolak lamarannya (Tentu bukan ibu saya!). Dan sialnya ini bukan adegan sinetron striping macam Putri Yang Ditukar atau apapun itu dengan judul dramatisnya. Ini Nyata. Ah, poor you dad, haha!

Sejak melihat foto usang itu saya seperti berani punya cita-cita. Saat itu, saya hanya ingin membuktikan bahwa tanpa seorang ayah pun, saya baik-baik saja. Saya nggak mau kalah sama ‘cerita hidup’ ayah saya. Ajaibnya, setiap ingat foto tersebut semangat saya biasanya kembali muncul! Buat saya foto itu adalah jimat saya!

Sejak itu, saya mulai berani bercita-cita. Saya juga coba berdoa. Baik ketika rajin sholat setiap hari, ataupun saat lemah iman dengan hanya sholat seminggu sekali pada hari jumat saja. Biasanya di sujud terakhir, saya akan ‘meminta’.

Waktu itu doa saya adalah lulus SPMB untuk masuk Unpad. Pertama, karena dulu ayah saya gagal lulus dari Universitas negeri inii. Kedua, biar biaya kuliah saya bisa murah. Mengapa kuliah murah menjadi penting? Kedua kaka saya kuliah di universitas swasta ternama Jakarta. Biayanya mahal! Dan saya nggak mau uang ibu saya hanya habis untuk biaya kuliah saya nanti.

Pikiran ini tentu mustahil muncul di kepala saya, jika ayah saya dengan segala materi yang dia dapatkan dari pekerjaannya, masih ada. Akhirnya, saya masuk Unpad, dengan biaya kuliah untuk angkatan saya, hanya sekitar 375 ribu/semester, sampai saya lulus! Biaya kuliah saya sampai lulus bahkan lebih murah atau sama dengan biaya kuliah kaka saya per semester. Dari situ pun langkah saya pun mulai berani lagi melangkah lagi ke tempat atau tujuan yang rasanya saat itu nggak masuk akal.

Waktu pun berjalan. Sekarang akhir 2011. Ayah saya meninggal di China, tahun 2001. Dan ‘Titik-titik’ saling terhubung.

Selama kurun waktu 10 tahun setelah ayah saya meninggal, hidup saya berubah. Positif tentunya. Saya melangkah ke tempat yang bahkan nggak pernah dia, ibu, atau kakak saya dapatkan.

Saya mendapatkan kesempatan menjadi delegasi Unpad untuk ikut HNMUN ke Amerika Serikat. Dengan sumringah saya bisa melihat Lincoln Memorial, di Washington DC, tempat bersejarah dimana Martin Luther King berpidato menuntut persamaan haknya dengan judul ‘I Have a Dream’.

Washington DC, 2008.

Ketika satu pintu terbuka, maka ia akan membuka pintu-pintu kesempatan lainnya. Kemudian, saya bisa main angklung dan wayang di Eropa, walaupun saya bukan seniman sungguhan. Saya juga menulis buku ‘Merah Putih di Benua Biru’ yang diterima baik di masyarakat.

Main Angklung di Polandia, 2009

Dan sekarang, saya mendapatkan beasiswa untuk kuliah di London, Inggris.

London, 2012

London, 2012

London 2012

Ya, setiap kejadian ada alasannya. Dulu saya nggak ngerti kenapa ayah saya harus meninggal. Tapi, setelah berbagi ‘titik-titik’ kejadian terhubung, saya mulai mengerti.

Kematian ayah saya ternyata memang diharuskan untuk membuat hidup saya menjadi lebih baik. Dan dengan kematian tersebut, ayah saya justru telah menjadi pahlawan terhebat! Dia bahkan rela menerima takdir kematiannya, mati lebih dahulu tanpa melihat anaknya tumbuh dewasa, tapi demi kehidupan anaknya yang lebih baik.

Ya, ayah saya adalah pahlawan paling hebat yang saya miliki, selain tentu ibu saya yang tetap berjuang dan memilih tidak menikah lagi saat ayah saya tiada.

10 Tahun yang lalu saya marah pada Tuhan, karena seenaknya Dia ‘ambil’ ayah saya. Tapi, 10 tahun kemudian, saat ini, saya bersyukur, Tuhan mengambil ayah saya. Karena ternyata, kematiannya di saat saya masih remaja tersebut, telah jadi salah satu titik balik terpenting dari hidup saya.

Kita nggak perlu mengerti alasan kejadian pahit yang kita alami saat ini. Pastikan kita tetap melangkah, dan bisa jadi kita akan menemukan alasan manis di balik rasa pahit tersebut. Dan dari situ, kita akan bersyukur.

Surat Khusus untuk Ayah Saya.

Saking kagumnya sama ayah saya, saya dedikasikan satu chapter khusus untuk dia di buku pertama saya ‘Merah Putih di Benua Biru’, sebuah buku tentang misi budaya saya di Eropa. Chapter tersebut bisa dilihat di bawah ini.

EPILOG: LETTER TO MY FATHER

Hai pah..what’s up? gimana taman surga? asyik nggak?Pah, aku lagi nginjak tanah yang nggak pernah papah injak nih. Eropa. Untuk urusan ini, aku sudah ngelebihin papah. Seperti yang papah mau dulu.

Bukan cuma soal ke Eropanya, tapi seneng deh ngeliat bocah-bocah di sini ternyata demen segala sesuatu tentang Indonesia, mulai dari sejarah, budaya, main angklung dan wayang golek. Papah inget kan kalau dulu kita suka nonton wayang goleknya Asep Sunandar Sunarya sampai subuh di TV. Terus, abis itu kita pasti adu gulat berlaga jadi Gatot Kaca versus si Buta. Aku Gatot Kaca, papah jadi si Buta. Ya, paling nggak ini kita mainkan sampai era WWF tiba, dan sejak itu aku jadi The Rock, papah jadi Triple-H. Absurd ya?

Eh pah, tiap jalan di sini, tiap masuk kelas, tiap aktivitas, aku seperti ngeliat wajah papah terus. Ngintip terus ya pah dari atas? Apalagi kalau di sini lagi ngedongeng cerita rakyat. Jadi, inget dulu papah suka cerita Lutung Kasarung dan Ciung Wanara. Dua dongeng yang dulu papah terus ulang dan ulang.

Eniwei, aku mulai bersyukur papah “dipanggil” 10 tahun yang lalu. Saat aku masih super manja dan baru kenal namanya cinta monyet. Dulu saya menyalahkan Allah. Tapi, seiring waktu aku sadar kalau itu adalah sebuah “les privat” dari Allah untuk lebih siap menghadapi hidup. Dan nggak semua anak ngerasain ditinggal orang tua saat masih kecil atau masih labil. Aku jadi ngerasa sebagai orang pilihan.

Apalagi setelah saya nemuin foto hitam-putih papa jaman kecil dengan tulisan “Ini saya dan adik-adik saya. Senang, walaupun di kampung kami paling miskin.”

SUMPAH, sejak itu, aku jadi berani punya mimpi besar. Mimpi ngelebihin papah. Mimpi meraih lebih dari apa yang papah dapat. Eh, tapi ini bukan soal uang. Tapi, soal pengelaman hidup. Soal nilai hidup. Seperti yang papa dulu pernah bilang “Kaya itu penting, tapi punya nilai buat orang jauh lebih penting.”

Sejak itu aku juga mau ngebuktiin aku bisa ngeraih apa yang aku mau. Tiap kali gagal, saya tinggal ingat foto papah itu dan akhirnya bisa berkata “i will find my own way.”

Maafin juga pah, aku juga kadang “keras” sama si mamah. Ya, emang aku nggak bisa manis dan pura-pura suka kalau emang aku punya pendapat lain. Mudah-mudahan dia ngerti. Maafin juga aku belom bisa menuhin amanat papa untuk solat 5 waktu. Susah pah.

Oke deh. Sudah dulu ya. Saya mau balik ngajar anak-anak di sini tentang Indonesia lagi. Baik-baik ya pah di sana.

Eniwei, Di sini dingin pah. Apalagi kalau lagi musim dingin. Apalagi kalau nggak pake kolor.

Di sana ada musim dingin nggak pah? Ehm, papah pakai kolor kan?

Miss you. – your son, on Earth-

***
Kelak, saya juga akan menjadi seorang ayah. Semoga, suatu saat nanti, saya juga bisa menjadi pahlawan yang hebat untuk anak saya.

BUAT SAYA, TAHUN 2011 ITU ADALAH……

Ramalan tahun 2011! Berdasarkan penelitian singkat saya di berbagai majalah (mulai dari majalah pria pamer perut sixpack, wanita dengan senyum sensual, sampai majalah bobo), berbagai situs internet, sampai infotainment di TV, hidup seorang Libra, tidak akan bagus dan banyak gejolak negatif! Selain itu, kalau dari perhitungan China, shio kerbau juga akan mengalami banyak kesialan, terutama di tengah tahun! Parahnya, saya adalah Libra dan Bershio kerbau! Rasanya seperti menerima ‘paket combo kesialan’, hehe.

Apalagi yang ngomong bukan sembarangan. Mereka adalah orang-orang dengan gelar ‘Ki’, ‘Madame’, ‘Mama’, ‘Miss’, ‘Suhu’. sampai ‘Mbah’. Mulai dari dukun bernama Jawa, kaum gipsi yang nomaden, sampai para suhu di negeri tiongkok sana. Bahkan para cenayang dari Amerika juga tidak ketinggalan memprediksi. Bisa jadi mereka adalah lulusan dari universitas perdukunan terbaik domestik maupun luar negeri! :D

Lalu, bagaimana dengan hidup saya sampai tahun 2011 hampir berakhir? Setujukah Tuhan dengan pendapat para mereka? Inilah ‘GBHE 2011’ atau ‘Garis-Garis Besar Hidup Erdit tahun 2011’ :

1.Buku Pertama saya ‘Merah Putih di Benua Biru’ Rilis di Februari 2011. Gila! Saya sampai lulus kuliah di tahun 2008, nggak pernah kebayang kalau saya bisa menulis sebuah buku dan diterbitkan dan muncul di toko buku di Indonesia dan dipublikasikan luas di beberapa media dan yang paling penting dapat respon yang baik dari pembaca.

2. Satu pintu terbuka, maka akan terbuka pintu-pintu lainnya. Gara-gara nulis buku, saya ketemu banyak temen baru. Mulai dari sesama penulis, mahasiswa dan pelajar, sampai wartawan. Saya bisa sharing berbagai cerita dengan mereka. Dan rasanya saya seperti menemukan kebahagiaan lain, yang nggak saya dapat atau beda dari kerjaan saya sehari-hari. Rasanya ajaib banget saat cerita saya bisa kasih manfaat ke teman-teman yang lebih muda. Kaya ada geli-geli senang di hati gitu lah istilahnya. Bahagianya, bahkan ngalahin jatuh cinta. Bersyukur! Karena seumur hidup, di tahun inilah saya merasa bisa jauh lebih berguna buat orang lain. Cieeeh.

Sharing di salah satu sekolah di Jakarta.

Cerita tentang buku di Jakarta Globe

3. Di tahun 2011, tepatnya bulan Juni, saya memutuskan resign dari kantor saya setelah tiga tahun bekerja. Rencanannya, pada September 2011, saya akan melanjutkan kuliah S2 di Eropa. Pilihannya Inggris atau Belanda. Ya, lanjut kuliah memang sudah jadi tujuan dari dulu. Saya sengaja resign lebih awal untuk mempersiapkan tes IELTS. Tes pertama gagal. Tes kedua, sepertinya juga akan gagal. Tapi kenyataannya, saya berhasil. Tapi, apakah saya jadi berangkat di bulan September? TIDAK!

4.Di tahun ini juga saya mendapatkan pelajaran besar: Setiap keputusan ada risikonya. Dan yang terpenting adalah, melakukan yang terbaik dari keputusan yang kita ambil. Hadapi risikonya, bukan menyesali keputusannya. Penyebabnya adalah ini:

Saya nggak jadi berangkat kuliah bulan September. Karena siapa? Tuhan! Eits, tunggu saya nggak menyalahkan Dia. Saat itu, ada beberapa masalah, yang membuat saya saya ragu untuk berangkat September. Nggak sreg. Rasanya terlalu mepet. Apalagi nenek, yang dekat banget dengan saya, sedang sakit parah!

Saya pun, secara tumben-tumbenan, meminta petunjuk dari Sang Maha Pengatur! Sebetulnya saya malu sih jadi manusia yang ’tiba-tiba religius’. Begitu bingung dan butuh petunjuk, baru deh sholat lebih banyak, baru deh berdoa dengan benar, baru deh ini-itu, dan baru deh-baru deh lainnya. Cuma ya dibanding jadi Musyrik karena minta-minta sama yang ‘lain’, hehe.

Akhirnya, saya dapetin petunjuk kalau saya harus menunda keberangkatan saya menjadi awal tahun 2012 melalui sebuah mimpi! Sumpah, ini keputusan paling berat dan absurd yang saya ambil tahun 2011. Tapi, saya mencoba yakin karena sebelumnya sudah istikharah minta petunjuk.
Keputusan ini punya risiko besar. Pertama, saya harus mulai proses pendaftaran kuliah dari awal lagi. Parahnya, pilihan jurusan dan universitas di bulan Januari lebih sedikit. Kedua, saya sudah resign dari pekerjaan utama saya di bulan Juni, karena yakin akan berangkat kuliah september. Ini berarti, ada kemungkinan saya harus menggunakan tabungan saya sampai akhir tahun 2011, walaupun alhamdulilah, masih ada pemasukan dari royalti buku dan kerjaan freelance.

5. Tahun keajaiban! Ya, berbagai masalah yang terkesan ‘acak’ kemunculannya dan membuat saya harus menunda keberangkatan kuliah, terilhat ‘jelas’ alasannya di bulan November. Tuhan memang hebat banget dalam mengatur segala sesuatu. Masalah itu memang sengaja dibuat agar saya menunda kuliah saya. Karena apa? Karena di akhir tahun ini diumumkan, kalau saya mendapatkan beasiswa dari University of Westminster di London, Inggris.Bayangin kalau saya tetap memaksakan diri pergi bulan September! Saya nggak akan dapat beasiswa ini kan? Hebatnya, kampus saya ini terletak di dekat Baker Street, jalan yang jadi markasnya detektif hebat Sherlock Holmes, yang ceritanya nggak pernah bosan saya baca berulang kali dari jaman SMP dulu. Oiya, saya akan mulai kuliah pada bulan Januari 2012! Rasanya lebih enak dari mimpi. Karena ini nyata! :D

Yeay, Visanya dapat!

London!!! (foto diambil dari www.britishmovers.co.nz)

Salah satu gedung kampus saya nanti di London

6. Nenek saya meninggal! Ya, ini adalah kejadian paling berat di Tahun 2011. Kita deket banget, terutama karena dia suka baca juga. Dia suka cerita seperti Sherlock Holmes dan kita suka berdebat panjang karena dia termasuk orang yang 100 persen percaya sebuah teori konspirasi yang mengatakan kalau Hitler meninggal di Garut .

Tapi, di sisi lain saya senang juga. Pertama, dia terbebas dari penyakit Kanker yang nyerang paru-paru sampai pita suaranya. Kedua, dia sempat menyelamati saya ketika tahu kalau saya dapat bea siswa. Ketiga, saya masih di Indonesia, saat dia meninggal, bahkan bisa melihat langsung ‘panggilan terakhir’ Tuhan untuknya. Terakhir, ayah saya jadi dapat tambahan teman di ‘surga’ :)

Ya, itulah 2011! Memang banyak juga yang buat kecewa, tapi tetap nggak ada yang terbekas, karena anugerah tahun ini begitu besar! Ya, ternyata saya mendapatkan ‘beking’ terhebat buat mengalahkan segala ramalan-ramalan itu, yaitu: Tuhan. *muka alim mode on*

Lalu, bagaimana dengan tahun 2012? Yang jelas saya masih menanti kejutan-kejutannya! Dan juga menanti jodoh! Haha, ujungnya curcol. *keplak kepala sendiri*

Oiya, Saya juga berjanji untuk semakin nyempetin waktu berbagi cerita di sini, di sela kesibukan kuliah nanti. Selamat tahun baru teman! :)

Daftar Donatur #1078 Merah Putih di Benua Biru

Hi, teman-teman. Saya mengucapkan terima kasih atas segala donasi yang masuk ke rekening yang sudah dicantumkan. Saya akan berusaha untuk menjaga amanah ini dan mengawasi buku Merah Putih di Benua Biru agar diterima dengan baik oleh pihak-pihak terkait yang akan membantu penyebaran buku ini ke perbatasan dan pelosok RI.

Ini adalah daftar donatur yang telah masuk. Setiap harinya, akan terus saya update. Ditunggu juga kontribusi dari teman-teman yang lain.

#1708MerahPutihBB: Untuk Perbatasan dan Pelosok Indonesia

Misi: 1708 Buku Merah Putih di Benua Biru untuk anak-anak di perbatasan dan pelosok Indonesia.

Hi teman-teman, ada yang sudah tahu mengenai Gerakan Sabantara (@sabantaraUI)? Sabantara adalah komunitas yang aktif bergerak di dalam pengembangan kawasan perbatasan NKRI. Mereka juga berjuang menyalurkan buku-buku ke Rumah Baca dan Rumah Kreatif yang ada di 12 titik Pulau-pulau Terdepan dan Perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (info: http://sabantara.web.id/). Selain Sabantara, sebenarnya masih banyak juga program lainnya yang juga aktif di kegiatan ini, misalnya Indonesia Menyala.

Di daerah pelosok dan perbatasan kekurangan berbagai bahan bacaan berkualitas. Bahkan menurut komunitas Sabantara, beberapa orang yang buta huruf (termasuk orang dewasa) memiliki keinginan kuat untuk belajar membaca, tapi sayangnya masih minimnya buku-buku yang masuk kesana.

Inilah yang jadi awal niat saya untuk membantu dengan buku saya Merah Putih di Benua Biru. Buku tentang misi budaya saya di Eropa yang bertujuan untuk membuktikan bahwa siapapun bisa menjadi duta bangsa. Buat yang belum baca ceritanya bisa cek di blog ini atau GNFI: http://bit.ly/eDEqUW

Niat ini semakin kuat setelah mendengar cerita dari Yunita Ekasari, pengajar muda dari program Indonesia Mengajar di Kabupaten Tulang Bawang Barat Lampung, yang juga pembaca buku saya.
***
From: Yunita Ekasari
To: erditya.arfah@yahoo.com

Saya masuk ke kelas empat. Guru kelas mereka berhalangan hadir saat itu. I think this my opportunity to introduce them what is dream? Ketika saya bertanya ke mereka, mimpi kalian apa? Mereka hanya diam. Mungkin mereka kaget, saya tiba-tiba bertanya tentang hal yg tak pernah mereka tahu sebelumnya. Saya mencari cara agar hal ini bukan menjadi sesuatu yang berat bagi mereka.

And yeaaahhh, I was inspired by you, mereka butuh role model agar pesan yang saya inginkan sampaikan tentang mimpi dan cita-cita bisa “nyantol” dan mereka “ngeh” what is dream and future.

I choose u, karena youu’ve made karya nyata tentang how to make ur dream come true dalam bahasa yang sederhana. Selain itu juga, karena unsur mengajar dalam buku kakak yang menurut saya akan membuat mereka excited. Karena, dari obrolan ringan saya dengan mereka, they interested in teaching so much. Apalagi kakak mengajar budaya Indonesia ke anak-anak yang non-Indonesia.

And they also proud of Indonesia much. They love Indonesia very much.

So, how was their opinion?? After I explain about u, mereka langsung bilang: Kak Erdit hebat ya bu, bisa ngajarin anak-anak asing tentang Indonesia.

coooolll statement dari mereka yang sempat bikin saya speechless.

“Saya juga mau ke eropa bu, bawa bendera merah putih”

“Saya juga mau punya mimpi bu” even though mungkin they still ask what is cita-cita.

Saya benar-benar gak bisa gambarin perasaan haru saat itu.

Entahhhh. I was very happy. When I see, they’ve had dream now.

Thank you for inspiring them. You are their hero.
***

Murid SD di Tulang Bawang Barat dan buku #MerahPutihBB


Seriously, mata saya panas baca tulisan di atas. Mereka bilang saya inspirasi mereka. Padahal, para pengajar muda dan murid-muridnya inspirasi saya, karena bisa jadi mereka memiliki kecintaan yang lebih besar dan tulus kepada Indonesia, dibanding kita (saya) yang hidup di kota besar.

Yes, they are my truly hero.

Dan saya ingin melakukan sesuatu untuk mereka. Anak-anak atau anak muda yang berada di pedalaman dan pelosok Indonesia yang saya yakin juga memiliki mimpi besar untuk Indonesia.

Inilah yang jadi alasan mengapa saya ingin mengirim 1708 buku Merah putih di Benua Biru untuk mereka yang di pelosok dan perbatasan Indonesia. Dan kenapa 1708? Ya, karena buat saya ini adalah kode cita-cita bangsa: 17 Agustus. Saya harap buku ini nanti mampu menjadi bacaan yang baik untuk anak-anak di sana sehingga memiliki semangat, lebih optimis mengejar cita-citanya dan makin cinta Indonesia.

Tapi, dengan keterbatasan dana, tidak mungkin saya bisa membeli sebanyak 1708 buku sendirian, walaupun Saya juga sudah nego ke penerbit saya untuk memberikan diskon sehingga harga menjadi 30000/pcs (harga toko buku: 42.500).

TOTAL DANA YANG DIBUTUHKAN: 1708 X 30000: 51.240.000 (*saya masih nego harga lagi untuk jadi 25 ribu sebenarnya kalau berhasil mereaih total pemesanan minimal 1000 pcs)

Saya mengajak teman-teman, baik yang sudah baca atau belum baca buku saya untuk berkontribusi dan melakukan donasi untuk mewujudkan program ini. Bagi teman-teman yang mau memberikan sumbangan bisa kirim dengan subjek/detail transfer ‘1708 Merah Putih’ ke:

1. BCA No. Rek: 066.2327296 atas nama Erditya Nur Arfah
2. MANDIRI: No. Rek: 1670000279561 atas nama Erditya Nur Arfah


Deadline untuk mengirimkan donasi adalah: 20 Juni 2011.

Semua uang yang terkumpul akan digunakan untuk membeli buku Merah Putih di Benua Biru yang akan disalurkan terutama melalui gerakan Sabantara dan gerakan-gerakan sejenis lainnya yang juga terpercaya. Aliran dana yang masuk akan saya laporkan dengan transparan melalui blog saya ini setiap harinya.

Semoga semua kontribusi dan donasi teman-teman menjadi berkah dan dibalas berkali-kali lipat . Apalagi kalau ternyata menjadi berkah buat murid-murid dan orang-orang di sana. Amin.

Oiya, mungkin ada yang bertanya ‘kenapa harus buku Merah Putih di Benua Biru’? Ga harus kok. Kalau ada yang mau bantu dengan buku lain, bisa juga langsung menghubungi Sabantara atau program lainnya seperti Indonesia Menyala (@Penyala) dan lainnya yang kalian percaya.

Jika ada yang mau bertanya silahkan langsung hubungi saya.

Salam,

Erditya Arfah
@erdityaarfah
erditya.arfah@yahoo.com

THE HERO!

25 tahun hidup, saya punya berbagai pahlawan, dari yang masih hidup, sudah meninggal, atau tokoh fantasi sekalipun (YEAH, I’AM THAT WEIRD) :D

Alm.Ayah. Dia mengajarkan hidup sederhana. Dia mengajarkan kalau ikan asin lebih enak disbanding steak. DIa mengajarkan wayang golek tetap jadi tontonan yang asyik, walaupun saya dipaksa juga belajar alat musik modern, gitar elektrik.

Conan. Ya, detektif Conan. Dia mengajarkan bahwa menjadi cerdas itu ada gunanya kalau bisa membantu orang lain . Dalam hal ini kasus yang dia bongkar.

Edison.
Dia berikan contoh bahwa sukses itu bukan sekedar bakat dan otak, tapi kemampuan untuk tidak menyerah.

Newton. Kisah hidupnya membuktikan bahwa kejadian simpel pun bisa menjadi inspirasi ilmu besar. Inget kan dia menemukan teori gravitasi saat melihat apel terjatuh dari pohonnya?

Doraemon. Ya, dia mengajari pentingnya mimpi, kreativitas dan inovasi.

Selain mereka masih banyak lagi tokoh-tokoh yang saya kagumi dan bisa dijadikan contoh. Mulai dari Bambang Pamungkas, Ali Alatas, Jusuf Kalla, Bono U2, Nelson Mandela, dan sebagainya.

Tapi, sebanyak apapun hero yang kita kagumi, ada satu hero yang menurut saya paling penting dan seringkali dilupakan atau tidak pernah disadari. Orang itu adalah;

SAYA SENDIRI.

Ya, saya sendiri

Tunggu! Jangan stop membaca tulisan ini atau kalian akan menganggap saya makhluk paling narsis dan menggelikan karena memuja diri sendiri!

Coba renungkan terlebih dahulu maksud saya menulis tulisan

Satu detik.

Dua.

Tiga.

………

Sudah? Ok, ini maksud saya.

Sebagai manusia, wajar kita belajar dari kisah-kisah hidup orang lain. Mempelajari sukses orang lain. Mempelajari kebahagian orang lain. Kita kagum! Tapi, tetap yang menentukan kesuksesan kita adalah:

Diri kita sendiri.

Di sinilah poin yang saya tulis di atas bahwa kita adalah hero bagi kita sendiri.

Bukankah Allah juga bilang “Tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mengubah dengan tangannya sendiri. Tuhan saja sudah ngomong seperti itu, tapi kadang kita terlalu meremehkan diri kita sendiri dengan misalnya: gampang menyerah.

I decided long ago, never to walk in anyone’s shadow
If I fail, if I succeed
At least I’ll live as I believe
No matter what they take from me
They can’t take away my away dignity
Because of the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

Lirik lagu The greatest love of all dari Whitney Houston di atas selalu jadi pengingat jika saya gagal. Kalau gagal sekali, bukan berarti gagal selamanya kan? Sekali gagal, bukan berarti kita nggak akan sukses dan meraih mimpi kita. Yang penting, kita terus belajar dari kesalahan dan terus eksplor diri kita sendiri, dan nggak menjadikan diri sendiri ‘subjek kesalahan’.

Bersyukur dengan kelebihan, kekurangan, keunikan, diri kita sendiri. Let’s love and explore more ourselves.

Don’t pray for easy life. Pray to be a stronger man (JFK)

Mengapa?

Karena kita adalah hero untuk diri kita sendiri dan nantinya siapa tahu akan menjadi hero buat orang lain. :D

****
Btw, minggu depan saya akan nulis dengan tema ‘Belajar dari Komik’ dan ‘Indonesia: Rumah Bersama.; Tunggu yakkk!!

LET’S MAKE OUR OWN STORY!

Semenjak buku ‘Merah Putih di Benua Biru’ terbit, ada banyak tanggapan yang masuk. Gue bersyukur, dalam hidup gue bisa menerbitkan buku dan bisa berbagi melalui pengalaman ini. Dengan berbagi cerita, rasanya gue merasa berguna dan punya andil buat kehidupan orang lain.

Sejak itu, mulai masuk berbagai tanggapan ke gue. Ada berupa pujian yang bikin gue terbang tinggi, kecewa yang bikin gue ‘meluncur’ ke bawah tapi membuat gue sadar untuk terus belajar, sampai ada komplen yang bikin gue heran garuk-garuk kepala.

Nah, kali ini gue mau nulis soal komplen yang bikin gue heran tersebut. Ini salah satu kasusnya:

‘DIT, BULLSHIT LAH TULISAN LO. GW UDAH COBA NGIKUTIN CARA LO, TAPI GAGAL. DAN GW YAKIN BUKAN GW DOANG YANG GAGAL NGIKUTIN CARA LO. LAIN KALI NGASIH TIPS YANG BENER DONG BUAT DAPETIN DUIT ATAU PERGI GRATIS’

Ebuset! Astagfirullah!

Sebagai manusia biasa, normal, dan punya emosi, baca email yang masuk seperti ini kadang bikin emosi, ketawa, sekaligus sedih. Kalau, jiwa antagonis gue sedang dominan mungkin akan gue jawab ‘Hey go get your own life, Boy!’ atau ‘Siapa juga yang nyruh lo ikutin cara gueeeee!’ :D

Tapi kira-kira ini apa yang ada di pikiran gue:

Alhamdulilah kalau cara gue diikutin ‘plek-plekan’ dan syukur bisa berhasil juga. Senang banget! Tapi, bukan itu tujuan gue menulis buku ini. Tujuan dari buku ini bukan agar para pembaca gue melakukan hal yang sama seperti yang gue lakukan baik dalam mencari donatur/sponsor ataupun soal bagaimana kita menunjukkan rasa cinta kepada Indonesia. Kenapa?

Karena, gue percaya tiap orang punya cara dan sukses versi sendiri.

Tiap orang punya ceritanya sendiri. Dan tiap orang bertanggung jawab sendiri atas cerita yang dia inginkan. Tentu tanpa harus jadi takabur dan melupakan Tuhan.

Misal. Gue terinspirasi banget sama ilmuwan-ilmuwan jenius macam Einstein dan Edison. Mereka hebat. Nah, sekagum-kagumnya gue sama mereka, ga akan mungkin lah gue jadi fisikawan seperti Einstein. Percaya nggak percaya, dari 50 soal ulangan umum fisika, gue pernah dapat nilai 0.25. So, dari 50 soal, Cuma 2 nomer yang bener -_-. Gue akan gagal kalau ngikutin cita-cita dan cara ‘plek-plekan’ seperti mereka.

Tapi ada value universal yang bisa diambil dari kisah mereka:

Kejeniusan mereka bukan hanya karena mereka terlahir jenius, tapi lebih karena kemamuan mereka buat nggak menyerah. Dan Tuhan akan memberikan mereka jalan.

Yak, tiap orang punya versis sukses sendiri. Gue, orang tua kita, lo, Einstein, Newton, Habibie, kita semua.

Ok, misalkan anggap saja kita buat persamaan sukses (versi lo sendiri tentu) = X.

Nah, tentu cara kita mencapai ‘X’ nggak harus sama kan. Misal, gue menempuh cara A, B, C, dan langsung dampai ke X Ada juga yang dari A, bisa langsung loncat mencapai Z. Adajuga yang harus sampai muter-muter sampai ‘Y,Z, balik lagi ke A, sampai akhirnya menemukan faktor X= Suksesnya’.

Cara boleh beda, tapi yang paling paling penting, kita mencari nilai-nilai universalitasnya dalam kesuksesan seseorang mialnya: selalu optimis, kerja keras, rendah hati saat mencapai sukses, selalu berdoa dan pasrah, dan sebagainya.

Gue juga masih mencari jalan menuju apa yang gue inginkan. Yuk, kita sama-sama saling menginspirasi untuk mencapai sukses versi kita sendiri.Let’s make our own story. Cerita yang bagus tentunya, yang bisa jadi pelajaran dan berkah buat orang lain. Amin. 

Kuis #MerahPutihBB AGAIN!!!

Hi, teman-teman!! Nah, kali ini gue akan ngadain dua kuis #merahputihbb sekaligus. Kalian boleh ikut salah satunya atau dua-duanya sekaligus. Nah, sudah siap?????? Beneran sudah siaaaap! Yak, inilah dua kuisnya:

1.#MPBBReporter

Nah, sebagai #MPBBReporter kalian harus:

1. Menemukan dan melaporkan dimana buku merah putih di benua biru terletak di toko buku. Twitpic fotony, mention ke @erdityaarfah dan @bukune dan berikan laporan kalian (jangan lupa juga hashtag ##MerahPutihBBReporter). Misalkan:

‘LAPOR @erdityaarfah dan @bukune, bukunya sudah ada di rak ini nih di Gramedia GI. Wah pasti kembang kempis idungnya liat foto ini #MPBBReporter’

2.Foto kalian dengan buku #merahputihBB bersama orang tua kalian, sodara, atau teman2 di rumah dengan gaya yang paling Indonesia banget. Ini untuk mastiin kalau kalian emang sudah punya buku gw :p (HAHAHA, ketawa monster!)

Jadi harus ada dua foto yaa!!!

Hadiahnya adalah:

A. Lima Kaos dari Hiduplah Indonesia Raya:

B.Hadiah Hiburan – 30 Pin – The Indonesian Virus! (gambar nyusul)

Tujuan dari kuis ini, karena gw sering banget liat buku gw salah naro mulai dari pariwisata (msh gw bisa tolerir), sosial politik (bareng buku2 Hitler, Stalin, dkk), sampai Ensiklopedi -_- . Seharusnya, buku Merah Putih di Benua Biru ada di barisan rak novel/novel remaja. Nah, gw menghargai banget buat kalian yang mau ikut kuis ini dan bantu gw cek ini semua.

2.#ExploreMerahPutihBB
Gw juga mau ngundang 10 orang dari pembaca merah putih di benua biru, untuk main angklung bareng, makan-makan, sama discuss soal menulis dan apapun!!!

Ini khusus untuk Jabotabek dan Bandung. Untuk kota lain, silahkan kalau mau ikut, tapi akomodasi ke Bandung tidak ditanggung (kecuali kalau kalian ke Jakarta dulu. Nah dari Jakarta ke Bandung ditanggung). Caranya:

Buat review merah putih BB di notes facebook/blog kalian.
- Untuk notes di FB, tag ke teman2 kalian dan FB Saya (Erditya Arfah)
- Kalau mau nulis di blog, kirimkan link blog kalian melalui FB atau twitter ke account saya di (Twitter: @erdityaarfah).

Selain gathering, akan ada 20 pin ’The Indonesian Virus’ untuk kalian!!

Note untuk perjalanan pemenang Jakarta-Bandung akan ditanggung dan tanggal gathering akan segera dikonfirmasi. Kira-kira akhir Mei atau Awal Juni!

Gue tunggu kalian sampai Jumat 13 Mei 2011!!!

Thanks guys!!!

1st On-Air: Panggung Merah Putih di Benua Biru

Untuk pertama kalinya saya on-air di stasiun radio, dalam sebuah acara yang disebut The Sound of Movement. Sebuah acara baru dari Oz Radio Jakarta yang dipandu Abenk SoulVibe. Ini yang menyebabkan saya bolak-balik ke toilet untuk melakukan ‘itu’. Woy, jangen ngeressss! Pipis maksudnya! Sedikit katro memang, apalagi sebagai lulusan Komunikasi Unpad yang harusnya terbiasa dengan urusan seperti ini.

Tapi selama 1 jam, saya merasakan suatu momen yang menyenangkan. Excited! Dari beberapa pertanyaan yang masuk, ada salah satu pertanyaan yang saya ingat terus, yaitu:

‘Bisa share inspirasi dan alasan lo melakukan perjalanan ini dan membuat buku Merah Putih di Benua Biru?’

Saya sudah menjawab saat itu, tapi saya akan berbagi jawaban saya yang lebih detail buat yang belum sempat dengerin. Dan ini Jawabannya:

Saya suka banget nonton Timnas Indonesia di Gelora Bung Karno. Tiap lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh sekitar 80 ribu orang rasanya bergetar! Di atas ‘panggung hijau’ tersebut, 11 pemain timnas berjuang dengan dukungan, nyanyian, tepukan, bahkan cacian. Ya, itu semua adalah bentuk kecintaan kita untuk mereka.

Sayang, saya bukan Bambang Pamungkas. Walaupun rambut saya berponi, tapi saya juga bukan Ahmad Bustomi. Saya juga nggak punya kaki lincah atau wajah ganteng Irfan Bachdim.

Mereka jadi inspirasi masyarakat Indonesia.

Selain para atlet di atas, masih ada para seniman atau pemusik macam Djaduk Ferianto, Trie Utami, Dwiki Dharmawan, atau Alm.Elfa Secioria, yang sering membawa nama Indonesia di kancah Internasional.

Kita juga punya para pelajar jenius yang sudah menjadi juara olimpiade Fisika, Matematika, dan sebagainya. Banyak pula kelompok pelajar yang memenangi kompetisi tari, seni, atau musik di berbagai kompetisi level dunia.

Mereka semua adalah duta Indonesia.

Saya iri.

Saya mau jadi seperti mereka. Walaupun bukan atlet, bukan seniman, bukan penyanyi, tapi saya juga mau membawa nama Indonesia seperti mereka.

Inilah yang akhirnya jadi salah satu alasan saya pergi ke Eropa dan mengajarkan budaya Indonesia di sana, walaupun saya bukan seniman atau budayawan. Selama di sana, saya membuat ‘panggung’ saya sendiri. Panggung yang tentu nggak semegah Gelora Bung Karno.

Tapi saya tetap memiliki semangat positif untuk mengenalkan Indonesia di sana. At least, saya ingin membuktikan bahwa siapapun (orang biasa sekalipun) bisa punya peranan untuk membawa nama Indonesia, walaupun dengan keterbatasan yang banyaknya luar biasa.

Ternyata, para murid di Polandia sangat antusias dengan apa yang saya lakukan. Hal simpel, asal pakai hati, ternyata bisa juga ‘menyentuh’ mereka. Ini yang bikin saya makin mantap buat nulis buku #MerahPutihBB. Apalagi kalau mengingat mata jujur mereka yang begitu amaze-nya main angklung atau senyuman tulus saat bermain drama absurd dengan wayang golek, atau wajah bingung mereka ketika melihat gerakan tari saman atau saat membayangkan mencoba buah durian.

Rasanya sayang kalau cerita ini berakhir di ingatan saya belaka. Selain itu masih ada alasan lain….

Ketika Firman Utina Dkk berlaga di piala AFF, 80 ribu pasang mata, hati, mata dan telinga, bahkan indera perasa pun ikut merasakan setiap momen di lapangan hijau. Belum lagi ratusan ribu penonton lainnya dari layar kaca. Ketika Timnas Indonesia menang, seluruh masyarakat akan merasakan kegembiraan luar biasa. Begitu juga sebaliknya saat kalah.

Saya sadar panggung saya nggak sebesar itu. Di Polandia saya hanya mengajar maksimal 20-30 murid tiap kelas. Walaupun sehari bisa sampai 4-5 kelas, tetap saja sangat jauh jika dibandingkan dengan level atlet Indonesia yang mewakili Indonesia di ajang internasional.

Oleh karena itu, buku ini ibarat ‘alat’ yang memegahkan ‘panggung’ saya. Memperbesar jangkauan ke orang lain, ke pasang mata, kuping, telinga dan hati. Walaupun saya nggak dilihat banyak orang ketika melakukan aktivitas di Polandia, tapi dengan buku ini diharapkan bisa membuat orang lain merasa hadir di sana. Merasakan rasa bangga, gembira, sekaligus terharu yang saya rasakan saat melihat ketulusan mata para murid yang kagum akan Indonesia, walau dengan hal simpel sekalipun.

Dengan buku ini diharapkan, para pembaca terutama anak muda (tanpa perlu saya datang ke tiap sekolah atau universitasnya) bisa merasakan semangat bahwa siapapun bisa menjadi duta bangsa dengan cara yang kita suka dan bisa.

Ya, rasanya aneh kalau membawa nama Indonesia atau menjaga budaya kita yang kaya hanya dibebankan ke para seniman, artis, jenius fisika, atau atlet saja. Itu tugas kita, saya, kamu, kami, semuanya.

Caranya bisa beda, tapi semangat positifnya harus sama. Let’s do it. :)

Merah Putih di Benua Biru – Januari 2011 –

Ahaaay! Setelah melalui pertapaan panjang akhirnya novel pertama gue terbit juga! Buku ini bercerita mengenai misi budaya yang gue lakukan selama di Polandia. Gue bukan maestro seni, budaya, musisi, atau apapun. Jadi, banyak kejadian, cerita, dan petualangan yang beda, unik, konyol, dan lucu saat mengenalkan budaya Indonesia ke para siswa di sana.

Ada banyak momen yang bikin gemetar, misal saat ngeliat anak-anak di sana ternyata amaze sama angklung kita. Drama wayang golek yang dilakukan spontan oleh para murid deengan cerita-cerita konyol mulai dari pangeran kodok, Cinderella, sampai perang dunia ke dua. Walaupun masih jauh dari sempurna, gue harap bisa ngebuktiin kalau siapapun (ya kita semua) bisa jadi duta bangsa Indonesia.

Selain itu, masih banyak cerita petualangan bonus yang seru dan konyol di negara Eropa lainnya. Untuk review, bisa juga cek di Good News from Indonesia di: http://bit.ly/eDEqUW

Eniwei, di blog ini juga ada beberapa cerita yang dimasukkan ke buku (tapi tentu yang di blog ini masih ‘mentah’ banget :)

Ini juga ada beberapa pendapat dari para Endorser tentang buku Merah Putih di Benua Biru:

‘Saya menikmati novel ini. Dan lebih dari itu, saya bangga ternyata anak-anak Indonesia sangat cinta bangsanya dan berani menunjukkannya kepada bangsa lain. Di novel ini, kita juga bisa lihat kalau anak Indonesia itu ingin menunjukkan kreativitas dan semangat persaudaraan kepada bangsa-bangsa lain. Melalui caranya, Erdit telah membantu tugas saya di bidang kebudayaan. Terima kasih’. Hazairin Pohan (Duta Besar Indonesia untuk Polandia 2004-2009)

‘Usaha Erdit untuk bertualang ke luar negeri justru membuat dia jadi lebih mengenal negerinya sendiri. Tapi bagian terbaik dari buku ini bukan hanya pemahaman tentang Indonesia dan persepsinya di mata dunia, melainkan cara bertutur Erdit yang lucu dan seperti kita sudah kenal lama dengan dia. Sukses untuk bukunya, gue pribadi seneng baca bukunya :) Pandji Pragiwaksono (Presenter TV, Penyiar, Musisi, dan Penulis Nasional.Is.Me)

‘Perjalanan yang menyenangkan. Ada tawa, persahabatan, dan perjuangannya memperkenalkan budaya Indonesia kepada warga negara asing. Buku ini adalah bukti bahwa kata-kata Erdit benar: Siapapun bisa menjadi duta bangsa!’ Alanda Kariza (penggagas Indonesian Youth Conference & Duta Indonesia untuk jaringan Global Changemakers)

Dapatkan di toko buku terdekat mulai pertengahan JANUARI 2011!

Oiya, bakal ada banyak kuis berhadiah buku MERAH PUTIH DI BENUA BIRU dan juga kuis berhadiah kaos dari www.hiduplahindonesiaraya.com mulai dari 7 Januari 2011!

Mau ikutan? Update terus di @erdityaarfah dan @bukune guys!

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.